Kritik Halus dalam Petualangan Lelaki Buaya Darat

Kontributor: Dayzky

Apresiasi untuk cerpen “Selewat Senja di Kutha” karya Satyagraha Hoerip dalam Matra, Juli 1989

Drs. Pramudito—sebut saja Pramu—biasa bepergian seorang diri tiap kali cuti tahunan. Kali ini dia pergi ke Bali, khususnya Kutha. Dia bertemu seorang cewek bule yang seksi, Brenda. Bermesraanlah mereka. Diam-diam Pramu cemas kalau-kalau ada kenalannya melihat dan melaporkan itu pada keluarganya. Toh sebetulnya dia sudah beristri dengan beberapa anak, sebagian di antaranya malah sudah menikah. Tapi sekaligus dia bangga karena ada cewek bule semuda dan sesegar Brenda mabok kepayang pada dirinya.

Apa ini bukan ‘national achievement!’ yang luar biasa, pikirnya.

Walau cerpen ini dituturkan melalui sudut pandang orang ketiga, namun perspektif Pramu yang kocak sesekali menyelip. Terutama pada adegan pembuka, ketika Pramu dan Brenda menyusuri pantai sambil bergandengan.

 

Bagaimana jadinya, andaikata tiba-tiba muncul kenalan, atau bahkan seseorang dari gerejanya di Jakarta? Dan melihat dia bergandeng tangan dengan cewek bule, mana cuma mengenakan baju pantai? Ooh, disgusting! Macam pria muda 40-45 tahunan saja, remaja kedua.

         … 

Sepasang wisatawan dalam negeri berjalan lambat-lambat ke awah mereka. Pasti umur mereka baru di atas 40 tahunan, pikir Pramu, tapi coba lihat itu: keriput di mana-mana. Di pipi, dagu, leher. Mana tubuh mereka sudah melebar kian-kemari, tidak ketolongan. Itulah kalau tidak tahu estetika. Dikiranya enak, apa, nonton begituan.

Mereka lalu pindah dari penginapan masing-masing untuk tinggal bersama di penginapan lain. Malam itu Pramu tidur cepat. Ketika terbangun, disadarinya Brenda tidak ada. Dari luar kamar dia mendengar ada percakapan bahasa Inggris antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Perempuan itu ialah Brenda, yang ternyata Susan. Adapun si lelaki rupanya mahasiswa Pramu semasa dirinya mengajar di AS, yaitu Bruce, alias Jack. Pramu keluar dari persembunyiannya dan bertambah-tambah kecurigaannya ketika mengetahui bahwa paspor mereka palsu. Bersamaan dengan itu, datang polisi. Bruce mau lari, tapi lagi-lagi penulis menyelipkan unsur komedik—kali ini slapstick—dengan aksi Pramu melonjorkan kaki sehingga bule itu terjungkal dan kepalanya membentur meja. Bruce lalu ditangkap, sementara Pramu dan Brenda dinaikkan ke mobil pikap terbuka untuk dimintai keterangan. Rupanya Brenda dan Bruce dicurigai terlibat dalam penyebaran narkotika.

Walau Pramu menyatakan bahwa dirinya kecewa pada Bruce, yang dikiranya bakal menjadi calon ahli sejarah Asia Tenggara, tapi ketika polisi menyinggung-nyinggung Brenda dan dia jadi malas bicara, kita tahu siapa sebetulnya yang dia pikirkan.

Cerpen ini pun ditutup dengan:

“Ah, Bapak. Yang lebih gila juga ada kan, Pak,” sambar polisi yang tadi. “Jangan Bapak pura‑pura lupa, lagi.”

Pramu menatapnya. Mulutnya kembali malas bicara.

“Betul, Pak. Itu, bapak-bapak yang kalau melihat potongan badan mereka, spontan bikin kita pengin terus menghormat! Tapi, eeee, sekalinya merugikan negara, langsung bermilyar-milyar rupiah,” kata polisi itu lalu tertawa-tawa.

Pramu pura-pura menguap. Pikirnya; “Kalau polisi sendiri sudah bilang begitu, apanya lagi yang perlu aku bantah?” 

Dari situ kita mungkin menduga bahwa cerpen ini bukan sekadar hiburan yang santai dan ringan, melainkan mengandung satire. Terlebih jika kita ingat waktu cerpen ini dipublikasikan, yaitu 1989, masih masa Orde Baru. Jika kita gemar akan produk-produk hiburan pada masa itu, mulai dari lagu-lagu Iwan Fals dan Chaseiro sampai trilogi film Inem Pelayan Sexy ataupun yang semacam Setan Kredit, kita akan mafhum betapa kritik dapat dikemas secara halus dengan menyuguhkan situasi riil, tanpa harus mengada-ada.

Dayzky

sedang menggiatkan diri membaca, menulis, dan menerjemahkan

 

Iklan

One thought on “Kritik Halus dalam Petualangan Lelaki Buaya Darat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s