Boneka Kura-kura dan Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kontributor: Ristirianto Adi

Apresiasi untuk cerpen “Kereta Kura-kura” oleh Citapraaa di Kemudian.com tanggal 22 Agustus 2014 (baca di sini)

Gaya yang melompat-lompat sepertinya sudah menjadi ciri khas dari penulis, sepaket dengan kecenderungannya dalam meminimalisir deskripsi latar dan suasana. Beberapa orang mungkin akan menganggap ceritanya kabur dan membingungkan, yang lain akan mengatakan gaya seperti ini asyik dan menantang untuk diikuti. Bagi saya, sekalipun memang benar terkadang ia kabur dan membingungkan, pada saat-saat lain ia juga asyik dan menantang. Satu hal, setidaknya, yang sulit disangkal siapapun: gaya bertutur penulis memang sudah berasa unik, lain dari yang lain.

Dalam “Kereta Kura-kura”—yang penulisnya sendiri katakan berawal dari keinginannya menciptakan romance yang “lain”—ia mengkisahkan konflik batin Ida, yang pengalaman cintanya tidak semanis nama yang disandangnya. Setelah jatuh cinta dengan seorang pemuda yang tak pernah kita ketahui nama lengkapnya (kecuali panggilannya, “Ke”), Ida mendapati perasaannya tak terbalas. Malah ia harus menyaksikan tragedi cinta pasangan lain.

Cerita ini disampaikan dari sudut pandang orang pertama, Ida sendiri. Gaya bertuturnya terkadang jenaka, terkadang sendu, terkadang sinis, terkadang pula puitis. Tanpa perlu banyak penjelasan tentang sifat-sifat Ida kita bisa langsung mengetahui orang seperti apa Ida itu. Penuturannya telah menceritakan lebih banyak daripada yang diungkapkan di permukaan: tentang gejolak-gejolak batinnya, tentang insekuritasnya, tentang sinismenya. Di balik penceritaan yang berkesan sederhana dan minimalis, penulis menyembunyikan banyak hal.

“Dengan lega aku melihat kakakmu pergi. Ehm.. bukan apa-apa. Teriakannya itu loh. Gimana aku bisa tahan kalau udah jadi adik iparnya? …maksudku.. ah, aku harus menyapu. Lagipula kalian penasaran kan siapa Si Pengendara itu? Bukan aku.”

Penuturannya luwes dan ringan, juga seakan memiliki semacam ‘lompatan’. Seakan dari sebuah topik di satu kalimat, penulis bisa melompat ke topik lain di kalimat berikutnya, namun masih terasa memiliki hubungan dengan kalimat sebelumnya.

“Seminggu di luar kota. Sudah termasuk cari oleh-oleh. Jauh juga, di luar provinsi. Naik pesawat. Aku termangu. Bisakah seminggu tanpanya? Ah, toh selama ini juga aku bertemu dengannya sekali seminggu.”

Bukan hanya gaya bertutur (narasi) yang dibikin melompat, alur cerita juga dibikin melompat-lompat, persis sebuah film dengan adegan pendek-pendek. Pada satu bagian penulis bisa bercerita tentang dua sejoli yang saling bercakap, pada bagian berikutnya ia bisa langsung bercerita tentang kerja bakti di sebuah gang. Sekilas tidak nyambung, tapi penulis bisa meramunya dalam jalinan yang masuk akal.

Penulis juga—bukan hanya dalam cerita ini, sebenarnya—senang memasukkan unsur-unsur yang tidak tampak berguna secara langsung bagi perkembangan cerita. Mulai dari dialog, kejadian, bahkan tokoh-tokoh. Pada satu bagian ia bercerita tentang Ida dan teman-temannya yang mendengarkan berita gembira pernikahan seorang teman yang lain. Teman yang menikah ini tidak relevan sama sekali dengan konflik utama (meskipun ia memang mendapatkan peran, tapi di bagian paling akhir), juga pernikahannya tidak pernah dibahas lagi. Sekilas kita mungkin membatin, kenapa ini harus diceritakan? Namun pada pembacaan kedua kita pun menyadari bahwa bagian ini diceritakan bukan tanpa tujuan sama sekali, fungsinya adalah untuk mempertegas kegalauan Ida yang takut ‘ketinggalan’, bahkan mungkin menjadi perawan tua (karena teman Ida sudah menikah, maka kita bisa berasumsi bahwa Ida sudah cukup umur untuk menikah juga). Secara halus penulis telah meningkatkan intensitas konflik, menjadikannya lebih urgen.

Dengan trik-trik seperti ini, menurut pendapat saya, penulis secara efektif berhasil memaksa pembaca menyelesaikan ceritanya, tanpa perlu embel-embel misteri apalagi suspense. Namun di sisi yang lain, justru trik-trik ini jugalah yang menjadi lubang dalam ceritanya.

Ida bercerita tentang sebuah “taman baca” tempat salah satu tokoh utama menjadi relawan, lalu secara mendadak mengatakan “taman baca” tersebut berada di seberang rumahnya. Ida bercerita bagaimana Ke jatuh cinta dengan gadis relawan taman baca, lalu mendadak gadis relawan taman baca itu mengalami kecelakaan. Ida bercerita Ke mengikuti seminar di luar kota, lalu mendadak Ke pulang dengan membawa boneka kura-kura buatan Ida, Ida lalu mengatakan ia telah menelepon temannya yang tinggal di kota tujuan Ke untuk menjualkan boneka buatannya itu. Bagian-bagian ini menurut saya agak sedikit kurang meyakinkan.

Simak juga inkonsistensi yang diciptakan penulis dalam paragraf ini.

“Pertemuan itu berakhir perpisahan di tempat yang sama. Aku merasa hina mengakuinya, tapi bagian hatiku yang hitam senang mengetahuinya kecelakaan. Bukan kecelakaan parah. Ia terserempet motor. Ia dirawat beberapa minggu karena lukanya yang parah. Rambut cantiknya terpaksa dipangkas habis. Sekarang perban menyelimuti kepalanya, juga tangan dan betisnya. Ia menolakmu menjenguk. Bunga-bunga yang kau bawa berakhir di tempat sampah.”

Sebenarnya cerita ini dimaksudkan penulis sebagai cerita bersambung. Tagar di Kekom pun adalah “Cerita Bersambung”. Tapi saya merasa tidak dilanjutkan pun cerita ini sudah pas. Memang masih ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab (seperti, misalnya, kenapa Ida bisa tahu pengalaman Ke di perlintasan kereta?), namun, bukankah misteri selalu membuat sesuatu menjadi lebih menarik? Karena pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu “Kereta Kura-kura” menjadi cerpen romance yang lain dari yang lain: halus, misterius, ambigu. Setiap orang yang menyukai genre romance saya kira wajib membacanya.

Ristirianto Adi

Pelajar SMA. Bisa dihubungi lewat ristiriantoadi@gmail.com dan melalui blog.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s