Menikmati “Lari” dalam Cerpen

Kontributor : Cita Pratiwi

Apresiasi untuk cerpen “Lari” karya Kinsia 

Masalah pemilihan jurusan sangat sering atau bisa dibilang pasti terjadi di kalangan anak SMA yang akan lanjut kuliah. Sebegitu seringnya masalah ini terjadi sampai-sampai dijadikan cerpen oleh penulisnya, Kinsia. Memang bukan sebagai masalah utama, melainkan mendukung isi cerita.

Ishka, seorang siswi SMA tingkat akhir merupakan anak yang pandai. Ia sudah diterima di salah satu perguruan tinggi swasta. Sehingga saat tiba jadwalnya konsultasi dengan guru bimbingan konseling, ia merasa tidak perlu berlama-lama.

Guru BP ini namanya Bu Fitri. Masih baru, tapi sudah bisa dikatakan membaur dengan anak-anak. Menjadikan anak-anak nyaman curhat dengannya. Sampai mendapat panggilan kesayangan. Ia pun digambarkan gaul, mengikuti perkembangan zaman, tidak seperti guru-guru pada umumnya.

Sambil melongok ke dalam, kuperhatikan ruang petak ukuran 4×4 itu. Lantainya licin dan mengilap, wangi lemon memenuhi ruangan, buku-buku bertema psikologi tersusun rapi di rak. Tak tampak poster-poster pembagian –seperti poster Wajib Belajar 12 tahun, Perangi Narkoba, atau Keluarga Berencana—di dinding, hanya ada satu papan besar yang ditempeli berbagai jenis kartu pos dari berbagai Negara di dunia. Funky.

Meski demikian, Ishka bersikap menjaga jarak dengan guru itu. Ia sudah anti. Baginya, ia sudah mengetahui apa yang akan ia lakukan ketika lulus dan tidak perlu saran siapa pun. Termasuk guru bimbingan konseling.

Cara bicara Bu Fitri yang semi-formal dan lemah lembut mengingatkanku pada ramah-tamah ala pegawai bank. Maaf ya, Bu, tapi terkesan artifisial.

Tapi sebagai guru konseling, perlahan tapi pasti Bu Fitri melihat ke dalam diri Ishka. Menghujaninya lembut dengan pertanyaan-pertanyaan. Ishka yang cerdas tahu itu. Ia tahu kalau ia sedang dibedah. Namun pada akhirnya, pertahanannya hancur dan ia menyerah.

Pancingan. Jangan dikira aku seperti ikan-ikan lain. Percayalah, jika kusebutkan judul film atau genre tertentu, Bu Fitri akan lebih leluasa memulai psycho-analyze-nya: membaca aku sampai ke akar-akar pikiran.

Dalam keadaan pasrah, merasa bodoh (dan kalah, dan cengeng, dan payah), bendungan air mataku akhirnya jebol.

Tokoh Ishka terlihat tak peduli, tapi di saat yang bersamaan ia punya segi humor. Misalnya saat di-“interogasi”,  sempat-sempatnya ia berpikir akan tisu yang ia habiskan. Contoh lainnya ada di sepanjang cerita, di dalam pikiran-pikiran Ishka, perkataannya. Ini merupakan salah satu ciri khas cerpen Kinsia.

“Kenapa? Cerita ya?”

Bu Fitri menyodorkan tisu. Ini mulai terasa seperti adegan sinetron.

Bagian kesukaan saya adalah:

“Nonton yang gimana, Bu? Nonton film atau nonton tivi?” Kuulur pertanyaan beliau.

Jawaban Bu Fitri menggantung. “Ya nonton.”

“Lumayan.” Balasanku tak kalah gantung.

Di sepanjang cerita banyak terdapat kata-kata berbahasa Inggris. Mungkin penulisnya ingin memberi kesan masa kini, ketika menggunakan bahasa asing di keseharian sudah biasa.

Nobody likes conflicts. Tapi kadang, konflik memang diperlukan. Dari situ kita sama-sama belajar. Go easy on yourself, okay?“

Seperti cerpen-cerpen Kinsia pada umumnya, cerpen ini manis. Untuk yang satu ini kadarnya tidak keterlaluan (perbandingan dengan beberapa cerpennya yang lain). Penyelesaiannya pun tidak berlebihan, terasa apa adanya. Tapi berhasil menimbulkan efek lega.

Cerpen yang merupakan cerminan keseharian ini mengandung nilai-nilai kehidupan. Masalah yang diangkat adalah masalah anak dengan orang tua. Menurut Bu Fitri yang ahli, kalau punya masalah harus diutarakan.

“Kamu pasti mikirnya, kamu ngertiin semua orang karena kamu sayang. Kadang, sayang itu bukan berarti diam saja, nerima saja. Mengingatkan juga bagian dari sayang. Bahkan disiplin bisa jadi ungkapan rasa sayang.”

Terlihat alami, sederhana, dan manis. Sebuah cerpen yang kiranya cocok untuk semua orang.

Cita Pratiwi

汉学系乓乓乓

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s