Cerita dalam Resep Masakan

Kontributor : Dayzky

Apresiasi untuk cerpen “Bolu Delapan Jam” karya Guntur Alam dalam Kompas, 23 Agustus 2015

Di Sumatera Selatan, sejak puluhan tahun yang lalu, bolu delapan jam telah menjadi makanan wajib di setiap rumah saat Idul Fitri. Termasuk jika ibu di rumah itu positif mengidap diabetes kering. Ia harus tetap membuat penganan yang sangat manis itu, bahkan memakannya, karena diperintah suaminya.

Mungkin benar cinta dan kesetiaan membuat orang rela melakukan apa pun termasuk mati. Namun, apakah benar cintalah yang membuat ibu seperti itu? Bertahun kemudian, aku tahu jawabannya.

Pertanyaan dramatik yang terselip di paragraf pertama itu sekaligus menjadi foreshadow kisah tentang kesetiaan dalam suatu perkawinan.

Kesetiaan yang menyakitkan sekaligus menakutkan, tapi romantis.

Cerita ini dituturkan melalui sudut pandang orang pertama—si anak. Ia memerhatikan cara ibunya membuat bolu delapan jam, sambil membantu sedikit-sedikit. Pada setiap langkah pembuatan bolu tersebut, terselip kesadaran si anak—yang baru diperolehnya kemudian—akan gejolak yang terpendam di dalam diri ibunya. Misalnya saja:

Kusadari sekarang, saat mengaduk adonan bola itu, ibu melakukannya tanpa ekspresi tapi penuh tenaga, seolah dia tengah menumpahkan segala amarah di dalam sana.

Tanganku gemetar ketika susu kental berwarna putih itu terjun seperti hujan ke dalam baskom adonan. Ibu mengaduknya. Cairan susu itu seperti airmata yang mengalir, tak akan berhenti sampai kering.

Ibu melapisi penutup dandang kukusan dengan kain. Aku tahu, kain itu dipasang agar uap air tak menetes ke permukaan bolu. Seperti hati ibu dan rahasia kepatuhannya pada ayah yang dia selubungi dengan kain hitam, tebal, pekat; pada bola matanya yang berkaca, ….

Mula-mula si anak dengan polosnya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan ibunya itu merupakan wujud kesetiaan. Ia tahu bahwa menyuruh ibunya memakan bolu itu sama saja dengan membunuh perempuan itu pelan-pelan. Tapi ia tidak punya keberanian mencegah itu. Ayahnya adalah raja di rumah dan berhak mengatur siapa pun dan memerintahkan apa pun, termasuk menggiring ibunya ke dalam peti mati.

Seminggu sebelum dilarikan ke IGD, barulah si ibu memberi tahu masa lalu di antara dirinya dan si ayah pada si anak. Rupanya ia menikah dengan si ayah karena terpaksa. Pada usia dua puluh tahun, oleh si ayah, ia dijebak, disekap, dan diperkosa semalam suntuk—delapan jam yang bagai neraka. Lalu ia hamil.

Maka pada pembacaan kedua menjadi jelas sebabnya si ibu hanya menggunakan dua puluh butir telur bebek, sedangkan dalam resep seharusnya dua puluh dua. Dua puluh butir itu mengingatkan pada usia si ibu saat kehormatannya diambil si ayah.

Ibu menghantamkan satu per satu telur bebek ke tepian baskom, membuat cangkang birunya retak, lalu cairan bening lengket dan kental menetes, kedua jempol tangan ibu menekuknya, memaksa putih dan kuning telur meluncur ke dalam baskom. Namun, pada telur kedua puluh, ibu tak menghantamkannya seperti sembilan belas telur lainnya, ibu justru meremas cangkang telur itu, membuat isi telur menetes-netes dari jarinya.

Simak juga kata si ibu.

Dua puluh butir memang pas. Kombinasi yang matang. Sedang. Mengkal. Begitu enak dikunyah. Terasa legit. Membuat ayahmu ketagihan.

Bahan lainnya dalam membuat bolu delapan jam adalah dua butir telur ayam. Tidak seperti pada kedua puluh telur bebek, si ibu memecahkan dua butir telur ayam di dalam adonan, dengan menekankan sarang tawon di ujung pengencot kayu. Barangkali dua butir telur ayam ini ibarat testikel si ayah—kejantanan yang telah merenggut kegadisannya dengan paksa, dan akibatnya membikin si ibu gemas.

Ada sebabnya pula berkali-kali dikatakan mengenai tekstur bolu yang rapuh, putih, cantik tapi mudah hancur. Bukan saja karena si ayah menyukai bolu yang demikian, tapi juga itu lagi-lagi mengingatkan pada sosok si ibu dahulu. Maka selera si ayah bisa dimaknai secara harfiah maupun kiasan. Kembali kita menyadari cara penulis merefleksikan setiap detail dalam pembuatan bolu delapan jam pada cerita tentang si ibu.

Bolu delapan jam memang seperti gadis muda yang rapuh, adonannya tidak boleh dikocok terlalu kuat karena tak boleh mengembang, tapi bila tak mengaduk dengan tenaga gula pasir di dalamnya tak bisa larut.

         …

Kata ibu, mengukus bolu delapan jam memang harus memakan waktu delapan jam. Tak boleh lebih, tak boleh kurang. Bila kurang, bolunya tidak kenyal, kalau kelebihan bolunya akan terlalu padat. Mungkin ibu benar, bolu ini seperti gelas kaca yang rapuh, terlalu kuat menggosoknya akan membuat gelas pecah, tapi jika tak digosok akan membiarkan kuman menggerogotinya tanpa ampun.

Si anak, yang semula membayangkan akan membuatkan bolu delapan jam juga untuk suaminya kelak, akhirnya berubah pikiran. Penganan itu ternyata menyimpan kenangan buruk, simbol aib yang melatari kelahirannya.

Dan aku tak akan pernah mau membuat bolu delapan jam untuk suamiku kelak.

Ya. Toh masih banyak resep lainnya yang tidak kalah pas untuk disajikan saat Lebaran. Resep bolu delapan jam mungkin akan berkata pada resep lidah kucing pelangi, resep klappertaart, resep kastengel, dan masih banyak lagi resep kue Lebaran lainnya: Ini ceritaku, mana ceritamu?[]

Dayzky

sedang menggiatkan membaca, menulis, dan menerjemahkan

Iklan

4 thoughts on “Cerita dalam Resep Masakan

  1. keren. cara meriviuwnya. (kapan saya kalo gini, Mah).
    ngasih liat apa yang nggak disadari pembaca pada umumnya. yang telur 2 buah itu, kalau tidak salah di cerpennya nggak disebutin maksudnya apa.
    sekian, mau makan bolu delapan jam dulu :9

    Suka

    1. Terima kasih, ini semua tidak lepas dari usaha kawan-kawan Apresiana Apresiani dalam mereview cerita sampai bertapa di atas genteng(?)

      Memang, dalam menelaah sebuah cerpen, kadang tidak cukup dengan hanyar nalar sendiri. Perlu pencerahan, dan alangkah baiknya kontributor-kontributor di sini mau berbagi hasil telaahnya kepada kita semua 🙂 <<<Udah macam calon legislatif aja -_-

      Bagi sini dong bolunya, saya juga mau 😉 /Dilempar nampan/

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s