Gerimis Senja di Praha

Kontributor: Liesl
[Apresiasi untuk cerpen ‘Gerimis Senja di Praha‘ karya Eep Saefulloh Fatah]

Cerpen ini menceritakan tentang pertemuan seseorang dengan wanita cantik di Praha bernama Elena. Perjumpaan mereka berawal di sebuah monumen tidak populer karya Olbram Zoubek yang dibangun setelah runtuhnya komunisme di Ceko, berisi pesan kebusukan komunisme yang menawarkan kekayaan dengan harga yang terlalu mahal.

Pada pertemuan kedua mereka, Elena menyatakan keinginannya untuk bunuh diri. Merkea kemudian pergi ke kamar hotel orang tersebut. Pada masa komunisme berkuasa, kehidupan Elena dimanjakan oleh segala fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Namun begitu demokrasi berkuasa, orang-orang mulai menjadi kompetitif dan keluarganya menjadi korban. Orang tuanya dipecat dari pekerjaan mereka, sementara kakak-kakaknya sibuk dengan urusan sendiri.

Suatu hari Elena ditawarkan pekerjaan menjadi pramusaji di sebuah restoran di Berlin. Ia ditipu dan dijual ke tempat prostitusi. Setelah setengah tahun ia berhasil kabur dan kembali ke Praha. Namun keadaan ekonomi yang sulit memaksanya kembali menjadi prostitusi, kali ini dengan keinginannya sendiri.

Seperti alur pada film-film romantis, ketika sepasang manusia menghabiskan malam di kamar yang sama, sementara yang satunya dalam kondisi rapuh seperti pajangan yang retak bila disentuh, mereka sudah pasti menghabiskan malam bersama.

Baru pada akhir cerita diungkap bahwa orang ini adalah Lusi. Wanita dengan suami dan anak-anak yang menunggu kepulangannya di Jakarta.

Awalnya pembaca sengaja dituntun untuk berpikir bahwa orang yang bertemu Elena ini adalah seorang pria.

“Bajumu putih, sedikit berenda. Kalau saja matahari sedang berbaik hati pada Praha, rok tipismu tentu menerawang pula.”

Bagi yang jeli, ada sedikit petunjuk bahwa orang yang bertemu Elena ini bisa jadi seorang perempuan.

“Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai.”

Dalam cerpen tidak dijelaskan apa urusan Lusi pergi ke Praha, tapi saya ingin mengasumsikan bahwa Lusi pergi untuk urusan pekerjaan. Karena Lusi meninggalkan keluarganya di Jakarta, dan mereka hanya bertemu saat senja sudah datang.

Ada saat ketika kita bepergian sendiri, kita merasa seperti orang dengan identitas yang berbeda. Tak ada kenalan yang akan menilai atau mengikat kita. Terutama jika kita merasa penat dengan rutinitas dan pergi mencari kebebasan sementara.

Secara logika, saya tidak akan mengajak orang asing masuk ke dalam kamar hotel saya sekalipun ia sama-sama perempuan. Tapi jika saya sedang dalam pelarian kenyataan, saya tidak akan menampik kemungkinan bahwa saya akan melakukan hal yang sama dengan Lusi. Keliaran yang Lusi lakukan semata-mata adalah pelampiasannya dalam mencari kebebasan, memotong rutinitas, bukan karena ia tidak lagi peduli pada keluarganya di Jakarta.

Cerpen ini membuat saya berefleksi tentang bagaimana rutinitas dan lingkungan dapat membentuk topeng identitas seseorang. Ada topeng yang kita pakai di depan umum, topeng yang kita pakai di sekitar orang terdekat kita, dan kadang kala ada topeng yang kita pakai saat kita sendiri. Kita begitu terbiasa memakai topeng hingga tidak ingat lagi cara melepas topeng bahkan saat kita sendirian.

Baru ketika kita benar-benar bebas dan jauh dari rutinitas, kita mampu melepas topeng itu. Lantas setelah melepas topeng tersebut, kita bertanya-tanya lagi siapa wajah yang kita lihat di cermin? Terlalu lama memakai topeng dapat membuat seseorang lupa akan dirinya sendiri. Ia tidak lagi ingat apa yang ia inginkan ataupun yang ia benci. Ia seperti halaman buku kosong yang harus mencari lagi hal baru untuk mengisinya. Dalam krisis identitas itulah sisi terujujur manusia baru terungkap.

Liesl
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s