Perempuan Versus Perempuan

Kontributor : Dayzky 

Apresiasi untuk cerpen “Matahari Melahap Madu” karya Danarto dalam Matra, September 1990 

Cerpen ini mengisahkan perseteruan antara dua perempuan–ibu dan anak–melalui sudut pandang narator orang pertama laki-laki, yang merupakan suami dari si ibu atau sebut saja Istri, sekalian ayah dari si anak yang bernama Putri. Perseteruan itu sudah dimulai sejak Putri berada di dalam kandungan. Istri ingin menggugurkan jabang bayi itu, mengatakan pada suaminya bahwa dirinya belum siap jadi ibu. Jelas Suami tak setuju. Istri jadi uring-uringan. Berbagai upaya dilakukan Suami, seperti mengundang teman-teman Istri ke rumah dan mendiskusikan persoalan itu secara psikologis. Anak itu pun dibiarkan hidup, namun perseteruan terus berlanjut.

Putri tumbuh menjadi remaja putri pembangkang, khususnya pada ibunya. Dengan ayahnya, hubungan mereka dingin saja. Hanya pada kedua adiknya Putri dapat saling menyayangi. Berkat perbuatan salah seorang adik Putri, si narator tahu bahwa telah terjadi suatu peristiwa pertengkaran yang heboh di antara Putri dan ibunya. Karena gosip bahwa Putri punya banyak pacar, ia hendak dinikahkan cepat-cepat oleh ibunya. Tentu saja Putri melawan. Barangkali kalau kita menyaksikan sendiri adegan pertengkaran tersebut, hati kita bakal tercetar, apalagi oleh kata-kata Putri  yang … ah, lebih baik dibaca sendiri.

Suami pun buru-buru pulang dan memprotes keputusan Istri. Namun kuasa Istri yang unggul. Malah ia sudah menyebarkan undangan ke mana-mana. Suami berusaha menggagalkan itu, tetapi yang gagal malah dirinya. Terasa benar betapa tidak berdayanya sosok Suami dalam cerita ini. Sesaat pingsan, sebentar kemudian dirawat di rumah sakit, berikutnya, eh, terkapar lagi. Sepanjang cerita ia seperti terseret-seret saja oleh tingkah karakter lain yang dominan–Istri dan … Putri.

Yeah. Hari pernikahan terjadi juga. Kita mungkin mengira bahwa Putri sudah tunduk pada ibunya. Ternyata belum. Pertama, Putri tahu-tahu lenyap dari acara pernikahannya. Kedua, Putri tahu-tahu meninggal akibat serangan jantung. Ketiga, Putri tahu-tahu hidup lagi! Di situ saya merasa bingung.

Untung saja ini cerpen lawas, yang ditulis oleh pengarang kenamaan Indonesia, dan pernah dijadikan bahan penelitian, yang beberapa di antaranya boleh minta sama Mbah Google. Di situ kita sadar bahwa kehadiran kritik sastra itu penting. Adakalanya suatu cerpen tidak bisa dimaknai sepintas lalu (apalagi oleh kita-kita yang cuma pembaca awam), melainkan membutuhkan perangkat berupa teori tertentu yang barangkali cuma peneliti sastra yang tahu.

Saya menemukan tulisan berjudul “Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis” karya S. E. Peni Adji, yang mulanya termuat dalam jurnal Humaniora volume 15, nomor 1, Februari 2003. Di situ ada ulasan mengenai beberapa cerpen Danarto, di antaranya yaitu “Bulan Melahap Madu”–judul cerpen ini setelah diterbitkan dalam bentuk buku oleh Pustaka Firdaus. Dikatakan bahwa Istri dalam cerpen ini mewakili paham feminisme baru, yang salah satu tujuannya adalah memperjuangkan hak perempuan untuk memiliki anak atau tidak. Dengan demikian, melakukan aborsi atas alasan tersebut merupakan hak perempuan. Paham ini bertentangan dengan pandangan Suami yang konservatif. Menurutnya mengandung itu toh soal biasa bagi perempuan. Dia bahkan merasa berdosa jika membiarkan kemauan Istri menggugurkan kandungannya. Sungguhpun demikian, Suami  sebagai lelaki seakan dilemahkan oleh sikap ala feminisme-baru istrinya itu.

Tetapi, cerdiknya , penulis menampilkan sosok Putri untuk menandingi sikap Istri. Yang menarik bagi saya: jika Istri menuntut haknya sebagai perempuan menurut paham feminisme baru, maka Putri menuntut haknya yang asasi–yaitu untuk dibiarkan hidup! Dalam cerpen dikisahkan bahwa dalam keadaan hamil Istri sempat naik ke belakang truk dari Jakarta ke Yogyakarta, juga menghubungi dokter, meminta jampi-jampi pada dukun, hingga melompat-lompat ke sana kemari. Tetapi kandungan itu tetap tegar, sebagai batu penunggu gunung, diam dan tak peduli. Hak feminis versus hak asasi manusia, terasa wow enggak sih? Ironis lagi karena Putri sendiri seorang perempuan.

Agak lucu ketika kritikus kita mengakui bahwa akhir cerpen memang agak sulit dinalar. Tetapi kita tetap bisa mendapat penjelasan. Jadi, kematian Putri cuma kamuflase. Ia hidup lagi untuk menyampaikan maksud penulis secara tersirat. Apakah itu? Selamat penasaran dan membaca cerpen sekalian kritiknya 😉

Referensi

https://berjurnalitan.wordpress.com/2015/12/09/cerpen-danarto-matahari-melahap-madu-matra-september-1990/

http://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/download/771/616

Dayzky

Da aku mah apa atuh

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s