Cantik itu Hampa, Jenderal!

Kontributor : Adhyasta D. Gaspard
Apresiasi untuk cerpen “Elenora” karya Vinegar (KEMUDIAN.COM, 12 aGUSTUS 2015)

“Bunuhlah saya dengan sebutir peluru atau sesendok sianida, jangan bunuh saya dengan cinta yang berasal dari perempuan tercantik di dunia.”

Daya pikat utama dalam cerpen ini adalah narasinya yang aduhai. Pikat-candu yang terus membuai sampai akhir kalimat. Vinegar lihai dalam meramu kata-katanya (yang sebagian kecil jarang digunakan) menjadi sememikat Elenora, cantik, sederhana, tapi tetap menerkam.

Tema dalam cerpen ini mengingatkan saya pada novel “Cantik itu Luka” karya Eka Kurniawan. Namun di sini menurut saya lebih ditonjolkan kepada aspek psikologi si nenek, atau benturan budaya konservatif dan budaya modern, daripada fisik cantik yang mengundang luka pemiliknya.

Seorang Nenek (yang dipanggil dengan Oma dalam cerita ini) dalam  kehidupan sehari-hari, cenderung over-protektif pada cucunya, apalagi dalam cerita ini, si Nenek telah kehilangan anaknya akibat bergaul dengan seorang laki-laki. Berkat trauma itu, si Nenek berusaha sekuat mungkin melindungi cucunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki dengan cara merubah pandangan cucunya terhadap apa yang disebut dengan “cantik”.

Perlakuan ini, membuat cucunya yang bernama Elenora menderita. Pada saat pertengahan remaja, Elenora mulai mendapatkan pemahaman tentang “cantik” dalam dunia modern. Jadi, saya berkesimpulan tema dari cerpen ini adalah usaha seorang nenek yang berusaha melindungi cucunya secara berlebihan, dengan menggunakan dasar pemikiran konservatif, sementara cucunya telah mengenal dunia modern lewat seorang laki-laki yang ia kenal.

Sayang, saya tak menemukan tokoh dalam cerita ini yang mampu hidup cukup lama dalam kepala saya. Kecuali Elenora, itupun hanya deskripsi fisiknya saja, berkat narasi yang beberapa kali menggunakan majas yang pas, bukan sifatnya.

Pada bagian sudut pandang, Vinegar menggunakan sudut pandang orang ketika tunggal, dan terkesan memihak pada Elenora, seperti yang terlihat pada kalimat pertama dalam cerita:

“Elenora terlalu cantik untuk jadi perempuan biasa.”

Alur cerita bisa dibilang maju, dengan selingan masa lalu berbentuk naratif. Selain itu, saya menemukan beberapa simbol. Tampaknya, di bawah lapisan narasi yang begitu ciamik, terselip simbol-simbol yang sengaja atau tidak, ditaruh penulis sebagai bagian dari keutuhan cerita. Seperti berikut ini:

“Mungkin  karena  manik  cokelat  matanya yang  sering  membuat  cicak  di  dinding  kamarnya  berjatuhan.”

Saya menangkap simbol “cicak di dinding” sebagai orang-orang yang melihat Elenora, dan mereka akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti analogi cicak yang jatuh dari dinding.

Mungkin  juga  karena  lekuk tubuhnya  yang  begitu  menyesatkan.

Selanjutnya, ditekankan bahwa bukan hanya kecantikannya yang membius, tapi juga tubuhnya yang mampu membuat orang-orang mabuk.

Ia  lebih  pantas  hidup  di  pamflet  raksasa  di  pusat perbelanjaan  menjajakan  jargon  gaya  hidup  kekinian.  Dengan  begitu  kakinya  sanggup melangkah  melihat  keindahan-keindahan  di  luar  sana.  Di  luar  untaian  rosario  yang  kian mengecil  menjerat  lehernya.

Saya menangkap keterpihakan penulis dalam kalimat-kalimat di atas, juga cukup merefleksikan pandangan pembaca (masyarakat pada umumnya) bahwa orang yang memiliki wajah dan tubuh sesempurna Elenora, akan menjadi role-model hidup kekinian, yang bisa pergi ke tempat-tempat yang dikhususkan untuk orong-orang kekinian. Dan saya menangkap simbol “rosario” sebagai agama di mana hidup kekinian tersebut tidak sejalan dengan agama. Mereka yang masih memiliki iman, akan sulit mengikuti kehidupan modern, apalagi hidup di tengah-tengahnya.

Beralih pada paragraf-paragraf selanjutnya yang menerangkan tentang rumah peninggalan orangtua si Nenek. Saya menangkap rumah ini sebagai simbol dari kebudayaan lama kita, di mana rumah tersebut dulunya milik pribumi, lalu diambil alih oleh penguasa Belanda yang merombaknya untuk menonjolkan identitas kepemilikan yang baru.

Ini seperti kebudayaan kita yang sudah mengalami asimilasi sedemikian rupa, hingga tidak tahu mana ciri kebudayaan kita dan mana kebudayaan asing. Kita kebingungan dengan kebudayaan tersebut, yang tidak sepenuhnya mencerminkan kebudayaan kita, juga tidak sepenuhnya mencerminkan kebudayaan asing. Namun, sebagian orang masih tetap menyukainya, seperti Elenora menyukai rumah tua tersebut, dan kita bisa tumbuh dalam kebudayaan itu, seperti tumbuhnya berbagai bunga di halaman rumah Elenora.

Menyoal Ending, saya merasa Vinegar sedikit bermain curang. Namun, mungkin itu adalah bentuk tersirat dari apa yang ia sebut “cantik” dalam pandangannya, yaitu kehampaan.

Si Nenek beranggapan tampil cantik itu adalah bencana, keburukan, sesuatu yang merenggut anaknya, tapi bagi Elenora itu adalah kebebasan, ekspresi seorang perempuan. Namun pada akhirnya hanya kekosongan. Si Nenek kehilangan cucunya, dan Elenora kehilangan dirinya.

Gaya bahasa yang digunakan Vinegar dalam cerpen ini, terasa renyah sekaligus pahit-manis (bittersweet). Cocok dalam menggambarkan Elenora yang ingin cantik seperti gadis-gadis modern, tapi ditentang oleh si Nenek yang ingin melindunginya dengan kepercayaan konservatif.

Adhyasta D. Gaspard

adhyasta44@gmail.com

Iklan

6 thoughts on “Cantik itu Hampa, Jenderal!

  1. akhirnya ada karya dari kemudian. Aku tersentuh dengan narasinya apalagi sudah disuguhkan paragraf pertama yg sangat menarik. Aku membaca seakan akulah pemeran dalam cerita ini. tetapi Hanya sebagian kecil yg kupahami waktu sampai akhirnya (dasar otak lelet) . Cerpen ini memang layak dikenang karena narasi yang menggoda bagi yg melihatnya. Oke angkattt …angkat… Semoga ada karya lagi di kemudian…#chris

    Disukai oleh 1 orang

  2. waktu liat judul cerpennya sekilas aku pikir terjemahannya “eleonora” Edgar Allan Poe, tapi ternyata bukan. Narasinya cukup indah. Ceritanya tentang gadis yang berselisih paham dengan neneknya yang kurang menyukai gaya hidup modern.
    jarang-jarang saya nemu ulasan/analisis cerpen seperti ini, dengan adanya analisis, pembacapun akan semakin memahami isi yang terkandung dalam cerita. terima kasih apresiana.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Halo, kak! Wah, Mimin senang dapat kunjungan dari kakak 🙂 Betul, manfaat utama analisis memang supaya pembaca jadi lebih paham isi yg terkandung dalam suatu karya, karena memang tak jarang ada hal-hal yg luput dari pembacaan kita tanpa diteliti lebih lanjut.
      Salam Apresiana! 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s