Romansa Masuk Angin dalam Cerpen “Palaran”

AZETH
Kontributor : Zeth
[Apresiasi untuk cerpen “Palaran” dalam Jakarta Kafe karya Tatyana (penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cetakan pertama, 2013)]
*Palaran: Sejenis gending Jawa pengiring pagelaran wayang kulit

Yen intawang ana lintang, cah ayu…

Aku ngenteni tekamu.

SORE cepat gelap belakangan hari, mendung sering buru-buru membekap matahari. Siang pengap terik, malamnya basah hujan. Keringat sepanjang hari, dingin sampai pagi. Menghadapi musim kacau-balau Jumi jadi sering masuk angin, kerap minta dikerok Karto. Jangan sering-sering, begitu ujar suaminya suatu malam. Nanti lecet semua, merah-merah sisa kerokan tempo hari belum hilang sudah dikerok lagi.

Ternyata ini adalah salah satu cerita favorit saya di antara 24 cerita lainnya dalam kumpulan cerpen milik Tatyana, Jakarta Kafe (2013). Bercerita tentang sepasang suami istri yang mbarang, ngamen palaran di Jakarta. Sudah terbayang…

Matahari jam sepuluh pagi di Jakarta, panas dan perih.

Pengamen yang dulu-dulu sangat berserakan di ‘pusat’ itu dengan ragam corak: kucel, blangsak, mbladus, kumal, bahkan ada yang rapi-rapi saja, ganteng dan cantik mirip boyband, sejahtera? Bisa kita lihat tiap harinya, bergelantungan di alat transportasi, atau keliaran di komplek, genjrang-genjreng dengan berbagai alat musik, dengan berbagai tujuan; ngidupi anak istri, amal, nyari duit buat acara, buat sekedar merokok, pengalaman, lifestyle(?). Sekarang sih, rada berkurang, katanya. Mereka sibuk dikejar Satpol PP dan capek harus terus sembunyi di semak-semak, mungkin. Tentu tak hanya di sana saja, di daerah pun ada yang sekedar nyanyi satu-atau dua baris lirik lantas menga-mengo dan dikasih duit. Tapi pengamen lebih rekatnya ada di sana, kota besar seperti Jakarta, tentu.

Adalah Jumi dan Karto pasangan suami istri itu yang rajin saling ngeroki badan karena masuk angin, tinggal di kontrakan separo tembok separo papan bedeng. Muter-muter-nyanyi-nyanyi di sekitaran komplek perumahan deket kontrakan mereka.

Romansa masuk-angin, dan betapa lapar itu ….

Dan mereka lumayan sering tidak makan sesudah magrib. Sampai pagi. Sampai Karto menyodorinya sisa kopi tubruk encer di gelas sebagai sarapan, …

Tokoh kalangan ini, kelas resah ekonomi, yang sarat lapar dan sering masuk angin ini, memang sering kita temui di banyak cerita. Menyebut Jakarta yang ada di pikiran kita kadang tentu metromini bopeng itu, warteg-warteg pinggir got itu, sesak itu, penat bersama rembang senja jumat sore seperti di salah satu cerita Tatyana lainnya. Atau lagu-lagu yang mengangkat tema kota ini, sebut saja Seringai dengan “Membakar Jakarta,” atau penggambaran di lirik “Ode Pinggiran Jakarta,” milik The Brandals dan lain-lain tentu. Jangan salahkan saya jika ingat hanya berkutat di lagu-lagu saja.

Lantas seorang Tatyana menyajikan Jakarta yang sama panasnya, sama laparnya, sama macetnya, tapi dengan ringan, renyah, ngalir, menohok. Narasinya kadang seperti yang ngajak ngobrol, katanya. Saya meringis tapi lebih ke senyum-senyum membaca Tatyana mengambarkan kehidupan Jumi yang tidak ingin suaminya mati cepat-cepat karena kreteknya ngebul terus.

Sekali-sekali mabuk mungkin baik juga, pikir Jumi suatu hari. Lupa kalau lapar, lupa kalau mimpi tentang uang saja sudah sama susahnya saking jarangnya lihat uang.

Sampai pada suatu hari mereka disuruh untuk mengisi acara di pesta kawin gedongan di salah satu rumah mewah di kompleks yang biasa mereka kelilingi. Di situ terlihat tokohnya Tatyana ini begitu membumi. Jumi yang sempat lupa diri tentang honor yang mungkin bisa lebih dari itu di‘huss’kan oleh suaminya. Mereka lantas ingat tuhan, inget anaknya juga, Cenil yang masih kecil, yang dititipkan kepada sanak mereka di kampung.

Yang penting Cenil. Dan besok, tidak boleh ditunda-tunda, mereka harus ke kantor pos. Cenil pasti senang sekali dikirimi uang. Anak dara itu sudah lama mengidamkan kerudung merah jambu yang dilihatnya di pasar.

Mungkin itu alasan mereka ke Jakarta. Rela kepanasan, masuk angin terus, rela nahan lapar terus. Demi anak perempuan betulan yang diminta dengan langgam rengeng-rengeng lagu merindu kepada Gusti Allah, katanya. Ya, Si Cenil itu.

Dan ini …

Kalaupun Jakarta adalah tempat mata air itu berada, Jumi percaya mereka mampir agak terlalu lama untuk melepas dahaga. Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur. Dia pasti mengerti bahwa manusia tetap bisa sesekali mengeluhkan deritanya.

Baiklah, setelah beberapa lagu di The Brandals dan Seringai lalu Kompor sudah Meleduk, sekarang saya ingat Tatyana juga bila menyebut Jakarta.

Zeth

sekarang sibuk pura-pura jadi Power Ranger

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s