Tato Kucing yang Tak (Sepenuhnya) Dapat Dipercaya

Kontributor : I. M. Hadjri

Apresiasi untuk cerpen “Tato Kucing” karya Anggun Prameswari dalam Media Indonesia, 16 Agustus 2015

Penulis memiliki segudang cara untuk mengecoh persepsi pembaca yang menikmati karyanya. Sepertinya urusan tipu-menipu pembaca menjadi satu hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Plot twist menjadi salah satu cara agar tulisan tidak terjebak dalam satu alur plot linear yang gampang ditebak dan menjemukan penikmatnya. Kesuksesan penulis memelintir plot dalam karyanya akan memberikan efek keterkejutan yang menyenangkan bagi pembaca, selain juga dapat meneguhkan pandangan bahwa penulis adalah pribadi yang kreatif dalam berkarya. Plot twist yang dimaksud bukan saja perubahan alur mendadak yang tak dapat diprediksi sebelumnya, namun juga perubahan pemahaman secara radikal mengenai tokoh tertentu dalam tulisan yang dimaksud. Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah penggunaan unreliable narrator atau narator yang tak dapat dipercaya dalam teknik narasi. Dalam kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas penggunaan teknik narasi khusus untuk mengecoh pembaca ini dalam cerpen “Tato Kucing” karya Anggun Prameswari.

Sejauh mana kita bisa memercayai narator dalam karya fiksi?

Dalam karya sastra, narator adalah pihak yang menceritakan kisah berdasarkan sudut pandang tertentu (orang pertama, kedua atau ketiga). Sebuah tulisan bisa memiliki lebih dari satu narator (Pulang, Leila S. Chudori) , pun narator tak selalu harus dalam wujud manusia (The Book Thief, Markus Zusak). Bagaimanapun jenisnya, sadar atau tidak sadar, pembaca secara implisit telah terbiasa untuk memercayai fakta-fakta yang diceritakan melalui sudut pandang narator tersebut, paling tidak sejauh yang diketahuinya. Jika tidak, bagaimana pembaca bisa menikmati karya tersebut? Kepercayaan inilah yang dieksploitasi oleh penulis melalui unreliable narrator, di mana narator kehilangan kredibilitas atas cerita yang dikisahkannya dan membuat pembaca bertanya-tanya mengenai kebenaran hal yang sesungguhnya terjadi. Apakah narator bercerita jujur? Ataukah ia sengaja berbohong? Jangan-jangan ia sengaja menyembunyikan fakta penting? Inilah esensi dari plot twist menggunakan narator yang tak dapat dipercaya.

Ada banyak sebab narator mengecoh persepsi pembacanya, sengaja atau tidak sengaja. Misalnya, si narator adalah pelaku utama kejahatan yang memang berniat menipu pembaca (And Then There Were None, Agatha Christie), atau dalam satu kisah terdapat berbagai sudut pandang lebih dari satu narator yang kontradiktif satu dengan yang lainnya sehingga menyebabkan kebingungan dalam menentukan kebenaran (In a Grove, Ryunosuke Akutagawa), bisa jadi pula narator mengidap kelainan jiwa yang menyebabkan ia sulit membedakan antara imajinasi dan realitas (Pintu Terlarang, Sekar Ayu Asmara).

Kecerdikan penulis dalam menipu pembaca menggunakan teknik ini sebenarnya sangat tergantung dari bagaimana penulis menempatkan petunjuk-petunjuk samar dalam tulisannya, sehingga hanya pembaca paling perseptif lah yang dapat menebak sulapan tersebut sebelum dibongkar sendiri secara gamblang oleh penulis di akhir tulisan.

“Tato Kucing” dan narator yang tak (sepenuhnya) dapat dipercaya

Tato Kucing mengisahkan tentang seorang lelaki ””aku” yang memulai kesehariannya pada pagi hari dengan pergi berbelanja di pasar. Saat itulah seisi pasar gempar karena penemuan mayat seorang lelaki yang gantung diri. Cerpen kemudian didominasi oleh pergolakan batin tokoh “aku” yang banyak berpikir mengenai kehidupannya, kesulitan-kesulitan hidupnya dan mengenai kematian. Baru terungkap di akhir kisah bahwa tokoh “aku” adalah arwah lelaki yang gantung diri tersebut.

Cerpen ini dibuka dengan kalimat yang cukup menggugah rasa ingin tahu saya:

Di pagi hari yang lembap oleh hujan semalam, seorang lelaki tergantung di sudut pasar. Kucoba memperhalus bahasanya. Setidaknya agar masih terdengar beradab ketimbang ucapan bibik keranjang kosong yang tergopoh panik saat menemukan lelaki itu.

“Ada yang mati gantung diri. Bunuh diri!”

Cukup mengejutkan di awal tulisan. Penemuan mayat seorang lelaki di pasar menimbulkan berbagai pertanyaan di benak: siapa lelaki tersebut? Mengapa ia gantung diri? Apa hubungannya dengan tato kucing yang menjadi judul cerpen ini?

Petunjuk pertama tokoh “aku” merupakan narator yang tak dapat dipercaya dapat dilihat melalui kontradiksi yang terjadi di awal tulisan:

Saat orang-orang sudah berkerumun di tempat kejadian, aku baru saja masuk pasar.

Jika tokoh “aku” baru masuk pasar saat massa sudah berkerumun, bagaimana mungkin ia bisa tahu persis ucapan bibik yang pertama kali menemukan mayat tersebut?

Selanjutnya, penulis membawa pembaca masuk lebih jauh dalam cerita dengan mengikuti alur pikiran tokoh “aku” yang terkesan sangat perhatian pada istrinya yang tengah hamil muda. Ternyata, ia sering pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan sup ceker ayam yang diidam-idamkan oleh istrinya. Anggun Prameswari lalu mengajak pembaca untuk ikut berkontemplasi bersama tokoh “aku” yang membayangkan bagaimana jika ia yang mati. Ia berpikir bahwa lelaki yang mati gantung diri tersebut sangat egois karena

…memilih menyerahkan hidupnya pada seutas tali.

Terungkap bahwa tokoh “aku” memiliki beban ekonomi yang cukup berat karena istrinya yang kondisi tubuhnya sedang melemah dibarengi dengan biaya kehamilan yang membuatnya harus berhutang sana-sini.

Pada titik ini terdapat satu petunjuk penting terkait tokoh “aku” yang ternyata memiliki motif untuk melakukan tindakan bunuh diri, yaitu karena terjerat hutang. Meskipun petunjuk kedua ini cukup gamblang, namun belum bisa dijadikan dasar lompatan logika bahwa tokoh “aku” adalah lelaki yang bunuh diri, karena penulis dengan cerdik memisahkan persona tokoh “aku” dan mayat lelaki dengan beberapa adegan yang mengesankan dua orang yang berbeda:

Kulihat lelaki itu bertelanjang dada, membelakangiku. Ia seakan bersandar ke dinding kios yang tak beratap.…Kulihat kulitnya putih pucat. Tubuhnya sudah kaku…Matanya terpejam. Kepala plontosnya mengingatkanku pada pentol korek api.

Petunjuk ketiga muncul ketika signifikansi “tato kucing” digambarkan dalam adegan massa yang berkerumun berkomentar bahwa mayat lelaki tersebut memiliki tato kucing hitam, persis di tempat tokoh ””aku” juga memiliki tato tersebut.

Sontak aku menatap arah yang sama. Tanpa sadar, kuraba pergelangan tanganku sendiri, persis tempat tato lelaki berada.

Lagi, lagi, penulis dengan cukup cerdik mengalihkan perhatian pembaca yang kurang perseptif dengan menjelaskan bahwa kucing hitam dipercaya sebagai pertanda nasib buruk, Hal ini sejalan dengan peristiwa di kehidupan tokoh “aku” ketika istrinya melihat seeokor kucing hitam tiga hari beruturut-turut melintas depan rumah. Paranoid, istrinya pun terus memikirkan perihal kucing hitam tersebut sampai kondisi fisiknya melemah. Akhirnya, ia keguguran.

Ini merupakan kontradiksi kedua yang muncul berdasarkan narasi tokoh “aku”, sekaligus petunjuk keempat. Sebenarnya istrinya keguguran atau tidak? Jika iya, mengapa tokoh “aku” berkata di awal kisah bahwa ia akan membeli bahan-bahan masakan untuk istrinya yang hamil muda?

Selanjutnya pembaca diajak menyelami kembali pergolakan emosi tokoh “aku” yang memikirkan nasib rumah tangganya. Istrinya keguguran, pikirannya juga terganggu karena kelewat sedih, ia terjerat hutang yang cukup memberatkan. Tetapi ia merasa mampu mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Bahkan, ia merasa perlu membedakan dirinya dengan lelaki yang bunuh diri itu, yang ia rasa lemah.

Sesulit apapun aku takkan menyerah seperti lelaki itu.

Lamunan tokoh “aku” pecah ketika polisi datang ke lokasi kejadian hendak menurunkan mayat tersebut. Massa yang berkerumun lagi-lagi berkomentar mengenai mayat lelaki itu. Di sini lah petunjuk terakhir yang paling gamblang diberikan oleh penulis mengenai identitas sebenarnya mayat lelaki tersebut.

“Kudengar kandungan istrinya lemah, makanya beberapa kali keguguran. …Utangnya banyak, terus gelap mata. Makanya bunuh diri. …Dia hampir tiap hari beli ceker padaku. Raut mukanya selalu tegang. Setiap ditanya, ia bilang istrinya ngidam sup ceker.”

Setelah the big reveal, cerpen pun ditutup dengan tokoh “aku” yang beranjak pergi sembari menggenggam pergelangan tangannya yang bertato kucing hitam.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa tokoh “aku” merupakan narator yang tak dapat dipercaya (unreliable). Ketika ia memikirkan mayat lelaki yang bunuh diri di sepanjang kisah, ia sebenarnya sedang melakukan refleksi terhadap kehidupannya sendiri yang diliputi banyak kesulitan sehingga menyebabkan ia mengakhiri hidupnya. Sampai di akhir kisah pun tidak dijelaskan mengapa tokoh “aku” sampai tidak sadar bahwa ia sudah meninggal, atau bahwa ia melihat tubuhnya sendiri yang sudah menjadi mayat. Bisa jadi karena pada saat kematiannya ia sudah begitu kalut terhadap kepahitan hidup hingga tak dapat berpikir jernih, bahkan saat ia menjadi arwah sekalipun. Yang jelas, sampai akhir kisah pun tokoh “aku” tetap menganggap ia dan mayat adalah orang yang berbeda. Justru kecerdikan penulis dalam mengesankan bahwa tokoh mayat dan “aku” adalah pribadi yang berbeda menyebabkan pembaca terperangkap dalam plot twist ini. Kontradiksi fakta yang muncul pun tidak benar-benar menunjukkan bahwa dua orang tersebut sebenarnya karakter yang sama, hanya bahwa tokoh “aku” tak sepenuhnya dapat dipercaya dalam menceritakan kisah. Menurut saya pribadi, Anggun Prameswari sudah cukup ciamik dalam mengemas cerita menggunakan teknik unreliable narrator sehingga sukses menipu pembaca. Saya terutama.

I. M. Hadjri

(ingin) aktif di berbagai media literasi seperti Goodreads, Kemudian, dan Wattpad

hubungi dia di idan.d.alhadjri@gmail.com

Iklan

6 thoughts on “Tato Kucing yang Tak (Sepenuhnya) Dapat Dipercaya

  1. Setuju sekali dengan gaya penceritaan yang ‘menipu’ pembaca dalam cerpen ini. Ulasannya cerdas. Tapi buat saya pribadi, cerpennya kurang memuaskan, ada banyakkesesuaian dan ketidaksesuaian yang dipaksakan.
    Salam.

    Disukai oleh 1 orang

  2. saya akan duduk sebangku dengan NamaPena, cerpennya sendiri kurang memuaskan saya, meski kalimat pertamanya begitu cantik.

    Saya ada pendapat sederhana untuk menjawab kenapa tokoh “aku” tidak mengingat kematiannya, mungkin itu karena ia merasa menyesal.

    Ia menyesal bunuh diri dan beranggapan jikalau dirinya masih hidup, berjalan ke pasar untuk membeli ceker ayam seperti biasanya, dan menemukan kejadian itu, ia akan mengutuk si pelaku bunuh diri tersebut.

    Seperti penyesalan setelah membuat keputusan yang salah, si pelaku pasti akan mengutuk dirinya sendiri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s