Alien Penjaga Toko Buku

Kontributor : Adhyasta D. Gaspard

Apresiasi untuk cerpen “Aku Alien” karya Iin Muawanah dalam Radar Malang, 7 Juni 2015

Cerpen “Aku Alien” karya Iin Muawanah yang dimuat dalam koran Radar Malang pada 7 Juni 2015, melukiskan tentang seseorang yang terlahir berbeda, baik keadaan atau bentuk fisiknya yang dikisahkan secara tersirat dalam cerita. Seperti pada kalimat pembuka berikut ini:

Aku adalah Alien, besi ini selalu melekat di antara kedua kakiku, di planetku semua orang memakai besi untuk bergerak, ada juga yang terbuat dari kayu.

Pembukaan yang langsung menjerat pembaca pada sesuatu yang menarik, kisah dari planet lain, tapi pada kenyataannya ini hanyalah kiasan dari seseorang yang terlahir berbeda dari orang lain. Cacat.

Selain daya cipta imajinasi tersebut, penggunaan sudut pandang orang pertama membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh Odi (tokoh utama dalam cerita ini). Seperti terlihat jelas dalam kalimat:

Aku tinggal bersama Bibi Ayut, adik dari ibuku, hanya dia yang tidak memandangku sebagai Alien. Ayah dan ibuku saja memilih pergi hanya karena malu mempunyai anak Alien, itu menurut pendapatku....

Sebuah gambaran jelas bagaimana keluarga pun, bahkan kedua orangtuanya meninggalkan Odi karena ia cacat. Hanya bibinya yang masih memperlakukan Odi selayaknya manusia, yang butuh kasih sayang dan perlindungan. Ada pula Bu Reni pemilik toko buku yang tetap mempekerjakannya meski memiliki kekurangan, sementara orang lain bertindak sebaliknya. Seperti yang terlukis jelas dalam kalimat berikut:

Aku hafal dengan tatapan mereka, kasihan, benci, dan jijik dengan cara mengernyitkan dahi mereka ke atas.

Cerpen ini memberi kesempatan pada pembaca untuk melihat dari sudut pandang orang cacat, yang kebanyakan dianggap berbeda, dijauhi, dan dipandang menjijikan. Padahal mereka tidak ada bedanya dengan kita, manusia, punya pikiran dan hati, yang akan merasakan sakit jika diperlakukan berbeda.

Jika ditarik lebih jauh, hal ini juga merefleksikan dunia dewasa ini, di mana manusia dinilai dari kesempurnaan fisiknya, status sosial, dan kekayaan. Penilaian mereka berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan, bukan pada hal-hal yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa. Akibatnya, hati mereka mati. Tidak ada lagi pertimbangan apakah itu benar atau salah, yang ada hanyalah apakah itu menguntungkan atau tidak.

Hal lain yang cukup menarik dari cerpen ini adalah, ending-nya yang sedikit sulit untuk dipahami, karena penulis memberikan kebebasan pada pembaca untuk menentukan konklusi dari cerita tersebut.

Odi yang sedang membersihkan kamar bibinya, menemukan sebuah rahasia di dalam kotak kardus. Rahasia sebenarnya tentang hubungan antara ia dan bibinya, juga sebuah kenyataan pahit dibalik itu semua. Penulis memberikan petunjuk-petunjuk dalam adegan tersebut, dan diakhiri dengan sebuah verifikasi tentang petunjuk terakhir.

Penulis seakan tidak ingin cerita tersebut berakhir menurut versinya, atau keinginannya. Ia menyerahkan kesimpulannya pada pembaca, juga secara tak langsung menarik minat untuk mengomentari cerpen tersebut.

Kesimpulannya, cerpen ini memberikan sebuah pengalaman dari sudut seorang manusia cacat, yang dibumbui dengan unsur sastra dan imajinasi yang memikat, serta simbol-simbol yang memberikan kepuasan dari pembacaan sebuah cerpen.

Menarik sebuah realitas dan mengolahnya dengan kedalaman kontemplasi sehingga menjadi karya utuh yang dapat dinikmati, dipelajari, dan direnungkan oleh pembaca adalahtugas penulis. Tapi pembaca yang diam saja setelah melihat kata terakhir dari sebuah karya, mungkin ia bukan manusia, tapi Alien.

Adhyasta D. Gaspard

adhyasta44@gmail.com

Iklan

13 thoughts on “Alien Penjaga Toko Buku

  1. Saya terus terang lemah sama tipe cerita seperti ini, yang fokus pada disabilitas karakter dan kehidupannya sehari-hari, mengajak pembaca untuk ikut berempati pada karakter sehingga di kehidupan nyata bisa lebih simoatik terhadap orang-orang yang memiliki kondisi yang sama.

    Apa ya, cerita
    seperti ini potensial mengubah paradigma masyarakat tentang orang-orang yang termarjinalkan karena kecacatan fisik. Salut untuk penulisnya. Salam 🙂

    Suka

    1. Wah wah, saking lemah dan begitu tersentuhnya anda, sampai tak sadar ada typo di dalam komennya, hihihi (jadi mirip jin tawanya -_-).

      Memang, kadang orang secara tak sadar telah memandang sesuatu dalam konotasi yang relatif gelap hanya karena hal itu “Berbeda”.
      Semoga, Tuan bisa tercerahkan dengan review ini. Kita doakan semoga penulisnya mampu melahirkan karya-karya lainnya yang lebih unggul daripada karya sebelumnya.

      Salam Apresiasi 🙂

      Suka

  2. Tampaknya saya kenal dengan penulis cerpen “Aku Alien” ini. Kalau tidak salah, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Widyagama Malang. Itu pun kalau mereka orang yang sama. Kalaupun berbeda, aku yakin mereka sama-sama cantik.

    Suka

    1. aku juga mengalami hal yang sama, karena ending-nya memang agak kurang terang. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa kupikirkan, yaitu;
      1. Odi sebenarnya anak dari Bibinya, hasil hubungan terlarang dengan suami kakaknya. Asumsi klise.
      atau
      2. Sebenarnya bibi Odi adalah laki-laki, ayahnya yang menyamar jadi adik dari ibu Odi, mengingat ia selalu menolak cinta laki-laki, dan penemuan KTP serta kesamaan darah. Tapi ini belum pasti benar.

      Bagaimana denganmu?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s