Kepada Penyair

Kontributor : Vinett

Apresiasi untuk cerpen “Sebotol Hujan untuk Sapardi” karya Joko Pinurbo dalam Kompas, 7 Juni 2015

Entah apa hubungan antara Joko Pinurbo dan Sapardi Djoko Damono selain pertemanan yang terjalin dalam satu komunitas Utan Kayu, dalam sebuah buku puisi Joko Pinurbo, penyair hujan tersebut menuliskan catatan khusus buatnya. Mungkin Jokpin punya kekaguman tertentu hingga membuatnya tidak cukup sekali menulis cerpen dengan Sapardi ada di dalamnya. Tidak banyak memang yang sempat saya baca, akan tetapi bentuk khas daripada cerpen beliau seperti wujud dedikasi kepada sahabat-sahabatnya di lingkar seniman dan penyair. Dalam beberapa cerpennya ia seringkali membawa nama-nama itu, sedikit yang saya ingat adalah tentang sosok seniman Butet Kartaradjasa dan kegemarannya mengucap “Asu”, menjadikannya cerpen berjudul “Jalan Asu”. Begitupun Seno Gumira Ajidarma dengan amplop berisi senjanya yang muncul dalam cerpen “Sebotol Hujan untuk Sapardi”. Lalu dalam puisi panjang yang hampir bisa dibilang sebagai cerpen berjudul “Laki-laki Tanpa Celana”, ia menukil dan mempreteli beberapa puisi Sapardi, seperti “Pada Suatu Hari Nanti”, “Gadis Kecil”, “Hujan Bulan Juni”, dll. Setidaknya membaca cerpen ini jadi membuat saya baca-baca sedikit puisi para penyair ini.

Dalam cerpen “Sebotol Hujan untuk Sapardi”, saya bukan hendak menelaah tulisan beliau sebagai bentuk prosa atau sajak, karena saya awam soal hal itu. Sederhananya, walaupun Joko Pinurbo adalah seorang penyair namun karena bentuk tulisan ini adalah cerpen maka dengan bahasa cerpenlah saya melihatnya. Dengan hadirnya SGA dalam narasi jenaka dan tingkah Sapardi yang komikal menggarisbawahi sesuatu tentang pertemanan antara mereka. Saya melihatnya sebagai murni sebuah cerita, bagaimana sosok seniman di mata seniman lainnya, dan proses sederhana yang kadang mengilhami lahirnya sebuah karya. Tokoh dalam cerpen ini menyebut dirinya ‘Saya’, mungkin adalah Jokpin sendiri, mungkin juga penggemar Sapardi yang aktif dalam komunitas sastra. Dengan narasi yang sederhana namun menggelitik, diceritakan ia ingin sekali bertemu sang penyair tetapi awalnya merasa minder hingga memilih untuk mengurungkan niatnya. Namun gara-gara kalimat SGA ia kembali bertekad untuk mendatangi rumah sang penyair. Di sanalah ia menyaksikan proses berpikir atau katakanlah proses kreatif Sapardi saat mencari ide. Entah saya saja atau apa, tapi Jokpin seperti sedang hiperbolis, seperti sedang melempar guyonan, duh maaf saya tidak bisa mencari kata yang tepat. Bahwa Sapardi sedang bicara dengan Hujan seperti pada syair-syairnya, sedang mendengarkan bisik-bisik antara tanah dan hujan. Seperti memang ia adalah penyampai pesan hujan kepada manusia lewat kata-katanya. Dan begitulah ia kembali pulang karena mengganggu seniman sedang berpikir tidàklah bijak menurutnya.

Lalu ‘Saya’ menemukan ‘Senja’ dalam amplop. Yap, senja yang itu. Senja yang dipotong dari langit dan dikirimkan Sukab kepada Alina melalui pos. Senja milik Seno, siapa lagi. Di sini Jokpin kembali membuatnya sebagai lelucon dalam narasi berikut.

Dalam perjalanan pulang saya menemukan sebuah amplop berisi sepotong senja tergeletak di dekat tiang listrik. Pastilah itu sepotong senja yang dikirim Seno untuk seseorang yang sangat merindukannya. Burung yang diminta untuk mengantarkannya ke tujuan agaknya kemalaman, kemudian menjatuhkannya begitu saja di tengah kemacetan jalan. Saya ambil amplop itu, saya selipkan di saku baju. Sesampai saya di rumah, saku baju saya belepotan oleh cairan berwarna kuning kemerah-merahan. Senja yang luntur. Senja orang-orang Jakarta. “Itu bukan senjaku,” kata Seno yang saat itu ternyata sedang tidak berada di dunia nyata.

Pada kunjungan kedua tokoh saya, ia berhasil menemui Sapardi yang hanya membuka pintu dan berkata, Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar,” yang merupakan puisinya berjudul “Tuan”. Puisi sederhana yang berawal dari ide sederhana, tentu tafsir sebuah puisi tidak bisa dikatakan sesederhana itu pula. Lantas pada pertemuan ketiga ia akhirnya bisa benar-benar tatap muka dengan sang idola. Ia menghadiahkan botol berisi hujan yang mewakili sang penyair dan senja milik Seno yang dimasukkan ke dalamnya. Entah dalam bahasa penyair, simbol apakah yang dimaksudkan oleh Jokpin sebenarnya, botol berisi hujan dan senja mungkin saja mewakili romantisme para seniman. Kenyataannya memang Hujan-nya Sapardi dan Senja-nya Seno oleh sebagian penyair-penyair muda di sosial media utamanya telah menginspirasi mereka. Hujan dan warna jingga senja yang menyembur dari botol menghilang lalu hilang berubah menjadi bunga berwarna jingga di dalam kolam. Lagi-lagi saya gagal memahami transformasi simbol yang dimaksud. Tapi pastilah ada maksud bunga itu muncul di akhir cerita dan lagi-lagi kutipan puisi “Yang Fana Adalah Waktu. Kita Abadi”

Sepanjang cerpen ini banyak sekali kutipan dan nukilan puisi yang sengaja dimunculkan, meminjam istilah menggunting dan menempel pada proses mengkliping. Ijinkan saya berpraduga bahwa ini agenda penulis untuk menggeret para pembaca cerpen untuk juga mengapresiasi karya-karya puisi. Dugaan paling sederhana karena penulis cerpennya adalah penyair, maka ia menulis apa yang dekat dengan dunianya. Bukankah seringkali kita melakukan hal yang sama, karena nantinya kita harus tahu apa yang sedang kita tulis.

Kesan saya pribadi sebagai pembaca yang awam dengan dunia puisi, seperti yang sudah saya ungkapkan di awal, merupakan tribute untuk Sapardi yang mewakili dunia perpuisian dan SGA yang seorang cerpenis kawakan. Mengenai makna puisi yang ada dalam cerpen ini dan hubungannya dengan cerita, hemat saya hanya bisa digali oleh mereka yang mengerti, yang kepekaan akan pemaknaannya setingkat lebih tinggi dibanding cerpen sederhana yang selama ini kita coba buat. Saya sendiri belum mampu untuk itu. Sudah sering mungkin kita mendedikasikan sebuah tulisan kepada orang-orang di sekitar dengan alasan yang beragam. Kekaguman, apresiasi, kecintaan, kritik, dan pandangan asalnya dari keinginan untuk menyampaikan pesan atau informasi, pesan sekecil apa pun yang secara sengaja tak sengaja kadang muncul dalam proses menulis. Dan tentu saja tergantung pembaca bisa menangkapnya atau tidak. Bahasa pengarang mungkin seperti itu, bertukar pesan lewat diksi dan kalimat. Jikapun gagal diungkap maksudnya, setidaknya banyak pembaca lain yang ikut menikmati ceritanya.

*****

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s