Makan. Moral.

Kontributor : Muh. Iznaen Tanggapili

Apresiasi untuk cerpen “Kolak” karya Teguh Affandi dalam Republika, 5 Juli 2015

Judul cerpen ini membuat saya tertarik untuk membaca. Cuma satu kata memang: Kolak. Mengingat saya pribadi adalah orang yang gemar dengan makanan (seperti kebanyakan lainnya) maka saya bersemangat membacanya.

Di awal cerita, saya dibawa oleh penulis untuk kembali bernostalgia dengan hidangan khas bulan Ramadhan. Menu-menu yang ada di tiap daerah memang beda-beda, tetapi penulis dengan baik mengambil perbandingan yang umum—yang menurut saya familier bagi masyarakat pada umumnya—yaitu kolak dan kurma. Pertama saya diajak untuk berpikir mengapa kolak bisa menjadi hidangan khas bulan Ramadhan, padahal dalam hadis Rasulullah tentang cara berbuka puasa, ia tidak menyebutkan kolak. Wajar jikalau kurma menjadi menu favorit bagi mayoritas umat muslim, karena Rasulullah sendiri yang menganjurkannya, lantas bagaimana dengan kolak? Saya pun sepakat dengan penulis,

“… kolak hanya enak dimakan saat buka puasa.”

Cerpen ini menceritakan tentang seorang pegawai yang cukup kaya (saya katakan begitu karena dalam cerpen ini tidak disebutkan dengan jelas tentang apa pekerjaan yang dimiliki tokoh utama) yang tinggal bersama istrinya di perumahan mewah. Hampir tiap hari pada bulan puasa, ia disuguhkan hidangan kolak oleh istrinya yang bernama Indit. Meskipun acap kali memakan kolak untuk berbuka, si Aku tidak pernah bosan dan merasa enek. Hingga pada suatu waktu, Indit mengaku bahwa bukan dia yang membuat kolak. Sebenarnya hidangan itu ia beli di depan perumahan mereka. Yang menjual adalah seorang janda tua bernama Bu Rasdi.

Kata Indit, “Bukan hanya beli, tapi memberi rezeki.”

Di sini saya menangkap bahwa penjual kolak itu adalah wanita yang miskin.

Si Aku kemudian bertanya apakah dagangan Bu Rasdi laris manis atau tidak, dan Indit menjawab, “Seharusnya, rezeki kolak di Ramadhan semanis kuahnya.”

Saya mulai berpikir bahwa cerpen ini akan menceritakan suatu kisah yang melankolis. Tapi ternyata saya salah.

Pada keesokan harinya, si Aku mendapati lapak jualan Bu Rasdi. Ia memperhatikan cara berjualan Bu Rasdi yang menurutnya tidak higienis:

“Gorengan dibiarkan terjamah debu tanpa serbet atau koran penutup. Kolak-kolak disontak begitu saja di dalam jumbo besar. Dan tangannya. Duh, ini persoalan utama. Tangannya entah telah mendarat di mana saja, begitu saja mengambil adonan gorengan, memasukkan dalam minyak mendidih, membalik, dan tanpa dicuci bersih lantas mengambil beberapa sendok kolak untuk dibungkus plastik.”

Melihat kejadian ini, si Aku berpikir untuk berhenti memakan kolak dari jualan Bu Rasdi.

Beberapa menit kemudian, Bu Karin—salah satu penghuni kompleks yang juga sebagai sekretaris perusahan negara—membeli kolak Bu Rasdi dan kemudian diikuti oleh ibu-ibu lain yang tinggal di perumahan Casa Grande. Bu Karin memang memiliki jiwa sosial seperti istri si Aku, Indit. Si Aku senang melihat hal ini, ia lega mengetahui ibu-ibu di perumahan elit masih memiliki hati yang tulus untuk membeli jualan janda tua yang tidak higienis sambil bergumam,

“Tidak apa-apa Indit, kalau setiap hari kamu membeli kolak. Demi membuat janda tua itu punya rezeki. Apalagi, kalau semua ibu-ibu di Casa Grande membeli kolak itu dan kamu tidak, bisa jadi omongan. Toh tidak saban hari.”

Pada salah satu akhir pekan, si Aku dan Indit menghadiri acara buka bersama di rumah Pak Dirman—pejabat eselon tiga, suami Bu Karin, dan kebetulan atasan si Aku. Saat para tamu berbincang-bincang menunggu waktu berbuka puasa, Bu Rasdi datang membawa kolaknya. Si Aku—setelah melihat kejadian lampau—berniat untuk memberi tahu kepada Pak Dirman perihal kebersihan kolak buatan Bu Rasdi, namun niatnya urung ketika Pak Dirman berkata,

“Oya, kita akan buka dengan kolak. Kolak kali ini, kolak paling enak seantero Casa Grande. Saya sendiri, sudah cocok dengan rasa kolak ini.”  Kemudian diikuti sahutan bapak-bapak lain yang hadir saat itu, “Ya, ya! Mari nanti dicoba.”

Selama membaca, penulis seperti menantang saya untuk menebak-nebak akan seperti apakah akhir cerpen ini. Saya dibikin bingung dan penasaran dengan alur ceritanya. Deskripsi tokohnya sangat minim. Detail-detail tentang latar belakang tempat kejadian ditulis seadanya. Namun gerak-gerik tokoh enak untuk diikuti.

Baru setelah membaca dua kali, saya mulai merasakan pesan yang tersirat di dalam cerpen ini. Dalam cerpen ini, penulis mencoba menggambarkan perilaku manusia yang pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengikuti dan tunduk kepada yang lebih kuat. Seperti tokoh Bu Karin dan Pak Dirman. Lihat bagaimana jualan Bu Rasdi langsung diborong oleh ibu-ibu kompleks yang lain, setelah Bu Karin datang untuk membeli. Dan bagaimana si Aku menyetujui untuk mencicipi kolak Bu Rasdi setelah Pak Dirman menyatakan kesukaannya pada kolak tersebut. Padahal si Aku jelas-jelas tidak lagi menaruh minat lantaran persoalan kebersihan dari kolak Bu Rasdi.

Sama seperti keadaan di Indonesia kita ini. Banyak contoh masyarakat-masyarakat kita yang rela melakukan suatu hal yang tidak disukainya hanya karena takut kepada atasannya atau karena sedang mencari muka. Hal seperti ini tergambarkan pada cerpen Kolak.

Sebuah cerpen yang memadukan makanan dan moral serta menyajikan rasa manis minuman kolak dan kepahitan perilaku manusia. (Agustus, 2015)

Muh. Iznaen Tanggapili

rekayasaksara.wordpress.com

Iklan

2 thoughts on “Makan. Moral.

  1. saya suka konklusi akhirnya, menggugah selera untuk makan kolak, eh, merenungkan perbuatan baik yang kita lakukan apakah berdasarkan hati atau situasi?

    just what I’m talking about?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s