Yang Penting Usaha

Kontributor: Cita

[Apresiasi untuk cerpen “Simpul Tali yang Artistik” karya Arki Atsema]

 

Hidup bertetangga ada pahit manisnya. Ketidakpedulian sekaligus keingintahuan akan orang sebelah bercampur menjadi satu. Inilah salah satu dari potongan kehidupan yang ingin disampaikan penulis, Arki Atsema, dalam cerpen berjudul Simpul Tali yang Artistik.

Tersebutlah ada dua orang pemuda, bernama Zul dan Marin, yang tinggal satu lantai di sebuah apartemen. Zul, seorang pemuda biasa, sedang membuat simpul tali yang artistik di kamarnya – alat gantung diri. Belum sempat ia menyelesaikan perdebatan batinnya ketika Marin mengetuk pintu. Dan seterusnya. Jika ingin disingkat, kurang lebih isi cerita berputar pada kegalauan Zul yang harus batal karena ulah Marin.

Berikut saya taruh beberapa cuplikan yang membuat cerpen ini harus kalian baca.

“Kenapa harus gelap-gelapan?” Marin tidak pandai berbasa-basi.

“Tadi kubilang, aku habis tidur,” Zul menjawab.

“Dengan TV menyala keras-keras?”

Dan tiba-tiba saja suara TV yang menyala keras-keras itu menggoyang gendang telinga Zul dalam kesadaran yang baru saja tiba seperti habis dari toilet. TV sedang menyiarkan acara kuis tebak-tebakan. “Oke mari kita lihat nilainya saat ini, regu merah masih memimpin dengan poin 100, sementara regu biru…”

Pertama, pembaca akan merasa geregetan terhadap Marin. Setidaknya saya merasa begitu. Dari awal pertemuan saja sudah menggemaskan. Tingkahnya yang polos atau sok polos itu sangat mengganggu, sekaligus membuat pembaca penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Awalnya Zul masih bersabar, tidak menunjukkan kejengkelannya. Toh Marin “hanya“ pinjam barang. Masalahnya adalah jika transaksi pinjam meminjam itu melampaui frekuensi kewajaran. Itulah yang terjadi dalam cerpen ini.
Penulisnya dengan pandai membawa cerita ke sana-sini, lalu mengembalikannya ke kenyataan. Kenyataan bahwa Zul bertetangga dengan orang bernama Marin.

            Zul benar-benar mengatakan perasaannya. Bukan hanya tidak tertarik untuk membuat kue tart, tapi juga tidak tertarik untuk mendengarkan Marin berlama-lama lagi membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Sama halnya dengan tidak tertarik untuk menemui siapapun juga sekarang atau membuang waktu ketidakjelasan yang dihadirkan oleh lawan bicaranya itu. Maka ia merubah tatapannya menjadi lebih tegas. Menyiratkan pada Marin, kenapa masih ada di sini?

Bagaimana? Capai membaca kutipan di atas? Bisa jadi. Kalimat yang digunakan penulisnya memang tak tanggung-tanggung panjangnya. Di cerpen-cerpen yang lain pun begitu. Mengutip komentar di kemudian.com, meski seperti bercabang, cerita ini mampu menjaga fokusnya. Seperti sudah disinggung di atas, pembaca diajak menyelami hal-hal lain terlebih dahulu. Hal-hal remeh yang terlupakan macam celana jeans kesukaan. Baru setelah itu kembali ke jalur utama.
Dalam cerita ini ada sebuah televisi yang diputar. Televisi ini tengah menyiarkan acara kuis. Mengutip lagi salah satu komentar di kemudian.com, acara kuis televisi ini bukannya mengganggu, malah membuat cerita ini makin terasa nyata. Sesuatu yang mesti ada di acara kuis terpadu alami dengan isi cerita. Sesuatu itu adalah tepuk tangan dan gedoran pintu.

           “TEET!”

           “Ya, regu merah?”

           “Mmm… ”

           “Waktu habis! Pertanyaan dilempar ke regu biru, silahkan.”

           “Mmm, The Doors?”

           “Ya, jawabannya benar!”

           “PLOK PLOK PLOK!”

           Lalu kemudian bunyi “dob dob dob” lagi.

           Pintu kamar bergetar lagi.

Mengapa judul apresiasi ini ‘Yang Penting Usaha’? Semua ada penjelasannya di akhir cerita ‘Simpul Tali yang Artistik’ ini. Sesuatu yang bisa dibilang di luar dugaan. Penyelesaian cerita yang – lagi-lagi kata ini – menggemaskan. Di situ saya – dan mungkin juga kamu, yang sudah ataupun yang akan baca – hanya bisa berkata: yang penting usaha.

Cita Pratiwi

Sastra Cina 2015, email: citapratiwika@gmail.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s