Ayah yang Merindukan Kabah

Kontributor : Cita Pratiwi
Apresiasi untuk cerpen “Siluet Kabah” karya N. Mursidi dalam Tabloid Nova 1227/XXIV, 29 Agustus – 4 September 2011

Sebagai warga kecil yang tak punya kekuasaan apa-apa, terpaksa sang Ayah memendam nafsu sucinya untuk berangkat menunaikan ibadah haji. Sudah mengikuti arisan, tak dapat giliran, dan para ahli waris orang-orang yang sudah berpulang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.

“Sayangnya, arisan haji itu kemudian berhenyi di tengah jalan! Tak lagi berlanjut, karena orang-orang yang jadi anggota arisan itu kebetulan sudah tua dan satu per satu meninggal dunia. Tragisnya lagi, ahli waris anggota arisan tak dibebani tanggung jawab membayar padahal ayahmu belum mendapat giliran pergi ke tanah suci.”

Begitulah nasib. Maka setiap senja, sang Ayah hanya bisa menatap indahnya senja sambil melihat siluet Kabah dalam lengkung pelangi. Hal inilah yang sangat diinginkan sang Ayah, bahkan istri tercinta yang mendahului dan anak-anak yang pergi berpenghidupan sendiri sudah ia ikhlaskan. Yang menjadi tujuannya sekarang hanyalah bertandang ke Kabah.

“Aku tak sedang mengenang almarhumah ibumu dengan cara melihat senja di balik kabut yang dihiasi lengkung pelangi…” ujar ayah, pada suatu senja, “Jika itu yang kukenang, aku mungkin akan kau anggap gila, karena aku ini tahu bahwa orang yang sudah meninggal jelas tak akan hidup lagi…”


Sempat aku menduga, kepergian mereka itulah yang membuat ayah merasa kesepian lantaran setelah kepergian mereka, praktis ayah tinggal bersamaku, putri terakhirnya.

Tetapi, aku tahu, ayah tak pernah merasa kesepian dengan kepergian mereka. Ayah melihat siluet Kabah dalam lengkung pelangi lantaran ayah memendam impian.

Siluet pelangi yang terus dibicarakan sang Ayah pada awalnya tak pernah terlihat oleh anaknya, “aku”.

Hanya kulihat senja yang ungu, lengkung pelangi dan hamparan langit temaram yang hampir petang.

Kisah tentang arisan yang gagal pun didapatkan sang Anak dari pamannya, ketika Paman Salim “kebetulan” hendak pergi ke tanah suci. Entah sang Ayah yang terlalu tertutup atau sang Anak yang tidak peka. Maka saat Ayah meregang nyawa, rasanya ada yang kurang di antara hubungan ayah dan anak ini.

Meski aku diam dan terpaku mendengar cerita Paman Salim, kurang terasa kesungguhannya dan perasaannya sendiri, terutama dalam hati, aku tidak keberatan dengan usul Paman Salim.

Dari cuplikan-cuplikan di atas, terasalah nuansa yang agak melankolis karena bahasanya yang agak puitis. Begitu terasa sampai ke akhir cerita, saat sang Ayah harus berpulang ke hadapan-Nya sebelum impiannya tercapai. Ketika itu pula, sang Anak akhirnya bisa melihat siluet Kabah yang terus diimpikan sang Ayah. Ia merasa menyesal karena terlambat mengantar ayahnya untuk bisa merengkuhnya.

Perlahan, aku bangkit lalu berjalan menuju beranda. Senja masih mengapung di cakrawala. Pelangi berwarna jingga merona di balik awan. Tiba-tiba, senja hari itu, aku melihat siluet Kabah dalam lengkung pelangi. Tetapi, aku sudah terlambat mengantar ayah bisa merengkuh siluet Kabah dalam lengkung pelangi itu …

Sebuah cerita pendek yang sederhana dari N. Mursidi. Dari tema yang sudah umum, alur maju, hingga penyelesaian dengan “menghilangkan” sang tokoh.

Sayangnya, penulis terlalu banyak menggunakan pengulangan mengenai “siluet Kabah” dan “lengkung pelangi”. Di satu sisi sangat menggambarkan keinginan sang Ayah yang – lagi-lagi – sudah tertanam kuat dan mengakar. Di sisi lain hal ini terasa menjemukan. Mungkin memang itu kesan yang diharapkan penulis di cerita pendek ini :

Impian yang lama terpendam dan tak (kan) pernah menjadi kenyataan.

.

CITA PRATIWI

citapratiwika@gmail.com
Iklan

2 thoughts on “Ayah yang Merindukan Kabah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s