Seekor Burung dalam Kepala Seorang Istri

Kontributor : Adhyasta D. Gaspard
Apresiasi untuk cerpen “Sangkar di Atas Leher” karya Adi Zamzam dalam Koran Tempo, 14 Juli 2013

Cerita dari cerpen ini bisa dibilang sederhana. Tentang seorang perempuan yang merasa ada burung berkicau dalam kepalanya, yang berusaha ia hilangkan, tetapi tak berhasil, sampai ia menemukan burung kecil yang dilelang dalam perjalanan, dan perempuan tersebut ingin membebaskan burung itu seperti ia ingin membebaskan burung di dalam kepalanya. Hanya begitu saja, tapi di dalamnya ada unsur-unsur—kalau boleh dibilang, simbol-simbol—yang ditempatkan penulisnya secara samar, tapi tetap meyakinkan.

Akan kuceritakan kepadamu tentang keanehan yang kualami sejak empat hari kemarin, yang terus saja menyiksaku hingga detik ini.

Cerpen ini diawali dengan cukup cantik menurut saya, karena si narator menyebut pembaca dengan akrab, dan jujur bahwa ia ingin bercerita tentang dirinya.

Adalah kicauan seekor burung terdengar seperti permintaan tolong dan kadang terdengar pula seperti ratapan. Kicauan itu terus bergema dalam kepalaku. Tak henti-henti. Ya, di dalam kepalaku!

Masih dalam satu paragraf yang sama, di mana dalam rangkaian kalimat ini si narator menerangkan apa yang akan ia ceritakan—ia alami—pada pembaca.

Menyangkut kepala dan burung yang ada di dalamnya, asumsi pertama saya adalah pikiran si narator, pikiran tokoh “aku” yang mendesak ingin dikeluarkan, tapi ia tidak tahu atau tak mampu melakukan hal itu, bahkan mungkin keadaannya tidak memungkinkan bagi dirinya untuk mengungkapkan pendapat tersebut. Dalam hal ini, asumsi pertama saya sedikit melenceng, tapi masih ada bagian yang cukup relevan.

Aku juga pernah hampir seharian hanya tidur dan tidur. Dua kali aku melakukannya. Suara kicau itu hanya hilang saat aku terlelap. Tapi begitu aku bangun, burung itu ikut bangun juga.

Dalam kalimat di atas penulis memberikan satu petunjuk tentang si “burung” ini. Kalau “burung” ini merujuk pada pikiran, tentu salah, karena pikiran tidak akan terlelap meski yang punya tertidur. Pikiran masih aktif, meski dalam kadar tertentu saja, bahkan ia bisa menciptakan mimpi dalam tidur untuk menyelesaikan masalah dari orang yang memilikinya. Berkat kalimat petunjuk ini, saya menoleh ke arah “kesadaran” daripada “pikiran” untuk mendeskripsikan si “burung”. Meski keduanya tidak bisa dipisahkan, tapi bukan berarti mereka sama.

Cerita pun berlanjut dengan tokoh “aku” yang bercerita pada temannya, Rani, perihal burung dalam kepalanya tersebut. Saat Rani bertanya apakah tokoh “aku” sudah bercerita pada Toto? Ia menjawab:

“Belum. Aku dikurungnya di rumah, dan dia begitu terobsesi dengan pekerjaan. Sedikit sekali waktu yang disisakannya untukku.” Kuhela napas berat sambil memandang foto si kecil Nia yang terpajang manis di dalam bulet di ruang tamu. Terasa ada yang menyumpal dalam dadaku.

Jelas sudah apa masalah yang ingin diungkapkan penulis dari tokohnya, dan siapa sebenarnya toko aku ini. Namun sebelum saya menerangkan apa yang saya tangkap dari cerpen ini, ada beberapa hal yang membuat saya tidak bisa menangkap secara jelas apa latar belakang tokoh “aku”.

“Jika kau butuh teman, datang saja ke rumah Mami,” Rani menatapku erat. Mungkin dia coba memahami keadaanku.

Sebuah kata di sana membuat saya berpikir, bahwa sebelum tokoh “aku” ini menikah, dulunya ia adalah “perempuan-sewa”. Tapi pada dialog dan narasi selanjutnya, tak ada petunjuk jelas untuk menguatkan asumsi tersebut. Saya pun kurang puas dengan hanya setuju bahwa ia adalah mantan penari. Itu hal ini saya memilih jalan tengah, yaitu ini hanya masalah selera dalam menempatkan tokoh. Yang mana pun, tidak mengurangi esensi dari konklusi di akhir cerita.

Singkat cerita, tokoh “aku” dalam perjalanan pulang dari toko perlengkapan bayi menemukan seseorang yang sedang melelang seekor burung kecil, dan ia kemudian mengerti apa arti dari kicauan burung dalam kepalanya.

Kesadaran bahwa dirinya merasa terpenjara sebagai seorang istri dalam rumah tangga, diceritakan dengan imajinasi seekor burung dalam kepala. Begitulah kira-kira yang saya tangkap sehabis membaca cerpen ini. Meski ada perasaan ganjil, karena analogi tersebut kurang tepat dalam kacamata saya, namun cerpen ini cukup bisa menerangkan penderitaan istri yang merasa dipenjara dalam rumah tangga.

Dalam hal ini, tokoh “aku” menjadi korban dari pandangan konservatif terhadap perempuan yang sudah menikah, yang harus ada di rumah, memasak, cuci baju, beranak, mengurusnya, melayani suami, dan tidak lebih dari itu.

Tokoh suami di sini pun seakan penganut paham itu, dan ia kurang peka dalam melihat perasaan istrinya yang tertekan. Ia memandang bahwa apa yang dilakukan oleh istrinya sebelum menikah itu sia-sia jika dilanjutkan (dalam hal ini menjadi penari ), dan menjadi gangguan dalam tugasnya sebagai seorang istri. Kesan ini terlihat jelas pada kalimat:

Aku bukan Rani. Suamiku juga tak seperti suami Rani.

dan

“Baiklah. Kapan-kapan aku akan kembali ke sana. Titip salam buat Mami ya,” ujarku, meski tak yakin. Wajah Toto membayang ganjil.

Hasilnya, si istri yang tak sengaja melihat pelelangan burung kecil dalam perjalanan pulang (yang saya analogikan secara serampangan sebagai pernikahan dini dari seorang gadis yang masih belum pantas menikah), membuatnya melakukan sesuatu yang ekstrim. Sesuatu yang menurutnya benar, tapi tidak bagi orang lain.

Akhir cerita ini bisa dibilang memuaskan bagi tokoh “aku”, karena ia bisa membebaskan burung kecil yang terperangkap tersebut, juga dirinya yang dibelenggu sangkar tak kasat mata bernama rumah tangga. Tapi bagi saya pribadi, saya tak puas. Ini seperti mengatakan bahwa bunuh diri itu adalah jalan untuk membebaskan diri, solusi akhir dari kesadaran akan belenggu rumah tangga yang tidak dibangun dengan seimbang. Tidak ada inisiatif untuk melakukan rekonsiliasi, atau semacamnya.

Namun apapun yang saya katakan, itu tak merubah kenikmatan saya dalam membaca cerpen ini, yang membuat saya merenung sejenak dan menuangkan apa yang saya rasakan dalam bentuk kata-kata sederhana. Karena cerpen seperti ini, yang membuat saya betah untuk menulis isi pikiran saya dalam beberapa paragraf, jarang saya temui.

Adhyasta D. Gaspard

adhyasta44@gmail.com

Iklan

2 thoughts on “Seekor Burung dalam Kepala Seorang Istri

  1. Wah, menarik sekali ternyata. Seekor burung yang menyimbolkan kegelisahan seorang perempuan terhadap kehidupannya yang tertekan (atau ditekan?). Awalnya saya kira cerpen ini seperti “Seekor Ular dalam Kepala” karya A.S. Laksana, tapi ternyata arahnya jauh berbeda walaupun akhir ceritanya sama-sama berujung kematian. Salam 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s