Misteri Lain Tentang Angela Vicario

Apresiator: Vinett

Apresiasi cerpen Angela karya Budi Darma, dimuat di Kompas Minggu 20 April 2014 (baca di sini)

Belum pernah sebelumnya saya membayangkan bahwa nama Angela Vicario akan muncul dalam sebuah cerpen berlatar Bloomington, Indiana. Tentu saja, Bloomington sudah seperti lanskap kota yang ikonik dalam karya Budi Darma, seperti tempat di mana semuanya bisa terjadi. Sebelumnya latar Bloomington pernah muncul dalam novelnya Olenka, Nyonya Talis dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington. Sedang Angela Vicario ialah tokoh perempuan yang menjadi titik balik kisah dalam novel ‘Chronicle of A Death Foretold’ karya Gabriel Garcia Marquez. Sepanjang karir kepenulisannya Budi Darma sering memakai teknik kolase dalam berbagai cerita, cerpen Angela berikut salah satu contohnya. Gambaran sederhana dari teknik kolase adalah cerita yang dibangun dari kutipan karya sastra lain dengan bingkai dan perspektif baru, Budi Darma utamanya sering menyoroti kejiwaan para tokohnya. Tulisan-tulisan beliau kerap dianggap sebagai gambaran menyakitkan akan sisi gelap dalam hidup manusia. Sejauh dari sedikit yang saya baca, tokoh-tokoh dalam ceritanya selalu liyan, dianggap aneh dan memiliki ketidakseimbangan dalam hidupnya.

Tanpa membaca penuh novel Marquez, tokoh Angela melalui kilas balik tokoh Burhanto— yang seorang penulis—menceritakan kembali kisah hidupnya. Tepat setelah tokoh Burhanto sebagai narator memperkenalkan Angela sebagai temannya. Selalu, Budi Darma begitu fasih menjungkirbalikkan logika pembaca lewat gesekan antara beberapa kejadian yang nyata dan ‘kurang nyata’ saling tumpang tindih. Sepanjang cerita pembaca akan dibuat bingung siapa Angela yang sedang bersama Burhanto sebenarnya? Apakah ia Angela Vicario yang sudah mati lama sebelumnya, ataukah ia adalah refleksi dari keadaan kejiwaan tokoh Burhanto. Batas antara itu semua tertulis begitu samar. Angela, teman kerja Burhanto awalnya mengingkari bahwa ia adalah wanita yang sama dari kisah yang lain. Ia hidup di masa kini, menjalani studi dan bekerja selayaknya manusia normal di Bloomington, bukan di Kolombia. Jadi mustahil ia adalah Angela Vicario.

“Perduli setan. Di Spanyol jutaan orang bernama Vicario. Di semua negara Amerika Latin Vicario bukan nama ajaib. Iblis bernama Vicario juga banyak di neraka.”

Namun di sisi lain banyak petunjuk mengenai siapa dirinya di hampir seluruh cerita. Bahkan lewat dialog-dialog yang dengan gamblang menegaskan betapa ia identik dengan Vicario. Lalu:

“Burhanto, kamu tahu saya punya darah pembunuh. Tengok Pablo dan Pedro. Saya punya darah judi. Tengok pula Pablo dan Pedro. Mereka pewaris tulen darah nenek moyang Vicario. Semua terbelit judi. Semua jatuh miskin. Darah saya hitam, Burhanto. Kotor. Darah kamu putih. Kalau saya jadi istri kamu, anak turun kita mewarisi darah kamu.”

Maka jelaslah bahwa Angela adalah orang yang sama dengan tokoh sebuah kisah dari sebuah novel sastra. Dan cerpen ini kiranya sedang menggali apa saja yang ada dalam pikirannya sepanjang novel, bagaimanapun ia bertanggung jawab atas kematian seorang pemuda yang bisa jadi tak bersalah.

Hal yang tak bisa luput dari perhatian adalah tokoh Burhanto sendiri, ia pernah sukses menerbitkan buku berjudul ‘A New Paradigm: Psycho Revenge’, selepas itu karir kepenulisannya menurun. Ia digambarkan sebagai dosen Psikologi Sastra yang pekerjaannya mempelajari kejiwaan tokoh-tokoh dalam karya sastra, tidak secara detil tapi pasti Angela Vicario salah satunya. Bukan tidak mungkin Angela hanya hidup dalam pikirannya.

“Pada suatu malam, beberapa saat setelah cafeteria tutup dan kami berjalan bersama menunggu lift sementara suasana sudah sepi, tiba-tiba Angela menggigil, kemudian jatuh, menggelepar-gelepar, nafasnya mendengus seperti nafas penghabisan sapi sehabis disembelih. Mau tidak mau saya harus menolong.”

Peristiwa itu terjadi pada Angela dan merujuk pada nasib Santiago Nasar, pemuda yang ia sebut telah menodainya. Nasar meregang nyawa, menggelepar-gelepar di muka pintu rumahnya karena disembelih oleh saudara Angela, bernama Pedro dan Pablo Vicario. Mereka berdua bekerja sebagai jagal sapi dan menjagal si pemuda seperti sapi pula. Dalam pembacaan saya akan novel tersebut, kita disuguhkan tragedi pembunuhan yang semestinya bisa dicegah oleh siapa saja, semua terlihat terang benderang tetapi suatu keadaan membuat orang-orang lumpuh. Sesungguhnya ada banyak misteri hingga akhir halaman dibiarkan tak terjawab. Mengenai firasat-firasat dari mimpi, mengenai apakah Bayardo San Roman—calon suami Angela— benar-benar jujur akan identitasnya, dan mengenai siapa sebenarnya yang menodai Angela hingga membuat murka saudaranya yang kembar.

Saya pernah membaca sebuah wawancara dengan Budi Darma, bahwa semua cerita yang pernah ditulisnya bermuasal dari sekian banyak pertanyaan dalam kepalanya yang ingin dijawabnya sendiri. Dijawab dengan caranya sendiri, namun ia belum puas akan itu, maka ia terus menulis lagi. Begitupun cerpen Angela adalah semacam keinginannya mengetahui jawaban yang dibiarkan jadi misteri oleh Marquez. Dengan mengenal siapa dan bagaimana Angela mungkin pembaca sedikitnya bisa mendapat pencerahan akan misteri-misteri itu. Namun, saya pribadi masih begitu sulit memahami konsep realisme magis yang disebut-sebut sebagai ‘jawaban dari misteri’ dalam banyak karya Marquez. Jika dihubung-hubungkan, Budi Darma dalam Angela seperti sedang ada dalam pengaruh realisme-magis juga. Ini sebuah teori lain yang sedikit ngawur memang, bahwa Budi Darma sedang membayang-bayangi cerpen ini seolah berbau realisme magis. Padahal bisa saja murni ingin memotret kejiwaan tokoh Angela dan Burhanto saja.

Lihat narasi yang sering menekankan betapa dingin tubuh Angela, betapa di awal pembaca disuguhi kisah hidup dua Angela mirip satu sama lain. Mau tak mau kita jadi membayangkan dua sosok yang berbeda walaupun kita tidak yakin sepenuhnya. Beberapa hal yang tumpang tindih inilah yang menimbulkan pertentangan logika dan ambivalensi.

“Tanganmu selalu dingin. Tidak seperti orang lain.”

‘Angela menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke tubuh saya. Rasanya sangat dingin, dan karena sangat dingin, saya agak menggigil.’

Bisa saja Angela adalah roh yang sedang tersesat dan tidak tenang. Anggap saja demikian, maka ketidak logisan tadi akan jadi lebih bisa diterima. Perasaan bersalah Angela Vicario atas kematian pemuda Santiago Nasar adalah alasannya. Dan kesedihan Angela yang dua kali dirampas kehormatannya, pertama oleh seseorang(?) yang menodainya. Dan yang kedua saat Bayardo San Roman mengembalikannya ketika pesta pernikahan baru usai dengan alasan ia tak suci lagi. Bukankah dalam realisme magis, mitos dan hal-hal supranatural adalah kewajaran.

Pada bagian akhir Budi Darma kembali memelintir teori-teori ngawur yang sudah saya bangun dengan menempelkan kembali nama-nama tokoh baru dalam hidup Angela selepas berpisah dari Burhanto. Jauh dari Kolombia, diceritakan Angela menikah dengan seorang pria Ethiopia dan ditambah kehadiran nama pengusung ideologi rastafaria, Kaisar Haile Selassie. Lompatan-lompatan logika seperti ini mau tak mau membuat pembaca kembali berpikir tentang perspektif yang telah terbangun di awal. Apa yang ingin ditunjukkan penulis dengan membawa seorang Angela Vicario bertemu seorang Ethiopia? Apakah semata simbol bahwa tokoh Angela sedang menerima karmanya? Hidupnya dikesankan tak tenang dan sulit menemukan kebahagiaan. Itupun jika ia benar-benar hidup.

Lalu kembali pada Burhanto, banyak narasi yang menceritakan betapa Angela selalu mengejar dan bisa tiba-tiba muncul di mana saja. Mungkin tidak secara kasat mata, bisa jadi—seperti yang sudah saya sebut di atas—hanya dalam pikirannya saja. Hingga konklusi di akhir cerpen ini membeberkan semua, namun tetap dengan pertanyaan besar. Apakah cerpen ini memakai pendekatan realisme magis ataukah psikologis. Saya yakin penulis sekelas Budi Darma tidak hanya menulis karena dirasa pantas untuk diceritakan saja, ada sebuah pemikiran dan kajian mendalam yang mendasarinya. Tidak semua pembaca mampu menafsirkannya, termasuk saya yang masih terlalu mentah mengenal tulisan-tulisan beliau. Mungkin sosok Burhanto adalah bagian kecil refleksi dari diri seorang penulis, pembaca, atau semacamnya. Demikian mungkin yang terjadi ketika kita sedang mempelajari karakter dan entitas seorang tokoh dalam suatu karya. Akan timbul suatu kedekatan emosional seolah kita sangat mengenalnya dan bukan tak mungkin ia bisa hidup dalam pikiran. Hingga akhirnya kita bisa mempunyai perspektif baru akan tokoh sebuah karya sastra, katakanlah kedalaman karakter. Burhanto atau Burhan suatu kali muncul lagi dalam cerpen yang lain. Suatu saat mungkin saya kembali akan menguliknya lagi.

*****

Sumber:
Cerpen Angela oleh Budi Darma, dimuat di Kompas Minggu, 20 April 2014
Chronicle of A Death Foretold oleh Gabriel Garcia Marques (baca di sini)

Iklan

One thought on “Misteri Lain Tentang Angela Vicario

  1. Dari sini, saya baru tahu kalau tokoh Angela itu berasal dari novelnya Gabriel Garcia Marquez. Ketika membaca cerpen itu lagi, rasanya seperti jungkir balik mengikuti penceritaan pengarang. Pusing, tapi seru. Atau seru, tapi pusing. Enggak bisa menangkap benar2 maksudnya, sehingga jika ada lebih banyak ulasan seperti ini terhadap cerpen tersebut sepertinya akan sangat membantu 🙂

    Jadi cerpen ini termasuk contoh karya beraliran realisme magis? Barangkali magisnya itu di bagian tidak ada yang bisa menjebol harta karun Angela, ya?

    Saya geli waktu baca bagian ini:

    “Burhanto,” demikianlah kata Angela pada suatu hari, “apakah kamu merasa saya ini makhluk ajaib?”

    “Tanganmu selalu dingin. Tidak seperti orang lain.”

    “Tangan? Kamu kan belum pernah meraba-raba seluruh tubuh saya. Tangan boleh dingin, siapa tahu bagian-bagian lain hangat.”

    ***
    Teknik kolase itu seperti metafiksi gitu, ya? Menarik sih, antar karya fiksi dapat bersambungan gitu. Seakan menunjukkan betapa situasi mental seseorang dipengaruhi oleh situasi mental orang lain, atau berhubungan, dan medianya berupa karya sastra. Apalagi jika kita secara terang-terangan menunjukkan bahwa itu berasal dari karya orang lain, namun dikemas dalam interpretasi kita sendiri. Itu suatu bentuk apresiasi (semacam tanggapan pembacaan) juga bukan, ya, atau fanfiction malah? :v

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s