Manisnya Sebuah Keunikan

Kontributor: Nielka
[Apresiasi untuk cerpen PEPPERMINT oleh WMHADJRI1991 di KEMUDIAN.COM]

Sebuah cerpen manis, yang membuatmu hanyut dalam lautan permen beserta gula. Begitu banyak pengandaian uniknya, hingga mampu membuat saya terseret dalam imajinasi penuh makanan dan warna.

Eitss, tapi ini bukan cerpen tentang makanan. Melainkan sebuah penyakit langka yang sangat unik bernama sinestesia. Apa itu sinestesia? Simak paragrap pembuka berikut!

Luna. L-U-N-A. Biru dongker-oranye cerah menyala-kuning lemon-merah bata. Pertama menyentuh langit-langit mulut dengan lidah sambil sedikit menyorongkan bibir ke depan, kemudian sekali lagi menyentuh langit-langit mulut dengan lidah lalu menarik sedikit sudut-sudut mulut ke samping. Lu-na. Kalau digabung, Luna, suaranya mengguyur seisi mulutku dengan hujan penuh rasa manis menyegarkan yang aroma kuatnya memenuhi penciuman.

Hanya sebuah nama, namun manisnya terecap sempurna di atas lidah. Begitulah sinestesia, yang merupakan kelainan persepsi di otak segelintir umat manusia. Sehingga setiap indra mereka bercampur. Angka dengan warna. Sentuhan dengan rasa. Pengelihatan dengan pendengaran. Semua tercampur aduk pokoknya..

Cerita ini menceritakan tentang Octo, seorang pemuda albino pengidap keteracakan persepsi di otaknya. Karenanya, ia selalu mengecap beribu rasa makanan dan minuman saat menyebut nama beberapa orang. Selalu menjadi target bullying. Sampai akhirnya, ia bertemu seorang murid baru yang namanya seperti peppermint—bahkan jauh lebih enak dari permen itu sendiri, Luna.

Kisah diawali dengan kekaguman Octo terhadap Luna. Gadis pindahan baru dari luar kota, yang cantik juga manis. Octo merasakan rasa permen peppermint setiap kali menyebut nama gadis itu. Membuatnya kagum, dan mungkin, berharap bisa mendekatinya. Karena yah, di kelas ia adalah target bullying yang sepertinya sudah tidak memiliki harapan pertemenan lagi antar sesama teman kelasnya.

Apa yang menjadi kehebatan cerpen ini adalah, penggunaan sebuah kelainan langka di dalamnya. Mungkin tidak semua orang tahu tentang sinestesia, dan di cerpen ini, kita jadi merasakan keunikan dari memiliki kelainan persepsi otak tersebut. Jempol!!

Karena sinestesia ini pulalah, berbagai diksi dan permainan katanya menjadi tak lazim namun layak untuk dinikmati. Unik serta tidak biasa. Kerenlah.

Kita kutip beberapa kalimat di dalamnya:

Aku langsung tahu nama Luna itu rasa apa, hanya butuh waktu sepersekian detik. Aku pernah merasakan nama Luna sebelumnya dalam bentuk sebutir permen peppermint. Namanya lebih enak, jauh lebih enak daripada permen yang pernah kusesap itu. Luna adalah nama ternikmat yang pernah kurasakan hingga detik ini.

Membaca nama Luna disandingkan dengan sebutir permen peppermint. Pembaca jadi berandai-andai dan memadankan persamaan tersebut. Putih-mulus-polos-cantik-lembut-manis, aish! Jadi pengen makan permen. Dan begitu pula Luna di sepanjang cerpen ini, ramah-anggun-baik, benar-benar penggambaran yang unik. Penggunaan kelainan sinestesia dalam cerpen ini memberikan kesan yang berbeda.

Sehingga pembaca bisa berkhayal dengan cara yang berbeda saat Octo mengimajinasikan beberapa nama kenalannya dengan beberapa jenis makanan.

Edo mendengus sambil membalikkan badan. Aku mengangguk walaupun ia tak bisa melihat. Aku tak ingin mengucapkan namanya lagi, rasanya seperti udang yang terlalu lama direbus. Menjijikkan.

Udang kelamaan direbus? Kenyal, berotot, bebal, atau … ah biarkan kalian berimajinasi sendiri. (Warning: membaca cerpen ini dalam keadaan lapar benar-benar tidak membantu).

Tapi sayangnya, yang kurang dalam cerpen ini adalah konflik. Yap! Urat nadi dari sebuah cerita, yang menjadi daya tarik sekaligus tulang punggung dalam sebuah tulisan (halah) kurang menggigit di sini.

Octo tidak melakukan apa-apa, kecuali menjadi lebih dekat dengan Luna. Dan ya, di akhir. Tanpa perjuangan yang berarti atau pengorbanan kecil lainnya, Octo mendapatkan hati Luna yang ternyata juga mengidap sinestesia. Suatu kebetulan memang, pantas saja Luna nampak lebih mengetahui kelainan Octo dibanding Octo-nya sendiri (pasti lahirnya bulan October ya? /Abaikan!).

Selain konflik yang kurang greget (kurang berkesan malah), saya baru ngeh lho kalau Octo ini pengidap sinestesia. Serius! Sungguh! BENERAN!! *dilempar kursi oleh penonton*

Mungkin akibat pengungkapan kelainan sinestesia yang baru dilakukan di akhir. Bahkan Octo sendiri tidak mengetahui kelainannya (baru tahunya pas dikasih tahu Luna), ck ck ck, kemana saja kamu nak?

Selain karakter Octo yang pasrah-pasrah-pemberani, karakter Luna ialah yang saya kagumi kedua di sini. Dia baik, cantik, dan mau berteman dengan siapa saja. Masalahnya, satu, iya ada masalah di sini. Mari kutip beberapa kalimat:

“Aku..aku orang aneh. Bukan cuma karena aku albino, bukan. Dari kecil aku melihat huruf dan angka sebagai warna-warni yang berbeda..Nama-nama orang dan sentuhan mereka aku anggap sebagai berjenis-jenis makanan dan minuman. Rasanya di lidah..aromanya juga.”

Itu adalah pengakuan Octo kepada Luna. Agak-agak cepat memang, baru ketemu tapi udah main bicara kekurangan masing-masing. Di sana, cerita ini terasa datar tanpa hambatan yang berarti. Terlalu mulus.

Kalian, jika diberitahu seseorang mengenai kekurangannya seperti itu, apa reaksinya? Terkejut? Heran? Bingung? Pegang dahinya dan bilang, “Kamu sakit? Habis keracunan siomay mana?” (bukan nak, bukan!).

Tahu gak, reaksi Luna gimana? Kutip kalimat selanjutnya.

Luna berdiri lalu menyentuh pipiku. Gemetar aku dibuatnya. Lidahku mencecap rasa manis sentuhannya. Aromanya memabukkanku.

Gemetar saya bacanya Octo *plak!*

Luna main sentuh pipi orang, dikira bakpao. Jikalau Luna jadi cepat simpatik kepada teman senasib dan sepenanggungannya (halah bahasanya), rasa-rasanya memegang tangan, atau tersenyum, atau memberi raut wajah yang menenangkan saja, itu sudah cukup.

Coba kamu bayangin, kamu jomblo, beli nasi goreng ke depan rumah. Pas nunggu. ketemu sesama jomblo asing di sebelahmu. Saling cerita betapa mengenaskannya hidup kalian. Kemudian, dia main pegang pipi kamu seperti sebongkah bakpao hangat. Ya kalo cowok ganteng, atau kamu memang pecinta cowok ganteng (kecuali untuk yang merasa laki-laki) pasti bahagia, gebyar-gebyar bak surga di bawah dagu. Lah, kalau wajahnya pas-pasan, asing pula, pasti endingnya dia bakal dicap aneh dan dilempar wajan. Syukur-syukur kalau bukan kompor.

Hal tersebutah yang membuat cerpen ini mengawang. Dekat namun tak nyata (aposeh?!). Rintangan Octo dalam mendapatkan perhatian Luna kelewat mudah, Luna yang terlampau baik juga cantik, serta ending yang mudah ditebak.

Ditambah, ada satu kalimat lucu (gak ngaruh apa-apa sih, tapi lucu aja).

Aku rindu teman-temanku. Risa, Vanya, Wardah dan Citra.

Mbak, gak sekalian ditambah Ponds, Dove, dan Lux? (Berasa SPG *ditendang*). Gemesin ya, lagi serius-seriusnya baca, ada nama beginian. Mungkin si penulis kehabisan nama cewek kali.

Meski demikian, kelainan langka yang diangkat, diksi unik menggetarkan lidah, serta narasi ringan dan manis membuat cerpen ini ringan dan enak dibaca. Cocok disantap saat santai.

Nielka

nielkastarsdom@gmail.com

Iklan

6 pemikiran pada “Manisnya Sebuah Keunikan

  1. Wow, eksplorasi indra pengecapan, ya. Salut! Membaca cerpen ini seperti melihat foto-foto di buku resep masakan–versi kata-kata.

    Sayangnya, kelebihan itu mesti terganggu oleh situasi khas dalam fiksi, yaitu dua tokoh yang baru saling mengenal tahu-tahu sudah mau intim saja, seperti keong racun.

    Jadi lapar nih. Jangan baca cerpen ini malam-malam, potensial bikin endut!

    Disukai oleh 1 orang

  2. sewaktu membaca awalannya sempat terpikir LUNA Maya. Hmm yaahh satu lagi dari k.com. Semoga ada karya yang menarik untuk dinikmati bersama dan di apresiasi. ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s