Amanat Cerpen

Kontributor : Dayzky

Apresiasi untuk cerpen “Guci” karya Ch. Kasintoe dalam Femina, 6-12 Mei 1999

Wiwid mendapat guci dari mertuanya. Ia tidak suka guci itu, terlebih mertuanya itu selama ini tidak begitu akur dengannya. Mertuanya tipe wanita tradisional yang mementingkan kerapian, kebersihan, dan keteraturan, sedangkan Wiwid tipe wanita seniman yang dulu pernah bersekolah seni rupa dan kemudian menjadi fotografer.

Wiwid pun mencari berbagai cara untuk menyingkirkan guci itu, mulai dari menempatkannya di dekat para tukang yang sedang bekerja memperbaiki rumah, menyerahkannya pada tetangga yang berminat walau kemudian dikembalikan lagi, hingga menyimpannya di kabinet.

Namun tidak lama setelah itu datang kabar bahwa Ibu mertua pingsan. Wiwid dan suaminya pun mengunjungi wanita itu. Seakan tahu bahwa itu kesempatannya yang terakhir, Ibu mertua mengungkapkan pada Wiwid bahwa selama ini dirinya justru respek bahkan iri pada menantunya itu. Rupanya dulu Ibu mertua pun hendak menjadi seniman. Namun karena dilarang orang tua dan keadaan zaman pada masa itu, ia terpaksa mengubur impiannya itu dan segera menikah.

Setelah mempercayakan anaknya pada Wiwid, Ibu mertua pun meninggal. Sepulangnya dari pemakaman, Wiwid mengeluarkan guci itu dari kabinet. Namun rupanya karena tidak hati-hati sewaktu memasukkannya ke dalam kabinet, guci itu telah rusak akibat tertimpa oleh botol. Penyesalan Wiwid menjadi-jadi karena dia belum sempat memberi tahu Ibu mertuanya bahwa dirinya telah hamil.

***

Setelah membaca cerpen ini, kita mungkin dapat langsung menyimpulkan pesan moralnya: bahwa keberanian menggapai cita-cita akan mendatangkan pujian sekaligus rasa dengki pada orang lain; bahwa penyesalan itu akan muncul belakangan; dan bahwa tidak sebaiknya kita membalas perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain dengan niat yang buruk pula—apalagi jika itu ibu mertua sendiri.

Amanat yang jelas dan penceritaan yang sederhana menjadikan suatu cerpen terkesan “mudah”, sehingga kadang ada kesan bahwa jenis cerita ini kurang melecut pembaca untuk berpikir.

Tapi toh baik cerpen “mudah” maupun cerpen “susah” ada pembacanya masing-masing, dan sering kali yang “mudah” itulah yang paling banyak dibaca. Lagi pula, tanpa utak-atik bentuk ataupun “estetika” yang wah, amanat dalam cerita itu sendiri sudah dapat menimbulkan suatu pikiran dalam benak pembaca.

Apalagi jika amanat itu konteksnya sangat nyata dalam keseharian, dan sangat mungkin dialami siapa saja.

Barangkali ada banyak wanita yang dapat mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh dalam cerpen ini, misalnya saja dengan Wiwid, yang merupakan figur wanita karier, telah bersuami, dan akan menyambut kedatangan anak pertama, namun memiliki masalah dengan Ibu mertua. Setiap orang punya cita-cita, begitu juga Wiwid dan ibu mertuanya. Wiwid berani dan bebas dalam meraih cita-citanya, sementara Ibu mertua mesti mengubur itu dan akibatnya iri pada dia yang berhasil. Selain itu, pada akhirnya baik Wiwid maupun Ibu mertua mengenangkan sikap mereka yang telah lalu—siapa yang tidak pernah begitu? Pada suatu waktu dalam hidup, kita mungkin pernah berpikir: Kenapa saya berbuat seperti itu pada beliau? Kenapa saya tidak berani mengambil keputusan waktu itu? Persis yang dialami Wiwid dan ibu mertuanya, hanya saja berlainan bentuknya.

Maka, setelah membaca cerpen ini, kita mungkin akan diingatkan pada keadaan kita sendiri; sikap kita pada seseorang, atau keputusan pada masa lalu yang menggiring kita pada jalan yang sekarang, apa pun, yang berujung pada pertanyaan: Apakah ini memang yang terbaik? Akankah kelak saya menyesalinya? Akankah kelak saya bisa menerima keadaan akibat keputusan saya yang sekarang, yang tidak bisa dipastikan baik-buruknya? Bisakah saya terus mempertahankan sikap saya yang sekarang (entahkah itu melawan ataupun menerima)? Demikian, cerpen yang tampaknya “mudah” pun bisa bikin oleng jika amanatnya direnungkan betul-betul.[]

Dayzky

sedang menggiatkan diri membaca, menulis, dan menerjemahkan

Iklan

One thought on “Amanat Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s