Cerpen

Kontributor : Adhyasta D. Gaspard

Apresiasi untuk cerpen “Mudik” karya Lie Charlie dalam Kompas, 13 November 2011

Cerpen adalah cerpen, baik tanpa alur atau konflik. Kita letakkan sejenak unsur-unsur yang membangun cerpen, seperti duduk di halaman rumah sambil menikmati bintang-bintang, tanpa harus peduli pada dering ponsel pintar, yang meraung-raung karena ada pesan, atau sekadar like, bukan panggilan dari seseorang.

Dalam cerpen “Mudik” karya Lie Charlie, saya tidak menemukan adanya alur dan konflik, tetapi tulisan itu tetap terasa utuh selayaknya sebuah cerpen, yang punya rasa estetis dan memberikan pengalaman baru bagi pembaca.

Cerpen tersebut seakan-akan membawa kita menyelami tokoh tanpa nama yang mudik ke kampung halaman, dan menceritakan apa yang ditemuinya di sana seperti seorang teman. Anehnya, saya merasa benar-benar dekat dengan tokoh ini (bahkan merasa bahwa ia adalah saya sendiri) dan orang-orang yang ia ceritakan.

Kawan kita ini, menceritakan keluarganya, teman-temannya, orang-orang yang ia kenal dan kenang, dengan gaya akrab dan sentilan-sentilan halus bernuansa nostalgia.

Di mulai dengan menceritakan Ayah yang memiliki kebiasaan pada pagi hari, seperti yang diingat betul oleh kawan kita ini:

“Ayah adalah ayah dan kita tahu orang tua tidak berubah. Ia bangun untuk melakukan shalat subuh. Selesai mandi, ayah akan duduk di beranda. Di atas meja rotan dekat vas berisi kembang plastik, sudah tersedia segelas kopi. Setelah minum seteguk, ayah akan mengeluarkan skuternya dari garasi dan menghidupkannya.”

Dan bagaimana penulis dengan lihainya menyusupkan kenangan romantis pada sebuah benda yang bernama kacamata. Serta, bagaimana sang Ayah menyimpan sarung baru yang dibelikan oleh anak-anaknya.

Di sini kita bisa melihat si Ayah tidak mudah membuang sebuah benda, atau menggantinya dengan yang baru, terlebih jika benda itu mempunyai kenangan khusus di kehidupannya. Ia juga bukan orang  yang tidak suka benda baru. Sarung yang dibelikan anak-anaknya disimpan di dalam lemari. Mungkin ia hanya merasa sayang pada sarung-sarung itu, yang akan lusuh dan dibuang ketika dipakai. Mungkin ia menyimpan sarung-sarung itu untuk mengenang anak-anaknya setelah kembali ke kehidupan mereka masing-masing.

Lain halnya dengan Ibu, yang menjalankan tugas sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya, dan tidak pernah mengeluh. Di sini, kawan kita membandingkan dengan istrinya:

“Ibu tidak mengomel soal uang belanja layaknya istri kita merecoki kita. Ibu tidak pernah meminta ayah keluar malam-malam seperti istri kita menyuruh kita membelikannya martabak pada pukul sebelas malam.”

Entah ini sebuah sudut pandang berbeda dari seorang anak dan suami, atau memang istri yang berada di era berbeda, bisa bersikap berbeda pula.

Ada kakak perempuan yang pemalas, dan memiliki suami pemalas. Mungkin memang benar, orang pemalas berpasangan dengan pemalas.

Lalu ada adik laki-laki yang sebagaimana budaya orang yang belum bekerja, meminta uang jajan pada kakak-kakak yang sudah bekerja. Ia sudah memiliki pacar. Pacar yang berpenampilan tidak biasa, sehingga kawan kita mempertanyakan kegadisannya.

Setelah keluarga, kawan kita menceritakan teman-temannya. Mulai dari seseorang yang bernama Dahlan. Kita kemungkinan besar memiliki seorang teman yang mirip Dahlan, dengan nama sama atau berbeda. Dahlan yang jorok, sampai besar pun ia teledor, tetapi berhasil menjabat sebagai direktur. Masa depan memang tidak bisa ditebak, tetapi terkadang selalu mengejutkan.

Kemudian ada Sumarni. Kita mungkin juga punya teman yang mirip Surmarni. Belum menikah meski rambutnya telah beruban, dan suka belajar ke berbagai belahan dunia sehingga mendapat gelar S-4. Tidak semua perempuan tujuannya menikah dan punya anak.

Kita pasti memiliki teman yang mirip Joko, dan bukan satu-dua saja. Joko juga memperlihatkan bahwa orang-orang bisa sayang pada koruptor, jika kena cipratan uangnya, dan menjadi musuh jika tidak ikut mencicipi uang tersebut.

Dan Santi, si Primadona sekolah. Kita pasti juga pernah kagum pada teman perempuan kita, yang juga dikagumi teman-teman kita. Sayangnya, kebanyakan dari perempuan seperti ini diambil oleh orang lain, yang bukan teman, dan bukan warga sekolah. Dan cinta akan berubah makna dan rasa setelah lulus dari kelas 12.

“Cinta memang kadang-kadang tidak mudah. Perlu keberanian untuk membawa cinta keluar dari sekolah. Namun, banyak cinta kehilangan sihir dan sarinya setelah meninggalkan halaman Aliyah.”

Sekolah bisa disebut rumah kedua, dan kadar kenangannya sama banyaknya dengan rumah. Kita mengingat gedung-gedungnya yang tak lagi sama, dan guru-guru yang mulai menua, sakit-sakitan, atau sudah meninggal, atau sudah dipecat karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

“Kehidupan guru, entah mengapa, selalu tragis.”

Cerpen ini bukan saja bernuansa mudik dan mengenang masa lalu, tetapi juga memperlihatkan masa lampau yang digerus zaman, dengan gaya nostalgia yang akrab. Kita bisa merasakan tokoh-tokoh yang diceritakan begitu hidup dan melekat di ingatan, tanpa tegur sapa langsung, konflik, atau alur yang jelas.

“Waktu seperti berhenti di sini. Mudik seperti kembali ke masa lampau. Bersyukurlah bahwa kita masih sempat mudik untuk menikmati dan menghormati masa silam.”

Begitu pun cerpen, yang bisa digunakan untuk membekukan waktu, suasana dan perasaan di masa lalu. Kita bisa kembali ke masa itu dan menikmatinya lewat sebuah cerpen, tak peduli kemasannya berbeda dengan yang lain. Dan kita bisa berbagi dengan banyak orang, bahkan ketika sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kehidupan kita akan dikenang, bermukim di ingatan orang-orang, lewat sesuatu yang bernama cerpen.

Adhyasta D. Gaspard

adhyasta44@gmail.com

sedang koma di Pertal Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s