Jamuan Istimewa Mengalirkan Budaya Fantasmagoria

[Apresiasi untuk cerpen Smokol karya Nukila Amal pada Smokol : Cerpen Kompas Pilihan 2008. Apresiasi ini dapat ditemui di sini]

“… mereka bagai tenggelam dalam dunia fantasmagoria ciptaan Batara. Bentang alamnya kira-kira tampak seperti ini: pepohonan makanan yang berbuah bola-bola ghoulash yang gemuk-gemuk, berbunga pai gelatin stroberi yang berembun merah berkilat-kilat, berdaun piterseli dan kemangi, rerantingannya pasta bermentega yang menjulur-julur panjang. Danaunya adalah kuah tempat potongan daging wortel kentang paprika berenang-renang, ampela bebek bersampan irisan roti garing. Air terjunnya curahan deras sari buah, anggur, kopi, cinta kasih Batara… .” 

 

Bertanya pada saya, kapan kali pertama berjumpa dengan buku ini? Ya saat itu saya sedang kekurangan pekerjaan —bukan tidak ada, karena pekerjaan bagai cinta kasih Batara yang tak hentinya mengalir. Memandangi rak-rak buku di hadapan saya yang penuh dengan buku-buku entah buku pelajaran, laporan karya ilmiah, cerpen, sejarah, fantasi, tokoh muslim, dan masih banyak lagi. Sebuah cover buku menarik indra pengelihatan saya. Berwarna putih dengan sebuah “makhluk” merah yang bercelemek. Menurut saya itu cukup menyeramkan dan membuat fantasi saya memikirkan bahwa “Aha! Cerpen tentang monster?”.

Jujur, judul Smokol yang juga menurut saya berbahasa yang sedikit, bahkan aneh untuk muka Jawa seperti saya. Membaca keterangan cerpen kompas menambah daya tarik dari cerpen ini. Tangan nakal saya mulai membolak-balik halaman —mencari cerpen smokol yang menjadi titik bahasan di sini.

Batara alias Batre gemar menyelenggarakan smokol secara cermat dan meriah sebulan sekali, atau dua kali—tergantung ilham yang didapatnya dari kunjungan sesekali Peri Smokol. Menurut Batara, peri yang berasal dari Manado ini adalah penguasa dan pelindung smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang), pemasak smokol (Batara sendiri), dan kelompen smokol (kelompok penikmat smokol; beranggotakan Batara, Syam, si kembar Anya dan Ale). Tapi ketiga temannya curiga peri ini cuma hasil rekaannya. Ale yang pernah ke Manado, melaporkan sesungguhnya orang Minahasa menyantap tinutuan (bubur Manado) beserta pisang goreng dan teri goreng yang ditaruh di tepi piring dan dicelup-celupkan ke dalam dabu-dabu (sambal yang pedas bukan main hingga bisa bikin orang menangis diam-diam, kuping berdenging, dan untuk beberapa yang rentan, niscaya berhalusinasi).

Saya berhenti di sini. Mungkin efek karena lama tak membaca karya sastra —karena saat itu adalah pasca UTS— atau bahasanya yang terlalu berat dan tak menganut kebiasaan saya. Mungkin sekitar 3x pengulangan, lalu saya berhenti. Satu yang sudah saya dapat pada paragraf ini —teman tak 100% percaya pada kita.

Memang begitulah kenyataannya. Saya lebih berpihak pada diary dan pikiran hampa saya yang masih dapat menampung permasalahan saya ketimbang membuka sesi curhat dengan teman saya. Sebagai teman dari teman saya, tak jarang saya menemukan diri saya menaruh curiga pada teman saya. Bahkan meski saya sudah mengonfirmasi hal tersebut. Karena ini adalah budaya, yang lekat dalam hati setiap kita

… ”Kelompensmokol, ayo taklukkan makanan di depan kalian!” Lagaknya seperti gembala menghalau ternak, atau mungkin itulah gaya Columbus di atas geladak ketika menemukan Amerika.

Ale. ”Aku nggak bisa lihat muka Anya.”

Anya. ”Aku nggak bisa lihat muka Ale.”

Syam. ”Gara-gara jambanganmu yang terlalu besar dan megah ini.” …

 

Aku nggak bisa lihat muka Anya. Aku nggak bisa lihat muka Ale. Mungkin kalian tidak akan bisa mendapatkan inti sari dari budaya keseharian dari membaca hanya sekutipan teks di atas. Namun, bila ditambah dengan …

 

… Batara. ”Terus kenapa? Kalian nggak harus bertatap-tatapan.”

Ale. ”Kami harus bertatapan.”

Anya. ”Sudah dari dulu begitu. Orang tua mengajarkan kami menatap orang yang sedang bicara.”  …

 

Sudah cukupkah? Budaya. Yang lekat menempel sejak pembukaan cerpen ini adalah B-U-D-A-Y-A. Mengupas makna lain selain budaya makan atau jamuan bersama yang mengalir begitu jelas dari novel ini, bukankah juga dapat kita dapati bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan sifat satu. Makhluk sosial. Pelajaran kelas 2 SD yang sudah sekitar 5 tahun yang lalu sangat jelas terpapar ketika melihat hal tersebut.

Namun, akuilah. Kutipan kata-kata 

“Makanan akan menjadi kenyang bukan ketika kita banyak makan, namun ketika berbagi itulah makanan menjadi terasa nikmat dan mengenyangkan.” 

Dan juga 

“Berbagi tak membuatnya menjadi habis, malah kian tak berhenti.”

Apa yang dibagi disini?

Tatapan mata. Ekspresi. Dan banyak hal lagi. Dibandingkan menatap sajian yang memenuhi meja yang memupuk sifat tamak dan rakus, tatapan mata dan ekspresi ditambah gesturetubuh yang memenuhi pemandangan makan kita malah lebih baik karena hati kita bagai tersiram air yang berupa campuran semu dari rasa bahagia, gembira, nikmat, kenyang, emosi, dan masih banyak hal lain yang tak tergambar di sini. Meskipun tawar, namun lebih baik daripada pahit. Begitulah hidup.

… . Sontak saja senyum dan energi Batara pun kembali, dirinya baterai ceria penuh terisi. Ia mondar-mandir lagi tanpa henti, seperti anak kelinci bintang iklan baterai. Konon, ia beroleh nama panggilan Batre karena sedari bocah telah begitu lincah. Teman-temannya pernah terlibat diskusi panjang yang kira-kira mirip dialektika ayam dan telur: apakah Batre menghidupi namanya, ataukah justru nama itulah yang menghidupinya; bukankah melelahkan sekali menghidupi nama? Tapi mereka sepakat, Batre memang baterai nomor satu, sumber energi infiniti bagi dirinya sendiri: terus, terus dan terus….

Satu. Nama kita adalah doa. Dua. Nama kita juga cermin pribadi kita. Tiga. Tolong panggilah seseorang dengan baik. Jangan dengan nama yang menyakiti hatinya bahkan membuat renggangnya hubungan persahabatan kalian. Namun empat. Jadikanlah mimpi dan harapan orang tua kalian terwujudkan. Dari nama yang merupakan curahan hati para orang tua kita. Tolong wujudkanlah.

Karena mereka.

Malaikat utusan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai daun rindang yang menghalangi kita dari matahari di atas sana.

Sebagai akar yang menjadi pondasi hidup kita.

Dan sebagai asam klorida di perut kita yang kalau kita gunakan dengan baik akan memupuk hasil dan kalau kita menyakitinya akan merengut jiwa.

Ia berbicara terpatah tentang sekampung orang yang meninggal karena kelaparan, tentang anak-anak berperut buncit dan bermata hampa yang berjalan menyeret-nyeret kaki telanjang dan busung lapar mereka—adegan-adegan yang akhir-akhir ini kian sering muncul di TV. Ia tercenung membayangkan apa rasanya lapar berhari-hari. Ia mengenang meja makan Oma Sjanne di Tomohon yang penuh sesak dengan makanan, tak satu pun tamu atau musafir yang keluar dari rumah mereka dalam keadaan lapar. Ia merenungkan betapa tampilan mejanya selama ini adalah aspirasi penciptaan kembali meja makan mendiang omanya. Batara tak mengerti mengapa Oma Sjanne luput menyelipkan satu saja bau kelaparan di antara sejuta bebauan sedap masakan di dapur, mengapa meja makan Oma Sjanne tak pernah menampakkan realisme meja-meja makan lain yang kosong belaka.

Kini bayang-bayang lapar yang telah selalu tercegat di bawah meja makan itu datang menerjang di depan mata Batara. Berdiam di dalam pelupuk matanya yang sembab, namun nyalang, menatap negeri ini. Negeri yang penjuru-penjurunya tak pernah didatangi peri smokol. Negeri yang tak kenyang dan tak bahagia, tak pernah surga.

Batara tampak agak kurus akhir-akhir ini.

Sebagai penutup, izinkan saya menekankan kembali. Lembutkanlah jiwa kita. Lihatlah Batara. Jangan jadi egois dan sendirian. Karena hidup bukan berupa seperti ujian nasional, namun try out yang menjadikan kita sukses untuk ke depan.

 

Skae

imskae04@gmail.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s