Jatuh Cinta di Toko Bunga

 

Kontributor : Nine

Apresiasi untuk cerpen “Bersiap Kecewa Bersedih tanpa Kata-kata” karya Putu Wijaya dalam Kompas, 17 Juli 2011

SEBAB sebuah cerpen adalah cerita yang pendek, seringkali kita menemukan penulis yang memasukkan simbol-simbol di dalamnya untuk membuat pembaca berpikir lalu mulai menarik benang merah yang ada di dalam cerpen tersebut. Saya mengenal hal ini dengan sebutan pesan moral. Mengapa pesan moral suatu waktu dapat kita temukan dalam sebuah cerpen? Apakah cerpen harus memiliki pesan moral? Untuk dua pertanyaan ini, terus terang saya tidak tahu jawabannya. Mungkin saja memasukkan pesan moral dalam cerpen dikembalikan pada selera si penulis, atau bisa juga pesan moral ini didapatkan sendiri oleh pembaca walaupun si penulis sama sekali tidak ada niat memasukkan pesan moral ke dalam cerpennya.

Jika boleh saya berpendapat, saya ingin katakan bahwa hal yang paling penting dalam sebuah cerpen adalah cerpen itu bisa dinikmati. Terlepas dari karakterisasi, narasi, konflik, yang bagus atau bisa saja jelek dalam pandangan seorang pembaca, saya yakin bahwa hal ini tidak selamanya berlaku sama pada pembaca lain. Bukankah sebuah tulisan akan membuat kita betah jika kita bisa menikmatinya? Sebab sastra itu sendiri adalah seni, dan seni adalah tentang hiburan (sebagai catatan saya ingin klarifikasi bahwa saya pribadi bukanlah orang yang mengerti seni atau pernah membaca teorinya atau mengambil jurusan seni). Mencari bacaan yang bagus berarti kita sedang mencari hiburan. Kita ingin masuk ke dalam sebuah dunia fiksi, lalu kemudian mulai mengenal karakter-karakternya, jatuh cinta pada perjuangan mereka, kita bisa bersedih karena penderitaan mereka, atau bisa juga tertawa akan tragedi yang mereka alami—sebab penulisnya terlalu kejam dengan membuat tragedi dalam cerita itu menjadi sebuah lelucon, kita sebagai pembaca menjadi terharu, bahagia, bangga, dengan tingkah laku karakter dalam sebuah tulisan fiksi, atau bisa juga kecewa karena akhir yang tidak sesuai ekspektasi. Yang ingin saya tekankan di sini adalah tanpa pesan moral sekalipun, sebuah cerpen tetap menjadi sebuah cerita yang (karena faktor-faktor tertentu) membuat pembaca menjadi larut ke dalam cerpen tersebut.

Jika Anda membaca “Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata” karangan Putu Wijaya, maka Anda hanya akan menemukan kisah cinta yang singkat, sederhana, namun cukup menyentuh (tentu saja jika Anda dan saya kebetulan memiliki selera cinta yang sama). Biasanya Om Putu—setelah beberapa kali saya membaca cerpen beliau—selalu memasukkan pesan moral ke dalam ceritanya, namun pada cerpen ini saya tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah romansa di toko bunga.

 

Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya.

Ketika hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat lain, suara seorang perempuan menyapa.

”Mencari bunga untuk apa Pak?”

Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari itu.

”Bunga untuk ulang tahun.”

”Yang harganya sekitar berapa Pak?”

”Harga tak jadi soal.”

”Bagaimana kalau ini?”

Ia memberi isyarat supaya aku mengikuti.

”Itu?”

Ia menunjuk ke sebuah rangkain bunga tulip dan mawar berwarna pastel. Bunga yang sudah beberapa kali aku lewati dan sama sekali tak menarik perhatianku.

”Itu saya sendiri yang merangkainya.”

Mendadak bunga yang semula tak aku lihat sebelah mata itu berubah. Tolol kalau aku tidak menyambarnya. Langsung aku mengangguk.

”Ya, ini yang aku cari.’’

 

Pada bagian ini saya sedikit heran dengan kemauan si Aku yang mendadak berubah terhadap bunga yang pada awalnya tidak terlalu menarik perhatian. Ketika mengetahui bahwa bunga itu adalah hasil karangan dari si Gadis Cantik, si Aku langsung menaruh minat pada bunga itu. Setelah dipikir-pikir, sebenarnya si Aku ini bukan tertarik pada bunganya, namun lebih condong tertarik pada si Gadis Cantik. Kemudian cerita berlanjut.

 

”Mau diantar atau dibawa sendiri?”

”Bawa sendiri saja. Tapi berapa duit?”

Ia kelihatan bimbang.

”Berapa duit.”

”Maaf sebenarnya ini tak dijual. Tapi kalau Bapak mau nanti saya bikinkan lagi.”

”Tidak, aku mau ini.”

”Bagaimana kalau itu?”

Ia menunjuk ke bunga lain.

”Tidak. Ini!”

”Tapi itu tak dijual.”

”Kenapa?”

”Karena dibuat bukan untuk dijual.”

Aku ketawa.

”Sudah, katakan saja berapa duit? Satu juta?” kataku bercanda.

”Dua.”

”Dua apa?”

”Dua juta.”

Aku melongo. Mana mungkin ada bunga berharga dua juta. Dan bunga itu jadi semakin indah. Aku mulai penasaran.

 

Sampai di sini, sudah mulai kelihatan betapa cerpen ini adalah sebuah cerita yang sederhana. Saya katakan begitu karena saya melihat minimnya narasi pada cerpen ini, dan penulis lebih menekankan pada dialog tokoh yang interaktif. Deskripsi latar juga seadanya—hampir tidak ada malah—akan tetapi saya mendapatkan nuansa unik saat membaca cerpen ini.  Saya juga mulai penasaran dengan harga bunga yang ditawarkan si Gadis Cantik sampai dua juta. Pada bagian ini saya mulai menerka-nerka:

  1. Memang sengaja si Gadis menawarkan harga yang tinggi supaya bunganya tidak terbeli.
  2. Si Gadis mulai tertarik pada si Aku dan dengan menaikkan harga bunga karangannya sampai pada nilai yang tidak masuk akal—sebab dalam hemat saya, bunga seharga dua juta itu terlalu fiktif, saya tidak pernah membeli bunga di toko, tapi jika disuruh membeli bunga seharga dua juta, saya lebih baik memakai uangnya untuk makan di sari laut—maka percakapan si Gadis dan Aku akan menjadi lebih panjang. Dan si Gadis dapat mengenal si Aku lebih jauh lagi.

Lalu ceritanya berlanjut.

 

”Bapak mau beli?”

”Ya. Tapi aku hanya punya 900 ribu. Itu juga berarti aku harus jalan kaki pulang. Aku tidak mengerti bunga. Tapi aku menghargai perasaanmu yang merangkainya. Aku merasakan kelembutannya, tapi juga ketegasan dan kegairahan dalam karyamu itu. Aku mau beli bunga kamu yang tak dijual ini.”

Dia berpikir. Setelah itu menyerah.

”Ya, sudah, Bapak ambil saja. Bapak perlu duit berapa untuk pulang?”

Aku terpesona tak percaya.

”Bapak perlu berapa duit untuk ongkos pulang?”

”Duapuluh ribu cukup.”

”Rumah Bapak di mana?”

”Cirendeu.”

”Cirendeu kan jauh?”

”Memang, tapi dilewati angkot.”

”Bapak mau naik angkot bawa bunga yang aku rangkai?”

”Habis, naik apa lagi?”

”Tapi angkot?”

”Apa salahnya. Bunga yang sebagus itu tidak akan berubah meskipun naik gerobak.”

”Bukan begitu.”

”O, kamu tersinggung bunga kamu dibawa angkot? Kalau begitu aku jalan kaki saja.”

”Bapak mau jalan kaki bawa bunga?”

”Ya, hitung-hitung olahraga.”

Dia menatap tajam.

”Bapak bisa ditabrak motor. Bapak ambil saja uang Bapak 150 untuk ongkos taksi.”

Aku tercengang.

 

Si Gadis kemudian menawarkan pada si Aku untuk menuliskan kartu ucapan selamat pada bunga yang telah berhasil dibeli oleh si Aku. Awalnya si Aku menolak, namun karena si Gadis memberikan bujuk-rayu pada si Aku untuk menuliskan kartu ucapan maka si Aku pun setuju.

 

Ia tertawa. Lalu menulis. Tampaknya ia sudah hapal di luar kepala isi buku itu. Ketika ia menunjukkan tulisannya, aku terhenyak. Itu bukan sajak Gibran, tapi kalimat yang ditarik dari sajak Di Beranda Itu Angin Tak Berembus Lagi karya Goenawan Mohamad:

”Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.”

Aku tiba-tiba tak sanggup menahan haru. Air mataku menetes dengan sangat memalukan. Cepat-cepat kuhapus.

”Saya juga sering menangis membacanya, Pak.”

 

Kemudian terjadi perdebatan antara Aku dan Gadis. Mereka berdebat menyoal siapa yang harusnya tanda tangan pada kartu ucapan selamat. Si Aku ingin si Gadis yang memberikan tanda tangan, namun si Gadis heran, sebab jika bunga itu untuk seseorang, maka harusnya si Akulah yang memberikan tanda tangan pada kartu ucapan selamat itu.

 

”Kamu saja yang tanda tangan.”

”Kenapa saya?”

”Kan kamu yang tadi menulis.”

”Tapi itu untuk Bapak.”

”Ya memang.”

Ia bingung.

”Kamu tidak mau menandatangani apa yang sudah kamu tulis?”

”Tapi, saya menulis itu untuk Bapak.”

”Makanya!”

Ia kembali bingung.

”Kamu tak mau mengucapkan selamat ulang tahun buat aku?”

Dia bengong.

”Aku memang tak pantas diberi ucapan selamat.”

”Jadi, bunga ini untuk Bapak?”

”Ya.”

”Bapak membelinya untuk Bapak sendiri?”

”Ya. Apa salahnya?”

”Bapak yang ulang tahun?”

”Ya.”

Dia menatapku tak percaya.

Aku ambil uangku dan letakkan lebih dekat ke jangkauannya. Lalu aku ambil bunga itu.

Tapi sebelum aku keluar pintu toko, dia menyusul.

”Ini uang Bapak,” katanya memasukkan uang ke kantung bajuku sambil meraih bunga dari tanganku, ”Bapak simpan saja.”

”Kenapa? Kan sudah aku beli?”

Aku raih bunga itu lagi, tapi dia mengelak.

”Tidak perlu dibeli. Ini hadiah dariku untuk Bapak. Dan aku mau ngantar Bapak pulang. Tunjukkan saja jalannya. Itu mobilku.”

Sebelum cerita berakhir, si Gadis mengatakan sesuatu yang membuat si Aku kaget setengah mati. Lalu kemudian cerita ini berakhir dan menyisakan perasaan damai dan puas. Jika saya perhatikan, memang bahwa dalam cerpen ini tidak ada pesan moral atau simbolisasi yang dituliskan oleh pengarang. Untuk saya pribadi, cerpen ini murni hanya mengisahkan dua sejoli yang jatuh cinta. Apakah dalam sebuah cerpen harus ada pesan moral yang tersirat di dalamnya? Apakah sebuah fiksi baru bisa dikatakan bagus jika ia memiliki nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya? Saya rasa hal ini kita kembalikan pada selera masing-masing penulis maupun pembaca. Pada akhirnya, cerita hanya akan berkesan jika penulis dan pembaca sama-sama menikmatinya. Dan cerpen “Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata” cukup manis untuk saya nikmati. Kisahnya sederhana, namun menyentuh dan membuat saya jatuh cinta pada karakternya. Sebuah cerpen sederhana yang indah karya Putu Wijaya.

Nine

Penikmat Fiksi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s