Potret KDRT dalam Gambar-gambar Radian

Kontributor: Ristirianto Adi

[Apresiasi untuk cerpen “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” oleh Avianti Armand]

 

Konflik dalam rumah tangga sudah bukan barang yang baru lagi. Kekerasan suami pada istri telah berulangkali dieksplorasi, dimanipulasi, bahkan dieksploitasi (!), dalam film, novel, juga sinetron . Tak dipungkiri lagi, memang KDRT adalah realita yang umum terjadi di sekitar kita, maka tak heran banyak seniman tertarik mengangkatnya dalam karya mereka. Namun sebegitu seringnya tema ini diangkat dengan pendekatan yang begitu-begitu saja, sehingga mau tak mau tema ini menjadi usang, tak menarik lagi.

Avianti Armand mencoba menyajikan tema yang telah usang ini dengan caranya sendiri. Barangkali dari segi tema ia tak menawarkan kebaruan, pun tidak memberikan solusi atau jawaban dari problema yang diangkatnya. Tapi melalui gaya berceritanya yang menampilkan kejutan-kejutan subtil, permainan sudut pandang, alur non linear, juga deskripsi surealis, ia mampu menampilkan KDRT dalam viewpoint yang berbeda.

Cerpen ini menceritakan kisah yang sesungguhnya sederhana. Ibu dan Radian hidup dalam tirani seorang laki-laki yang tak berbelas kasihan. Suatu hari Radian memutuskan, cukup, dan membunuh ayahnya.

Ide Avianti untuk menggunakan gambar-gambar Radian sebagai potret kehidupan dua tokoh utama kita patut diapresiasi dan dipuji. Melalui cara ini Avianti bebas menggambarkan penderitaan seorang korban KDRT dengan intens, kasar, kelam, dan surealis. Penceritaan yang konvensional saya kira sudah tidak memadai lagi dalam menggambarkan pengalaman traumatis sang korban. Bagaimana cara kita menceritakan ketakutan? Bagaimana cara kita menggambarkan kebencian dan kemarahan? Dengan masuk langsung ke alam pikir mereka, melalui perantara gambar-gambar.

Langit jadi merah. Seekor naga menukik, menyapu bintang-bintang dan matahari. Pucuk-pucuk sayapnya memercik bara. Api bertebaran. Angin berputing. Ketakutan disemprotkan ke udara seperti tinta gurita. Para satria berbaju zirah itu bergelimpangan. Jerit putus asa menyesaki ruang. Makhluk itu marah luar biasa. Rumah-rumah, pohon-pohon, pucuk gunung di kejauhan, jadi remuk tak jelas bentuk. Rata tanah. Semua.”

 

“Sebuah pohon besar. Sebuah rumah besar. Semuanya hitam. Seorang lelaki berbaju hitam tergantung-gantung di pohon itu. Seutas tali besar melilit lehernya. Kepalanya terkulai. Terlalu miring, seolah patah. Ada dua paku hitam besar menancap pada tempat yang seharusnya berisi mata.”

 

“Sebuah pulau kecil di tengah lautan dan sebuah perahu kecil yang meninggalkan pulau itu. Ada dua orang di dalamnya: perempuan dan anak lelakinya. Mereka tersenyum. Ada satu rumah di atas pulau, berbentuk kotak dengan jendela-jendela kotak. Di baliknya, ada seseorang dengan tangan terentang ke atas. Di atas rumah itu beterbangan burung-burung hitam. Dua belas jumlahnya. Rumah itu diliputi lidah-lidah merah. Terbakar, kata Radian.”

Kemampuan Avianti dalam meramu prosa tak bercela. Diksi-diksinya tajam menyuarakan kesakitan, kemarahan, ketakutan, kebencian. Setiap imaji yang digarapnya kasar dan brutal. Setiap kata dalam ceritanya bahu-membahu menciptakan dunia yang kelam hampir tanpa harapan.

Barangkali Avianti tidak memberikan jalan keluar bagi masalah KDRT di Indonesia, tidak serta-merta membuatnya lenyap dalam semalam, tapi setidaknya melalui “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” ia telah mengingatkan kita akan fenomena satu ini. Sekali lagi ini juga mengingatkan kita akan kekuatan karya fiksi. Sekalipun tidak memberikan deskripsi faktual, karya fiksi selalu dapat menyampaikan drama dan penderitaan batin manusia-manusia yang terlibat jauh lebih intens daripada karya-karya nonfiksi. Ia bisa menggerakkan orang-orang, bisa menyadarkan orang-orang, bisa memunculkan apa yang barangkali selama ini telah tertutupi oleh problema kehidupan sehari-hari: hati nurani.

 

Ristirianto Adi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s