Lara yang Sempurna

Kontributor : Vinett

Apresiasi untuk cerpen “Sempurna” karya Avianti Armand dalam Koran Tempo, 30 Januari 2011

Namanya Lara, dan ia semacam terobsesi dengan kesempurnaan. Sebab demikian yang dituntut orang tuanya semenjak kecil. Perkenalan saya dengan Avianti Armand belum lama ketika seorang teman merekomendasikan cerpennya berjudul “Perempuan Pertama”, yang mengambil kisah dari Kitab Kejadian tentang kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Sebenarnya saya lebih tertarik ingin mengulas cerpen tersebut namun urung karena satu dan lain hal. Lalu saya teringat dulu pernah sekilas membaca cerpen beliau yang lainnya, tentang sebuah kehilangan. Dalam ingatan saya Avianti Armand identik dengan narasi yang luar biasa cantik, tapi ada sesuatu yang gelap dan liar muncul dari arah yang tak terduga. Seperti perempuan yang bergerak gemulai dari satu tempat ke tempat lainnya, namun ada bayangan gelap yang turut merisaukan pembaca.

Dalam pilihan tema, ia seperti sudah fasih bicara mengenai kesedihan, perpisahan, dan tentu kehilangan-kehilangan. Cerpen “Sempurna” ini pernah dimuat di Koran Tempo, 30 Januari 2011. Berkisah tentang Lara dan Restu, dua perempuan yang masih bersaudara jauh dengan sifat dan perwujudan luar biasa berbeda. Dari sudut pandang Restu pembaca diajak mengenal si cantik Lara, yang selalu berusaha tampil sempurna dan menginginkan semuanya berjalan sempurna pula. Yah, setidaknya sempurna menurutnya. Ia tidak hanya cantik, segudang kelebihan dan prestasi telah membentuk dirinya menjadi paket lengkap perempuan idaman siapa saja. Siapa yang tidak iri, barangkali semua orang juga ingin demikian. Nyatanya meski ia begitu cantik, kisah cintanya tidak bernasib sama. Ia kerap dihadapkan pada kegagalan demi kegagalan.

Kadangkala seperti itu, perempuan dinilai dari caranya membawa diri di depan orang lain. Hingga ketika ada perempuan satu yang terlihat lebih dari yang lainnya, ia kemudian dijadikan standar. Padahal tidak ada yang betul-betul general dalam diri manusia, meski sama kelaminnya. Perempuan seperti tidak menilai dirinya sendiri, secantik apa pun ia, sesempurna apa pun ia. Orang di luar dirinyalah yang melabelinya, orang tua, keluarga, suami. Demikian pula Restu dan Lara. Restu, perempuan yang dalam penampilan cenderung kasual dan biasa-biasa saja. Jika didasarkan pada wujud Lara yang menjadi standar dalam berpenampilan. Standar perempuan yang benar, bahkan menurut ibu Restu sendiri. Lara yang menata rambutnya, memoles wajahnya, pandai bermain piano, cerdas, pintar. Ditambah lagi standar-standar lain yang semakin membuat jauh jika ingin diperbandingkan, seperti gaya hidup, misalnya.

Lara adalah impian dari orang tuanya, dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Seperti sebuah karya seni yang dibuat dengan sebuah tujuan, dibuat rancang bangunnya, dibentuk memakai bahan yang mahal lagi berkualitas. Demi sebuah pengakuan.

“Kebetulan Lara juara umum lagi…. Kebetulan puisi Lara dimuat di koran minggu…. Kebetulan Lara terpilih mewakili sekolahnya untuk lomba nyanyi…. Kebetulan minggu depan Lara resital piano di Gedung Kesenian….” Dengan segala kebetulan itu, mereka pasti keluarga yang sangat beruntung. 

Namun tentu saja, perempuan seperti Lara bukan benda berisi udara kosong. Ada yang terbentuk dalam dirinya seiring tekanan dan tuntutan yang ia dapat. Sesuatu memengaruhi perkembangan psikologisnya secara tersirat diceritakan oleh Restu, bahkan sejak kecil. Ketika itu ia mendapati Lara memperlakukan bonekanya bernama Aral sebagai objek pelampiasan sifat destruktifnya hanya karena tidak bisa bermain piano. Ia mulai menuntut bonekanya untuk menjadi manusia, seperti orang tuanya menuntut dirinya menjadi istimewa.

Aku tak berani bertanya tentang jarum yang menghunjam sebelah mata Aral. Belakangan aku baru sadar, Aral adalah Lara yang dieja terbalik.

Aral, si boneka adalah cerminan dirinya, juga sekaligus pelampiasan atas kekesalannya. Hingga akhirnya sifat seperti itu mengikutinya sampai dewasa, mungkin sebab itulah perjalanan cintanya dari pelukan pria satu ke pria yang lain hanya berujung perpisahan. Gadis itu juga disiratkan selama tinggal di luar negeri jarang punya teman. Karena ujung-ujungnya ia kembali pada Restu, berkirim surat dan curhat tentang kekasih-kekasihnya. Sebagian mungkin hanya bualan yang dilebih-lebihkan. Rasa ketidaknyamanan Restu sepertinya berasal dari sana, seolah kebutuhan Lara akan saudaranya itu sekadar untuk pamer serta memperlihatkan betapa menyenangkan hidupnya. Sementara ia juga tahu bahwa Lara di saat yang sama hanya menghibur diri saja. Ini yang membuat sepanjang penceritaan Restu merasa inferior, sekaligus terasa sedikit muram di beberapa bagian.

Ada sesuatu dalam diri Lara yang mengganggu. Obsesinya akan kesempurnaan. Ketika pada suatu titik ia merasa akan mencapai itu lalu semua roboh dan berjalan tak sesuai keinginannya, seperti akhir cerita yang selalu dapat diduga. Kegagalan yang berulang. Suatu waktu ia akan mati rasa lalu berubah menjadi perempuan yang mengerikan. Puncak dari sifat tak terkontrol Lara dalam cerpen ini digambarkan dengan gelap. Bagaimana ia menertawakan dirinya sendiri, dirinya yang berhasil menjebak kekasihnya untuk balas dendam. Mungkin juga puncak rasa frustrasinya. Bahkan hanya dengan kata-kata  yang paling sederhana, “Ini sempurna!”

Avianti bermain dengan berbagai isu yang selalu relevan di setiap zaman. Bahwa tekanan memengaruhi jalan pikir seseorang, bahwa standar keperempuanan telah membangun sekat-sekat tak terlihat sesama kaumnya, bahwa definisi sempurna hanya bualan belaka yang lambat laun mampu membunuh akal sehat seseorang. Dan Lara adalah ironi atas kelaraan hidupnya sendiri. Jika ada waktu sempatkanlah baca-baca tulisan lain dari Avianti dan temukan kelembutan narasi serta kepiawaiannya menelusupkan makna tersembunyi di dalamnya.

*****

Iklan

One thought on “Lara yang Sempurna

  1. Saya tertohok dengan ini: ” Perempuan seperti tidak menilai dirinya sendiri, secantik apa pun ia, sesempurna apa pun ia. Orang di luar dirinyalah yang melabelinya, orang tua, keluarga, suami.” Wahaha. Cerpen yang mengusik, memang, justru karena isunya sangat biasa: membanding-bandingkan diri dengan orang lain dan berusaha membuat diri tampak lebih. Itu terus2an terjadi. Kebetulan belum lama ini kayaknya saya baca di 9gag apa ya, perempuan itu semacam judgemental dengan sesamanya :/

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s