Drama di Telepon Umum

ARIAN
Kontributor: Ristirianto Adi
[Apresiasi untuk cerpen ‘Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta’ dari kumcer ‘Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta’ karya Seno Gumira Ajidarma (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2003)]

“Pada sebuah telepon umum, seorang berbicara dengan wajah gelisah.

‘Katakan sekali lagi, kamu cinta padaku.'”

Wanita itu berparas cantik. Siang hari itu terik. Lewat sebuah gagang telepon pada sebuah telepon umum, ia curahkan gelisah hatinya.

“Kamu benar-benar cinta padaku? Sampai kapan?”

Cinta, oh cinta.Siapa, di dunia yang terdominasi cerita-cerita picisan ini, yang tak berdesir mendengarnya? Cinta yang katanya membebaskan, namun juga membelenggu. Cinta yang membuat seseorang jatuh mengharu-biru namun juga tertawa berderai-derai. Cinta yang membuat matamu berkaca-kaca namun juga benderang oleh cahaya. Cinta, yang konon katanya, bisa membuat seorang pemuda membangun seribu arca.

“Kamu gombal, kamu juga mengatakan hal yang sama pada pacar-pacarmu.”

Begitu penuh deritanya suara wanita itu, namun setiap orang punya urusan. Tidak ada cukup banyak telepon umum untuk setiap orang yang tinggal di kota itu. Mereka juga harus menelepon seseorang. Tapi wanita itu punya banyak sekali pertanyaan untuk dilontarkan pada kekasihnya.

“Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta…”

“Kamu masih akan mencintaiku kalau aku sudah tua?”

“Kamu masih akan mencintaiku, meskipun ada seorang wanita cantik merayumu?”

“Benarkah cuma aku seorang di dunia ini yang ada di dalam hatimu?”

Dan konflik pun tercipta.

“Mendengar kalimat itu, orang yang mengantre di belakangnya memberengut, sambil melihat arlojinya. Pengalaman menunjukkan, orang tidak bisa berbicara tentang cinta kurang dari 15 menit. Namun, sungguh terlalu kalau wanita itu masih juga bertanya tentang cinta setelah 30 menit. Apalagi sudah ada beberapa orang berdatangan ke telepon umum itu, sambil sengaja mengecrek-gecrekkan koin di tangannya.”

Semakin lama semakin banyak orang yang mengantre di belakang wanita itu. Sementara wanita itu tak kunjung berhenti menelepon. Banyak sekali yang hendak ia permasalahkan, nampaknya, dengan kekasihnya itu. Wajah wanita itu begitu “gelisah dan sendu, tapi ini membuatnya semakin lama semakin indah.” Ia berbicara dengan suara pelan dan tersendat-sendat.

Dan Sang Narator medeskripsikan situasi ini dengan demikian puitis namun membumi:

“Wanita itu membuang tissue ke bawah, dan mengambil lagi tissue yang lain. Sambil menjepit telepon dengan kepalanya, ia mendenguskan ingusnya. Tiada yang lebih sendu selain wanita yang menangis karena cinta.”

“Debu cinta bertebaran. Suatu ketika di suatu tempat, entah kapan dan di mana, seseorang bisa begitu saja saling jatuh cinta dengan seseorang yang lain. Ah, ah, ah—lelaki macam apakah kiranya yang berada di seberang telepon itu, yang telah membuat seorang wanita yang indah menjadi gelisah?”

Hampir satu jam lewat, namun wanita itu belum juga berhenti menelepon. Semakin banyak orang yang mengantre dan semakin banyak orang yang kehabisan kesabarannya. Gila wanita ini, sebenarnya dengan siapa ia berbicara? Ia menyebut-nyebut “istrimu” dan “apakah kamu masih mencintainya?” Apakah ia tengah bicara dengan suami orang? Kekasih gelap? Seorang buaya? Dan apa, apa gerangan, yang membuatnya begitu cinta pada laki-laki misterius itu?

“Jeglek! Tuuuuuuttt…

Koinnya habis. Hubungan pun terputus.

Pengantre yang sejak tadi menunggu segera menyerobot dengan setengah memaksa…. Semua orang punya keperluan penting. Tak seorang pun peduli dengan wanita itu…

Wanita indah yang wajahnya gelisah itu tidak lari berteduh—ia tetap menunggu, sampai basah kuyup. Ia juga punya keperluan penting. Ia masih menyimpan sebuah pertanyaan untuk cinta.”

***

Hingga akhir kisah, kita tak pernah tahu identitas si wanita pun laki-laki misterius yang diajaknya berbicara. Siapa mereka? Tidak penting. SGA tidak memaksudkan si wanita dan teman bicaranya sebagai pokok bahasan, melainkan orang-orang di sekitarnya: para pengantre itu, yang dengan begitu tidak sabar menunggu si wanita berhenti bicara. Merekalah, menurut saya, yang menjadi poin penting yang hendak disampaikan SGA. Cinta itu buta, maka berhati-hatilah dengan cinta, ia mungkin bisa membuatmu egois seperti Wanita dalam cerita. Mungkin itu yang coba disampaikan oleh SGA.

Tapi bisa juga SGA memaksudkan cerita ini sebagai cara mendemonstrasikan individualisme manusia kota. Seperti dalam kalimat:

“Semua orang punya keperluan penting. Tak seorang pun peduli dengan wanita itu…”

SGA mengisolir suatu peristiwa singkat demi menunjukkan maknanya. Masalah si Wanita merupakan semacam trend yang sekiranya selalu ada pada segala zaman, dari remaja hingga dewasa, laki-laki dan perempuan, serta terjadi pada hampir semua orang. Siapa yang tak pernah mengalami kekalutan karena cinta? Namun dengan cerdas SGA memilih untuk tidak menempatkan dirinya dalam sudut pandang si wanita, melainkan dari semacam pengamat orang ketiga yang berjarak dari tokoh-tokoh yang diceritakannya. Dengan cara mengisolir peristiwa ini dan menceritakannya melalui sudut pandang seorang pengamat, SGA bisa menyajikan suatu makna/pesan moral tanpa berkesan menggurui.

SGA tidak mengemis simpati pembaca. SGA tidak memihak. SGA mengingatkan kita bahwa sejatinya bukan tugas penulis untuk mengajari, melainkan mengamati.

Kita semua tahu bahwa SGA adalah pengarang yang terkenal juga sebagai jurnalis. Bisa jadi peristiwa dalam cerpen ini adalah salah satu fenomena yang diamatinya selama karir panjangnya sebagai jurnalis. Mungkin pada suatu ketika memang benar ada sebuah antrian panjang di suatu jalan di Jakarta (atau kota besar lainnya), dan SGA sebagai pengamat dan sebagai pengarang tergelitik untuk memahami peristiwa tersebut dan mengisi detail-detail kosongnya menggunakan imajinasinya sendiri. Ya, siapa tahu.

Dan ini membawa kita—para penulis aspiran—pada pelajaran terakhir yang diberikan SGA: latihlah kepekaan dalam mengamati fenomena sosial di sekitar. Sebab, siapa tahu, barangkali masih ada wanita-wanita dan telepon-telepon umum lain untuk diceritakan di luar sana.[]

Ristirianto Adi

Pelajar SMA. Bisa dihubungi lewat ristiriantoadi@gmail.com dan melalui blog.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s