Madre

Cover Madre.jpg

 

Kontributor: Nycto

[Apresiasi untuk cerpen “Madre” karya Dee Lestari pada bukunya, “Madre”]

Madre itu tentang ibu.

 

Sudah sejak dulu saya tertarik untuk membeli buku ini, hanya keraguan yang menahan saya meletakkan buku ini ke atas meja kasir. Dan saya tidak menyesal telah membelinya. Saya tidak membahas keseluruhan bukunya, hanya pada salah satu cerpennya saja (karena buku ini juga tidak bisa dikatakan kumcer, melainkan kumpulan prosa).

Tansen adalah pemuda yang darahnya sudah bercampur berbagai etnis dan berjiwa bebas. Ia diwariskan sebuah kunci usang oleh kakek yang tidak dikenalinya, yang sekaligus memaksanya untuk datang ke Jakarta.

Madre—satu kata itu yang membuat saya penasaran setengah mati. Siapa Madre? Dilihat dari sinopsis bukunya, Madre disebut sebagai anggota keluarga Tansen—pemeran utama dalam cerpen ini. Saya dibuat sama penasarannya mengenai Madre seperti Tansen oleh Dee sampai pada pengenalannya.

Plot-twist langsung muncul di awal cerita. Madre adalah adonan biang roti—yap, bukan orang. Tetapi semua pegawai Tan de Bakker sudah menganggapnya sesuatu yang hidup dan telah menghidupi mereka selama puluhan tahun. Madre adalah warisan berharga untuk Tansen dan Tansen adalah harapan baru untuk Madre hidup kembali. Madre bahkan membuat Tansen harus memilih; apakah melepas hidupnya yang serba bebas atau terikat pada toko roti tua di kota yang serba cepat.

Ada perasaan haru yang diam-diam menyelinap acap kali Madre disebut-sebut melalui lorong nostalgia. Bagaimana sebuah adonan biang tua bisa menyatukan orang selama puluhan tahun, menafkahi dan menjadi ibu—Tansen yang baru mengenalinya pun tidak jadi tega menjual Madre dengan harga selangit, meski pengetahuannya mengenai roti nil. Terlalu banyak cerita pada sepotong adonan biang roti itu. Celetukan sederhana Pak Hadi (salah satu pegawai Tan de Bakker) mampu meringkas betapa berharganya Madre ini.

 

“Karena sebetulnya ndak ada yang sanggup menjual ibunya sendiri.”

Hal 41, “Madre”

 

Madre berarti “ibu” dalam bahasa Spanyol.

Bukan hanya rasa haru, juga kelucuan dalam narasi oleh Tansen membuat Madre menjadi semakin menarik untuk dibaca. Komentar-komentarnya mengenai Mei—perempuan Jakarta yang umumnya bergerak gesit dan tak sabaran (saya tak terkecuali), orang yang overdosis kafein (persis saya lagi). Mei bahkan mengamini komentar Tansen.

 

“Kalau bisa satu hari tuh lebih dari 24 jam.” Mei tertawa lepas.

Hal 50, “Madre”

 

Singkat namun berhasil menyadarkan saya bahwa hidup harusnya dinikmati lebih lambat dan santai. Tidak perlu menyolong energi dari bercangkir-cangkir kopi penuh kafein. Toh hidup kita cuma sebentar, masa sih mau dipercepat? 😉

Keirian Mei pada hidup Tansen yang diintipnya melalui blog Tansen perlahan menjelma menjadi keirian saya juga. Hidup serba bebas dan tidak terikat, pergi ke sana-ke mari tanpa beban—setiap hari terasa seperti liburan. Siapa yang tidak terlena dan mampu melepas kebebasan yang begitu merdeka? Tansen juga tidak ingin melepasnya. Namun hati nuraninya tersentil ketika urusan Madre diungkit. Bila Tansen pergi, siapa yang mengurus Madre? Tentu bukan pegawai Tan de Bakker yang sudah uzur.

 

“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” cetus Mei kalem.

Hal 54, “Madre”

 

Diyakinkan oleh Peri Roti-nya, Tansen akhirnya memutuskan untuk menetap di Jakarta dan mengurus Tan de Bakker—atau lebih tepatnya, Tansen de Bakker. Hubungan asmara antara Tansen dan Mei menjadi bumbu penyedap pada cerpen Madre.

Sesungguhnya, cerpen ini bercerita tentang ibu. Dalam personifikasi, tentunya. Maka ada haru di sana, juga rindu serta rasa tak tega ketika ingin meninggalkan. Madre terkesan ‘pasrah’ dengan keputusan Tansen (terlepas memang Madre bukanlah sesuatu yang hidup), seperti ibu yang menurut saja dengan keinginan anaknya—asal itu memang keputusan, yang menurut anaknya, terbaik. Pada akhirnya, Tansen menyerah pada Madre—pada ibu-nya. Tansen, yang sendirinya tidak memiliki sosok ibu pada kehidupannya; sebuah adonan biang roti itu mampu menjadi figur ibunya.

 

 

Nycto

Bisa ditemui hampir di semua sosmed dengan akun: @nycto28

rollinggirl2902@gmail.com

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s