Ketegaran Dalam Keanggunan Bunga Jepun

Apresiator: Muh. Iznaen Tanggapili

Apresiasi cerpen Bunga Jepun karya Putu Fajar Arcana, dimuat di Kompas 20 April 2003 (baca di sini)

Saya pernah mendengar dalam sebuah film perkataan begini, “Hal penting dalam hidup, sering kali menjadi keputusan terberat untuk diambil.” Saya setuju dengan argumen ini, sebab “hal penting” adalah sesuatu yang akan memberikan perubahan besar terhadap hidup kita. Untuk melakukan atau mengalami perubahan dalam hidup, banyak manusia yang merasa takut. Hal inilah yang menyebabkan mengapa jika kita dihadapkan kepada sebuah pilihan sulit—atau pilihan yang membuat kita merasa takut—adalah sering kali menjadi sebuah pilihan yang akan memberikan perubahan signifikan terhadap hidup kita.

Membaca cerpen Bunga Jepun, berarti Anda akan membaca cerita tentang seorang gadis yang dihadapkan kepada pilihan sulit. Sebuah pilihan yang akan memberikan perubahan besar dalam hidupnya. Cerpen ini tidak mengisahkan bagaimana perubahan hidup si Gadis ketika telah menentukan pilihannya, melainkan bercerita tentang proses pengambilan keputusan tersebut. Proses yang pada banyak orang, mereka akan merasa takut, sebagian akan mengatasi rasa takutnya, namun kebanyakan akan pasrah pada keadaan sehingga kehidupannya masih belum ada perubahan.

Sebulan sesudah bom meledak di Legian, Luh Manik belum memutuskan apa-apa. Saban petang ia masih suka menyusuri jalan setapak, melintasi beberapa petak sawah dan kebun pisang, untuk kemudian tiba di bangunan berbentuk los, di mana dulu ia biasa berlatih menari. Dulu, di sekitar petak sawah terakhir, di dekat sebuah pura kecil, Luh Manik senantiasa memetik bunga jepun. Ia tak perlu naik karena di batang pohon jepun entah oleh siapa, telah tersedia sebatang bambu lengkap dengan kait untuk menggaet bunga. Lalu, bunga-bunga jepun berwarna putih itu, setelah digaet memutar seperti baling-baling helikopter sebelum menyentuh tanah.

Cerita ini dimulai dengan seorang gadis bernama Luh Manik dan pohon bunga jepun. Luh Manik adalah seorang penari. Ia dan beberapa warga desa hampir tiap petang akan berangkat ke Nusa Dua untuk memenuhi kontrak menari di hotel-hotel yang ada di sana. Sebelum pergi menari, Luh Manik selalu mampir ke pohon bunga jepun, lalu ia memetik bunganya. Sembari melihat bunga yang jatuh ke tanah seperti baling-baling helikopter, Luh Manik berangan-angan tentang dirinya sedang berada di dalam pesawat yang akan membawa Luh Manik pergi ke negeri yang jauh, di mana ia akan menari di depan orang-orang barat dan memakai gaun yang anggun.

Waktu itu, Luh Manik sungguh menikmati hari-hari yang riang. Petang hari, setelah memetik bunga-bunga, biasanya bersama rombongan yang telah menunggunya di los dari bambu, ia berangkat menuju Nusa Dua … Perjalanan dari Desa Poh menuju Nusa Dua biasa ditempuh dalam dua setengah jam. Sepanjang jalan, tak henti para penabuh menembangkan lagu-lagu pop Bali yang sedang digemari. Meski hanya diberi honor antara Rp 7.000 sampai Rp 10.000, Luh Manik bersama kelompok joged bungbung Teruna Mekar menjalani petang dengan riang selama hampir tiga tahun terakhir. Setidaknya kehidupan rata-rata warga Desa Poh yang hanya menggantungkan harapan pada kebun pisang dan sawah tadah hujan, agak tertolong dengan kontrak menari di beberapa hotel di kawasan wisata Nusa Dua. Selalu sebagian warga mendahului duduk-duduk di los sembari menunggu jemputan. Duduk-duduk di los seperti menunggu rezeki mengalir ke Desa Poh. Kedatangan truk pun lama kelamaan seperti kedatangan dewa penyelamat yang mengangkat mereka dari keterpurukan ekonomi.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari kehidupan di Desa Poh. Oleh karena itu, mendapat kontrak menari di Nusa Dua adalah seperti rejeki yang tidak disangka-sangka bagi warga desa, tidak terkecuali bagi Luh Manik. Bahkan, Luh Manik sampai berangan-angan menjadi penari yang jam terbangnya sampai ke luar negeri. Luh Manik bukan saja berharap rejeki dari menari, namun ia memang cinta menari. Sebuah angan-angan gadis kecil yang tinggal di desa terpencil. Hanya saja, semenjak bom meletus, kontrak-kontrak menari di Nusa Dua tidak ada lagi. Sebagian besar warga Desa Poh seperti kehilangan pegangan. Bagi Luh Manik, kehilangan yang sangat besar. Pukulan yang membuat Luh Manik mulai mencurahkan keluh hatinya pada pohon bunga jepun.

Saban petang, setelah bom meledak di Legian, Luh Manik nekad memanjat batang pohon jepun untuk menemukan kuntum bunga. Batang pohon yang lembut itu seperti merasakan gesekan kulit Luh Manik yang halus. Mereka seperti dua kekasih yang lama terpisah. Dan hari ini, di petang yang dingin keduanya saling memeluk untuk melepas rindu. Daun-daun jepun yang bergoyang karena terpaan angin mengusap-usap rambut Luh Manik. Keduanya saling berbisik mengenangkan hari-hari menyenangkan.
“Aku masih ingat waktu kau petik berpuluh-puluh bungaku,” ujar pohon.
“Aku juga masih ingat saat kau menjatuhkan bunga, melayang seperti baling-baling pesawat…” jawab Luh Manik.
“Lalu…. lalu kau selalu merasa sedang menari di sebuah negeri yang jauh dari desa ini dengan merangkai bungaku di rambutmu.”
“Aku selalu mengidamkan menari di luar negeri, seperti para penari dari kota.”
“Bukankah menari di hotel juga untuk para bule itu?”
“Tetapi… aku ingin menikmati kepakkan baling-baling yang menebarkan wangi, hingga mengantarkan aku ke negeri bersalju.”
“Bukankah dari mulut para bule yang menciummu seusai menari senantiasa meluncurkan aroma harum anggur? Lalu, kau suntingkan bungaku di telinga mereka?”
“Sekarang tidak lagi. Kita hanya bunga belukar yang selalu mengidam-idamkan pergi ke luar negeri bersama-sama.”
Luh Manik memetik sekuntum bunga untuk kemudian diikatkan pada rambutnya yang panjang. Sambil berlari-lari kecil di atas pematang, ia memasuki setapak di bawah rimbunan kebun pisang.

Luh Manik kemudian berjalan menuju los tempat mereka berlatih menari. Ia tidak tahu bahwa di sana ia akan ditanyai dan dihakimi.

“Kudengar kamu akan kerja di Jakarta, Luh?” tanya lelaki setengah baya yang biasa menjadi pemukul kendang di Teruna Mekar.
“Kami sangat mengerti kemauanmu itu,” kata lelaki yang lain lagi.
“Hidup di sini sudah hampir tak ada harapan. Kami juga sedang memikirkan untuk menjual saja gamelan ini,” ujar lelaki pemukul bilah-bilah bambu dengan nada putus asa.
“Tetapi keputusanmu itu, menurutku sangat egois. Kemarin, baru kudengar kamu ingin terus tinggal di desa apa pun yang terjadi. Kedua orang tuamu sudah tidak ada, Luh. Mengapa mesti nekat hidup di kota keras seperti Jakarta?” berkata lelaki muda dengan sangat emosional.
“Kemarin, sewaktu aku melewati pohon jepun di pinggiran sawah, aku memutuskan untuk pergi saja,” jawab Luh Manik tegas.

Warga Desa Poh yang biasanya ikut menari atau menabuh gamelan merasa akan kehilangan salah satu penari mereka. Banyak yang khawatir dengan keputusan Luh Manik untuk pergi merantau ke Jakarta dan meninggalkan tari bersama dengan para warga Desa Poh yang menggantungkan diri mereka pada kontrak menari dan menabuh gamelan.

“Jadi, kamu tetap ingin pergi ke Jakarta, tanpa memikirkan nasib kami?” kata lelaki emosional lagi.
“Nasib kita tergantung di tangan masing-masing, dan bukan pada bilah-bilah bambu gamelan itu. Ia hanya benda dan alat untuk memperbaiki nasib…” kata Luh Manik.

Pada keesokan harinya setelah obrolan Luh Manik di los Teruna Mekar, ia dikejutkan dengan sebuah berita yang dibawa oleh tetua kelompok Teruna Mekar yang datang dengan Kadek Sukasti—sahabatnya.

Kakek berkata, “Luh… kali ini harapan kita satu-satunya habis sudah. Mereka sudah memutuskan untuk menjual gamelan. Warga menolak untuk memberitahu kamu. Dan tadi malam, seorang lelaki dari kota telah mengangkutnya. Semua, sampai alat pemukulnya. Katanya untuk koleksi….begitu.”
“….Kalau memang itu satu-satunya jalan meneruskan hidup, mengapa tidak?” jawab Luh Manik enteng.
“Luh…!” Kakek mengucapkan nama Luh Manik dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. “Bukankah dulu kamu dan ayahmu yang bersikeras membangun kembali kelompok joged ini? Dan, kamu bersedia menjadi joged pada saat kita sulit menemukan penari. Bahkan, kamu rela berhenti dari sekolah untuk serius menekuni tari. Mengapa sekarang kamu seperti menyerah saja ketika kita menghadapi kesulitan…”
“Kek, apalah yang bisa saya perbuat lagi, kalau itu sudah menjadi keputusan mereka. Dan menurutku, desa ini tak memberi pilihan lain agar kita tetap hidup.”
“Bukan itu persoalannya. Kakek sendiri tidak tahu pasti entah siapa dulu yang menciptakan perangkat gamelan joged itu. Kakek pun hanya tahu bahwa gamelan itu sudah tersimpan di los, hingga kita tak berhak menjualnya, Luh…”
Meski kaget, Luh Manik berusaha bersikap wajar. Ia ingin berpikir realistis… “Mungkin maksud Kakek gamelan ini warisan dari leluhur?”
“Mungkin begitu.”
“Kek, cobalah beri mereka pilihan untuk melanjutkan hidup. Bukan warisan itu yang penting benar sekarang, kan? Kita semua terlanjur tergantung pada kontrak itu, hingga lupa mengurus ladang.”
“Berarti, kamu telah memangkas pohon kehidupan di desa ini sampai ke akarnya. Justru gamelan itulah gantungan hidup kita, siapa tahu situasi di Nusa Dua cepat pulih…. dan kontrak-kontrak dilanjutkan lagi.”
“Itu perkara nanti, Kek. Keadaan sekarang terus mendesak. Mereka perlu makan hari ini!”
Dengan wajah kesal, kecewa, dan marah, tanpa mengucap kata sepatah pun Kakek menggamit ujung kainnya dan berlalu dari hadapan Luh Manik.

Setelah percakapan itu, Luh Manik sendiri mulai merasa khawatir. Diam-diam ia juga prihatin dengan kondisi warga Desa Poh yang selama ini mulai meninggalkan sawah dan kebun mereka karena menganggap kontrak menari lebih menguntungkan.

Selama bertahun-tahun, warga telah meninggalkan kebiasaan mengolah tanah. Mereka percaya benar joged lebih banyak mendatangkan hasil. Selain uangnya bisa dinikmati langsung, setidaknya suara gamelan dan lenggak-lenggok Luh Manik dan Kadek Sukasti di saat menari, menjadi pelipur kemelaratan. Tingkah polah para bule yang turut menari bersama Luh Manik selalu membuat mereka terbahak. Bahkan, seringkali perawakan rata-rata lelaki bule yang tinggi besar diolok-olok sebagai Rahwana yang sedang mengintai Dewi Sinta. Tertawa berderai kemudian terdengar dari bak truk ketika mereka kembali ke desa.

Luh Manik kemudian mengajak sahabatnya untuk berjalan-jalan. Ia membawa Kadek menuju pohon bunga jepun.

Di petak sawah terakhir, keduanya duduk sembari menyandarkan tubuhnya pada batang pohon jepun. Sekuntum bunga jepun yang lepas dari ranting berputar-putar seperti baling-baling helikopter sebelum akhirnya menyentuh pangkuan Luh Manik.
“Apa rencanamu Luh?” tanya Kadek Sukasti memecah kebisuan. Luh Manik tak segera menyahut. Ia masih memperhatikan bilah-bilah bunga jepun yang layu di pangkuannya.
“Kamu jadi ke Jakarta, Luh?”
“Seperti yang sudah aku katakan, aku akan ikut saudaranya Nyonya Lin yang punya toko di Negara. Saudaranya itu juga punya toko onderdil sepeda motor di Jakarta. Mungkin aku akan kerja di sana…”
“Jadi pembantu?”
“Jadi pelayan toko.”
Tangan Luh Manik meremas bunga jepun, yang tadi melayang, berputar-putar, bagai pesawat yang dulu sering membawa ia bermimpi tentang negeri-negeri bersalju. Ia bermimpi menari di depan ratusan orang asing dengan pakaian gemerlap, lalu mendapatkan tepuk tangan dan ciuman beraroma harum anggur…

Penulis menggambarkan karakter Luh Manik sebagai gadis yang memiliki pendirian tegar. Secara tidak langsung, penulis menyampaikan apa yang menurutnya harus menjadi tindakan seseorang ketika menghadapi pilihan yang sulit lewat penggambaran perilaku Luh Manik. Luh Manik adalah seseorang yang realistis. Ia tahu bahwa hidup bukan sekedar memilih, tetapi bagaimana kita mengembangkan mental dan tanggung jawab dalam memilih sebuah pilihan. Kehilangan pekerjaan, impian yang tertunda, kondisi kehidupan yang tidak sejahtera, adalah bumbu-bumbu kehidupan yang membuat Luh Manik semakin sadar untuk keluar dari keadaan yang ia alami. Luh Manik tidak berpasrah diri, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya, meskipun itu adalah dengan meninggalkan: impian yang selama ini ia cita-citakan, kampung halaman tempatnya dilahirkan, dan juga dua orang sahabat yang dicintainya—pohon bunga jepun Desa Poh dan Kadek Sukasti.

Di sisi lain, terdapat warga Desa Poh yang digambarkan sebagai kelompok orang yang putus asa dan berpasrah diri pada keadaan. Saya melihat ini menjadi sebuah keterkaitan dengan karakter Luh Manik: hanya sedikit yang mampu berontak untuk merubah hidupnya, dan banyak yang kemudian pasrah pada keadaan. Warga Desa Poh yang sebagian besar sudah menggantungkan diri pada kegiatan menari mulai takut ketika sudah tidak ada lagi panggilan untuk menari di Nusa Dua. Akan tetapi, mereka malah berputus asa dan bingung dengan keadaan. Alih-alih mencari solusi untuk kehidupan mereka, malah Luh Manik yang dijadikan tempat pelampiasan kemelaratan mereka. Diam-diam, warga Desa Poh sebenarnya iri dengan Luh Manik yang sudah membuat keputusan. Mereka bukannya mendukung Luh Manik, tetapi menarik Luh Manik agar masuk kembali ke dalam keputusasaan yang mereka alami. Karena kita selalu mencari teman untuk melarat bersama-sama. Hal yang manusiawi.

Yang menarik di sini adalah pohon bunga jepun. Selama membaca, saya menjadi bertanya-tanya: apa sebenarnya peran pohon ini sehingga perlu dimasukkan ke dalam cerpen? Pada beberapa bagian cerpen, pohon bunga jepun diceritakan lebih intim tentang hubungannya dengan Luh Manik. Bunga jepun juga dijadikan sebagai judul dari cerpen ini. Pada pemikiran awal, saya berpendapat bahwa jika pohon bunga jepun di dalam cerpen ini tidak disinggung secara mendetail, maka cerpen ini akan tetap utuh dan tidak kurang. Namun itu adalah pendapat saya yang pertama. Setelah berpikir lebih jauh lagi, saya melihat pohon bunga jepun adalah sesuatu yang krusial dan ia harus ikut menjadi bagian cerita di dalam cerpen ini—bukan hanya menjadi latar belakang saja. Saya berpendapat bahwa: pohon bunga jepun adalah refleksi pergolakan batin yang sedang dialami Luh Manik. Bunga jepun adalah bagian dari diri Luh Manik yang menjadikan konflik dalam cerita ini menjadi utuh. Tanpa kehadiran bunga jepun (atau ketika bunga jepun hanya menjadi latar belakang dan tidak dijadikan sebagai bagian dari cerita) maka penggambaran karakter Luh Manik akan menjadi tidak utuh. Seperti ada yang hilang dari diri Luh Manik.

Bunga jepun adalah cara penulis untuk menggambarkan ketakutan, kegembiraan, harapan dan ketegaran Luh Manik. Secara tidak langsung, bunga jepun adalah Luh Manik itu sendiri: anggun, tegar—walaupun bunganya terus diambil dari waktu ke waktu ia tetap mekar, dan pada saat yang sama bunga jepun itu juga rapuh (karena tidak perlu tenaga yang besar untuk menjatuhkannya ke tanah). Benar-benar mewakili pribadi seorang wanita seperti Luh Manik. Walaupun ia adalah makhluk yang lembut, rentan, dan mudah untuk ditaklukkan, ia akan tetap bangkit dan kembali mekar seperti sediakala.

Cerpen ini memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Membuat saya menjadi lebih intim dengan pribadi seorang wanita.

Beberapa pendapat saya di atas berdasarkan pandangan pribadi dan tentu saja masih bisa diperdebatkan. Pembaca yang lain juga mungkin saja akan menarik kesimpulan yang berbeda. Kendatipun begitu, cerpen ini tetap menjadi sebuah cerpen yang manis dan pas dinikmati sambil ngopi di sore hari dengan sebatang-dua batang rokok (bagi mereka yang gemar melakukan hal itu). Sekian dari saya, mudah-mudahan bermanfaat.

Muh. Iznaen Tanggapili
rekayasaksara.wordpress.com

Iklan

2 thoughts on “Ketegaran Dalam Keanggunan Bunga Jepun

  1. umm ane merasa bunga jepun ialah bunga jepang. Menilik bahasa jepun biasa dipakai oleh orang malaysia. Ternyata ada penggambaran berbeda dgn bunga jepun. Umm yaahh penggambaran ini amat membuatku terinspirasi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s