Di Ujung

Kontributor : Adhyasta D. Gaspard

Apresiasi untuk cerpen “Hari Tua” karya Lina Chan dalam Republika, 4 November 2012

Bagaimana hari tua Anda kelak, sebentar lagi, sekarang?

Pertanyaan tersebut muncul ke permukaan setelah saya membaca cerpen karya Lina Chan tersebut, disusul pertanyaan lain yang lebih ke arah subjektif. Dalam cerpen ini kita diajak menyelami tokoh tua renta yang sudah pikun, tetapi tidak mau menyebut dirinya pikun.

“Aku bukan nenek tua yang pikun. Aku cuma pelupa.”

Cerpen ini seperti menggambarkan siklus hidup yang tidak bisa lepas dari manusia, dan sifat-sifat mereka. Juga bagaimana kita lahir dan mati yang terasa berada di jalur yang sama.

Kita lihat bagaimana tokoh ini menceritakan dirinya:

“Kata orang, aku sudah mulai pikun. Aku sudah mulai ngelantur. Ngomong panjang lebar gak nyambung . Kadang ngomong sendiri, ketawa sendiri, dan katanya, aku sering menjerit-jerit tidak jelas, kemudian menangis sendiri.”

Tak ubahnya seperti anak kecil, balita mungkin, atau batita. Mereka seperti orang pikun yang tidak ingat apa yang sudah mereka kerjakan. Mereka juga seperti orang ngelantur, suka mengatakan sesuatu yang tak jelas, dan kadang berteriak, juga senyum sendiri, dan menangis tanpa sebab. Mungkin memang ada sebab, cuma kita tidak mengerti sebab tersebut. Seperti tokoh dalam cerita ini.

“Kadang aku lupa membedakan api dan air, kadang aku lupa membedakan nasi dan pasir, kadang aku lupa membedakan pagi dan malam. Sampai-sampai aku lupa namaku sendiri.”

Anak kecil pun masih belum bisa membedakan berbagai benda. Mereka bisa saja memakan pasir atau kerikil, mengira benda itu adalah makanan, dan tidak bisa membedakan siang dan malam. Mereka juga masih belum mampu mengidentifikasi sebutan nama.

“Berkali-kali aku nyasar ke kamar mandi, dua kali ke kamar tidur cucu-cucuku, lalu akhirnya setelah tiga kali bolak-balik ruang TV, aku baru bisa menemukan dapur!”

Anak kecil yang sudah berjalan, juga masih dibingungkan dengan tempat di sekitar mereka.

“Kuambil beberapa potong daging, kumakan dengan lahapnya. Agak lama memang. Maklum, gigiku tinggal bersisa beberapa.”

Mereka juga tidak bisa makan cepat, karena gigi mereka masih belum tumbuh sempurna.

“Aku belum bisa berhenti makan sampai akhirnya piring yang kupegang terlepas.”

Dan mereka ceroboh juga.

Berbandingan ini masih berlanjut, tetapi dengan selingan perlakuan si anak tokoh, Zaenab. Ia melotot geram ketika ibunya menghancurkan dapur dan memecahkan piring. Kita bisa andaikan yang membuat onar adalah Zaenab yang masih kecil, akankah tokoh kita akan melotot geram juga? Dan berteriak seperti yang Zaenab lakuknan.

“‘Mak, Mak…. Kapan hidupku tenang, Mak?!!’ Zaenab berteriak marah.”

Jawabannya kemungkinan besar tidak, tokoh kita akan memaklumi kejadian itu, karena Zaenab masih kecil, masih tidak tahu apa-apa, seperti pengakuannya.

“Selama itu, aku tak pernah marah berlebihan kepadanya. Aku menasihatinya dengan perkataan lembut.”

Dan seperti anak-anak pula yang tidak bisa menahan sekresi, tokoh kita yang sudah tua renta juga melakukannya. Pikirannya pun hampir mirip anak-anak yang ingin segera menyelesaikan masalah yang ia lakukan sebelum ibunya melihat, namun hasilnya tambah berantakan. Dan Zaenab bertindak seperti seorang ibu, ibu yang kejam, yang menghukum si nakal dengan cambukan, Sayangnya ia melakukan hal tersebut pada ibunya sendiri.

Cerpen ini seperti mengajarkan pada kita bahwa dulu, sebelum kita bisa mengingat sesuatu, kita membebani orangtua dengan tingkah laku dan kenakalan kita. Membuat mereka repot dan susah, namun mereka tetap sabar dan merawat kita sampai dewasa. Dan ketika kita kelak akan merepotkan mereka karena usia tua, seperti yang pernah mereka lakukan dulu, apakah mereka akan sabar dan merawat kita dengan baik?

“Dan suatu saat aku berharap dia akan melakukan hal yang sama kepada orang yang dikasihinya, terutama aku, ibunya yang mengasuhnya dari kecil.”

Sebagian besar akan berakhir seperti ending dalam cerita. Mereka akan menyingkirkan kita yang sudah mulai merepotkan, dan membayar orang lain untuk merawatnya.

Tambahan:

Ada dua hal yang sedikit membuat saya bertanya-tanya kemudian, yaitu rasa lapar tokoh “aku” dan adegan di dapur saat ia ingin ke toilet.

Apakah pikun bisa juga mempengaruhi lambung?

Dalam cerita tersebut diterangkan bahwa tokoh “aku” sudah makan, bahkan dengan rincian seperti itu ia tidak akan merasa lapar, namun kenapa ia juga merasa lapar? Di sinilah letak pertanyaan saya. Apakah ini salah satu unsur pembentuk cerita yang bertujuan untuk mengesankan bahwa tokoh utama memang benar-benar tidak dikasih makan dengan simbol ia kelaparan, dan Zaenab yang kejam berbohong bahwa tokoh utama sudah makan, atau memang ada kekeliruan dalam hal ini.

Kemudian pada adegan di dapur:

“Dengan susah payah aku mencapai toilet yang ada di samping dapur.”

Dalam benak saya ia sudah berada di depan pintu toilet, dengan rujukan kata “susah payah” (proses ia menuju ke sana) dan “mencapai” (sampai di tempat tujuan). Namun kalimat selanjutnya seakan kontradiktif dengan kalimat tersebut.

“Jaraknya sangat dekat. Aku tidak perlu melewati Zaenab di depanku yang sedang fokus membersihkan dapur, cukup berjalan menyamping, di sudut kanan dapur. Tapi, perasaan mulas, sakit, dan lemas membuatku lama bergerak. Aku paksakan kakiku untuk berjalan secepat mungkin. Secepat yang kubisa untuk ukuran nenek-nenek. Tapi, aku tak kuat. Perutku serasa membuncah. Astagaaaaa… aku benar-benar tidak sanggup lagi. Di tengah jalan, berhamburanlah cairan kotoran-kotoran manusia berumur 80 tahun.”

Saya berusaha membayangkan kejadian ini berada di dalam toilet dan tempat yang dituju adalah kloset. Namun kalimat selanjutnya:

“Zaenab pasti akan sangat marah. Dan, secepat yang kubisa, aku paksakan untuk bisa menuju toilet. Aku berharap masih ada waktu untuk bisa membersihkan kotoran-kotoran yang berceceran di lantai sebelum Zaenab melihatnya.”

Ia masih dalam proses menuju toilet, dan akhirnya berhasil.

“Aku berhasil masuk toilet, membersihkan badanku yang bau oleh kotoranku sendiri.”

Saya tidak berani berasumsi macam-macam, atau menuduh ini itu. Saya hanya ini jawaban, dan hal tersebut sudah cukup.

Adhyasta D. Gaspard

Email: adhyasta44@gmail.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s