Retorika dalam Cerpen “Blowing In The Wind”

Kontributor : Vinett

Apresiasi untuk cerpen “Blowing in The Wind” karya Karta Kusumah dalam Jawa Pos, 26 Juli 2015

“Some of the biggest criminals are those that turn their heads away when they see wrong and know its wrong..”

Begitu kata Bob Dylan ketika menjelaskan latar belakang terciptanya “Blowin’ In The Wind“, salah satu lagu legendaris dari musisi paling produktif di era 60-an itu. Tidak salah jika akhirnya begitu banyak yang mengutip barang sebait dua bait liriknya ketika berbicara mengenai isu-isu seputar ketidakadilan, kesetaraan hak, kekuasaan, bahkan hubungannya dengan spiritualisme. Liriknya kerap ditafsirkan sebagai pesan anti peperangan dan anti kekerasan meski seluruhnya hanya berupa pertanyaan. Semua berawal dari keresahan sang musisi, keresahan yang dari masa ke masa terus saja berulang dan mengemuka sebagai pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Demikian pulalah yang begitu jelas tersirat dalam cerpen Blowing in The Wind”, karya Karta Kusumah yang dimuat di harian Jawa Pos, 26 Juli 2015.

Sebuah cerpen bernuansa lembut sekaligus menohok yang memperlihatkan pada pembaca, berbagai macam manusia di luar sana sedang berjuang dengan hidup dan apa yang diyakininya. Bercerita mengenai perjalanan tokoh Kau melewati dini harinya, Kau adalah sosok abstrak yang bisa jadi bentuk apa saja, bahkan mungkin tidak berbentuk sama sekali. Kau hanyalah keresahan yang seringnya bertumpuk dan tak tertahankan untuk diteriakkan ketika malam datang. Sisi gelap hidup manusia memang terasa lebih padu jika dibalur dengan latar suram, lampu redup kekuningan dan tentu saja malam, seperti dalam cerpen ini.

Kau lahir dari lirik lagu Dylan yang dimuntahkan seorang penyanyi kafe. Dan perjalanannya dimulai (lagi?), Kau menyusuri jalan-jalan lengang yang dilalui mereka para penikmat malam. Seringkali orang memandang bahwa kehidupan malam—utamanya di perkotaan—identik dengan kesenangan, hingar bingar pesta dan gaya hidup hedonis. Orang-orang yang penuh semangat memasuki kafe, mengobrol dan tertawa lebar mungkin sekali adalah mereka yang sedang mengingkari kedukaannya. Penulis Karta Kusumah tampak sepaham dengan Dylan bahwa begitu banyak dari manusia yang tahu akan ‘ketidakberesan’ di dunia ini namun terjebak dalam apatisme massal.

Dalam cerpen ini sendiri ketidakberesan tersebut digambarkan dengan bermacam problema kehidupan bermacam orang yang diikuti Kau, si tokoh abstrak kita. Mereka yang merasa hidupnya dicurangi, mereka yang mencurangi. Mereka yang berada di tubir keputusasaan hingga cenderung fatalis. Mereka yang belum ingin menyerah akan tetapi juga tak tahu harus berbuat apa. Maka dari merekalah lahir pertanyaan paling retorik hingga menyudutkan kita pada idiom klasik yang selalu dimaklumi di negeri ini, “tanyakan saja pada rumput yang bergoyang”, atau kutipan sebuah lagu lawas, “… jawabnya berada di angin malam”. Tidak berbeda dengan “… the answer’s is blowin’ in the wind,” semuanya adalah representasi dari kekecewaan dan ketidakberdayaan. Meski tentu ada hal mendasar dan personal mengapa sang cerpenis memilih lagu Bob Dylan, toh saya tidak sedang membahas itu.

Yang paling menyakitkan dari kehidupan sosial kita barangkali adalah ketidakpedulian. Dalam lingkungan megapolitan—sebagaimana latar cerpen dimaksud—nilai-nilai semacam itu dianggap sudah tidak punya urgensi lagi. Berapa banyak tetangga apartemen saling menanyakan apa dan siapa dari satu ke yang lainnnya. Berapa banyak orang saling melempar senyum dan tegur sapa di dalam commuter line. Berapa banyak perkataan, gumaman, keluhan, kemarahan yang tak didengarkan. Kau adalah sebuah suara yang kini sedang tergeletak di tengah jalan.* Dengan begitu, bertanya adalah pekerjaan yang sia-sia belaka.

Realita kehidupan di sekitar memang tidak sesedap iklan komersial di televisi yang kerap menjebak kita dalam imagologi. Semacam realita semu. Semua terasa dilebih-lebihkan untuk sejenak melupakanbetapa tidak tenangnya pikiran manusia sebenarnya. Dan Kau merekam semua itu seiring perjalanannya. Isu-isu sosial yang diangkat dalam cerpen ini adalah hal lumrah yang ada di sekitar kita. Menjadi lumrah karena tanpa sadar semakin sering kita menemukannya maka akan timbul suatu pemakluman. Perselingkuhan, prostitusi, kejahatan-kejahatan terselubung, dan lain sebagainya. Cukup nyalakan televisi dan saksikan siaran berita maka segala kepahitan akan mengalir dengan sendirinya. Bosan dengan kepahitan? Jika begitu pilihlah untuk nonton iklan.

Tidak ada konklusi yang pasti dalam cerpen “Blowing in The Wind”, karena sesungguhnya di pembacaan saya semua ada dalam pikiran pembaca. Kau mungkin saja adalah isi kepala pembaca, mungkin juga keluarga kita, orang-orang yang berpapasan saat berangkat kerja, sementara Karta Kusumah sedang melempar kembali retorika yang diumpankan oleh Bob Dylan. Secara makna, tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua karya yang berbeda rupa ini, keduanya menuliskan hal yang sama. Cerpen ini merupakan contoh lain di samping berbagai pertanyaan yang telah disebut-sebut oleh si empunya lagu. Penulisnya sendiri menyebutnya sebagai variasi dari lirik lagu yang dimaksud.

Tokoh Kau akan tetap melayang-layang hinggap dari obyek satu ke obyek lainnya dengan terus mengulang pertanyaan yang sama. Selama Kau masih terombang-ambing oleh angin, pertanyaan kian bertambah besar seperti bola salju. Hingga jika akhirnya Kau menemukan perhentian, barangkali Kau akan merupa sebagai jawaban. Jawaban dari pertanyaan itu sendiri, dan manusia terlalu sibuk untuk menyadarinya. Lagipula, kapan kiranya angin bisa begitu pasti akan berhenti?

*****

*) kutipan cerpen Blowing in The Wind

Iklan

5 thoughts on “Retorika dalam Cerpen “Blowing In The Wind”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s